Gunung Argopuro Ditutup untuk Pendakian

Terakota.id – Para pendaki yang hendak menaklukkan puncak Gunung Argopuro dalam waktu dekat ini lebih baik membatalkan niatnya. Sebab, gunung yang berada di kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang ini ditutup sementara untuk aktivitas pendakian

Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BB KSDA) Jawa Timur selaku pengelola kawasan, menutup aktivitas pendakian di Gunung Argopuro sejak 10 Agustus. Sebab, banyaknya penumpukan sabana kering yang rawan terbakar saat musim kemarau ini.

Kepala BB KSDA Jawa Timur, Nandang Prihadi mengatakan sabana kering ibarat tumpukan bahan bakar yang mudah terbakar oleh suhu panas ataupun kelalaian manusia seperti putung rokok dan sisa api unggun.

“Kondisi di Gunung Argopuro akan menyulitkan pendaki untuk mencari tempat berlindung jika ada kebakaran,” kata Nandang.

Penutupan aktivitas pendakian itu sebagai antisipasi potensi terjadinya kebakaran. Sekaligus meminimalisir bahaya yang bisa dialami oleh para pendaki jika api berkobar di antara sabana kering. Sepanjang tahun ini memang belum pernah ada kebakaran di kawasan Gunung Argopuro.

Peristiwa kebakaran di Gunung Argopuro terakhir terjadi pada 2015 silam. Saat itu ada beberapa pendaki yang terjebak di antara kobaran api. Beruntung saat itu semua bisa dievakuasi oleh tim penyelamat sehingga tak sampai ada korban jiwa.

Musim kemarau menyebabkan suhu dingin ekstrim terasa di puncak gunung. Fenomena embun es pun sering dijumpai, termasuk di Gunung Argopuro. Sebaliknya, terik matahari terasa menyengat di siang hari. Sabana kering layaknya tumpukan bahan bakar yang mudah tersulut.

BB KSDA Jawa Timur mengimbau pada para pendaki agar mengurungkan rencananya mendaki ke Argopuro saat perayaan kemerdekaan Indonesia. Saat peringatan 17 Agustus memang banyak pendaki yang menggelar upacara bendara di gunung setinggi 3.088 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

“Kemungkinan besar tidak ada kegiatan peringatan kemerdekaan di Gunung Argopuro karena memang statusnya ditutup,” ucap Nandang.

BB KSDA Jawa Timur tak bisa memastikan kapan izin pendakian akan kembali dibuka. “Kalau sabana sudah mulai basah, nanti pendakian akan dibuka lagi. Mungkin saja itu September, tapi tergantung kondisi nantinya,” ujar Nandang.

Keanekaragaman Hayati

Merak, salah satu satwa yang bisa dijumpai di kawasan Gunung Argopuro (IG: @gunung_argopuro)

Gunung Argopuro secara administrasi masuk wilayah kabupaten Probolinggo, Situbondo, Bondowoso dan Jember, Jawa Timur. Tiap bulan ada 300 – 500 pendaki mengajukan izin pendakian ke gunung yang memiliki tiga puncak itu.

Gunung Argopuro masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang dengan luas seluruh kawasannya mencapai 14.177 hektare. Kawasan ini memiliki beberapa tipe ekosistem antara lain , hutan hujan tropis yang terletak pada ketinggian 1.200 – 1.900 mdpl. Ada pula ekosistem hutan cemara pada ketinggian 2.000-3.000 meter mdpl.

Serta ekosistem sabana yang terdapat di alun-alun besar sikasur, alun-alun kecil, dan alun-alun lonceng. Ekosistem sabana muncul akibat kerusakan hutan yang terus menerus karena kebakaran. Satu lagi adalah ekosistem rawa atau danau dalam kawasan yang terpusat di sekitar Danau Taman Hidup dan Danau Tunjung.

Keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang juga ditandai dengan keberadaan beberapa jenis satwa yang masih bisa dijumpai. Seperti Rusa Timor (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus scrofa dan Sus verocosus–verocosus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing Hutan (Felis bengalensis), Merak (Pavo muticus) dan lain sebagainya.

Tinggalkan Pesan