Gunawan Maryanto : Beban Mental Memerankan Wiji Thukul

Melawan Dominasi Industri Pemutaran Film

Antusiasme untuk menonton film Istirahatlah Kata – kata di Malang (Muntaha Mansur/Terakota.id)

Awalnya tak ada jadwal pemutaran film Istirahatlah Kata-kata di Malang. Pemutaran di Jawa Timur hanya dilangsungkan di Surabaya dan Mojokerto. Lantas sejumlah pegiat dan pecinta film membuat jajak pendapat melalui media social. Jajak pendapat dimotori Melati Noer Fajri seorang sineas asal Malang yang kecewa film berkualitas ini tak diputar di Malang.

Saat jajak pendapat terkumpul 500 suara, 300 lebih diperoleh melalui dunia maya selebihnya memilih langsung. Hasil jajak pendapat ini diteruskan ke produser Yulia Evina Bhara dan cinema 21. Setelah itu, jaringan bioskop cinema 21 bersedia memutar film Istirahatlah Kata-kata. Tiket dijual selama 24 jam, hasilnya terjual 787 tiket terbagi dalam lima kali pertunjukan.

“Kita sewa studio untuk bisa memutar film cultural ini,” kata Melati. Melati mengkoordinasi pemutaran film bersama. Gerakan ini, katanya, dilakukan karena selama ini jaringan bioskop memutar film yang jelas berpotensi mengundang penonton. Sedangkan film karya Yosep Anggi Noen dianggap tak laku, dan sepi penonton di Malang. Ternyata antusias penonton membludak.

Menurut Gunawan Maryanto alias Cindil, gerakan yang sama dilakukan di Jambi. Kini, anak muda di Jambi menggalang dukungan untuk memutar di jaringan bioskop cinema 21 pada 10 Februari 2017. Bahkan, warga Tegal yang selama ini sering berinteraksi dengan Wiji Thukul juga meminta dilakukan pemutaran. “Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Ayo sewa studio seperti di Malang,” katanya.

Manajer bioskop Mandala 21, Bambang Wibisono mengaku jadwal pemutaran disusun oleh manajemen pusat. Termasuk pergantian film dan waktu pemutaran. Sedangkan dirinya hanya melakukan pemutaran. Penyelenggara nonton bareng, katanya, berkoordinasi dengan manajemen cinema 21. “Pemutaran bisa mendadak, sewaktu-waktu berubah,” ujarnya.

Dua hari sebelum nonton bareng, bioskop Mandala 21 memutar film ‘Istirahatlah Kata-kata’ secara regular. Namun sepi penonton, pada hari pertama dengan empat kali pertunjukan hanya terisi 49 kursi. Sedangkan hari kedua dalam empat kali pertunjukan terbeli 85 tiket.

“Reguler sepi,” katanya. Sementara nonton bareng ini menggeser sejumlah film popular. Selama satu bulan ini, dua film diputar terus menerus. Yakni film resident evil dan cek toko sebelah. Sekitar 70 persen dari 166 kursi, terisi.

Pemutaran film Istrirahatlah Kata-kata secara regular sepi, menurut Melati, karena  tak banyak yang tahu dengan jadwal pemutaran itu. Anak muda di Malang justru mengetahui dari media sosial dengan acara nonton bareng yang pemutaran hanya sehari pada 2 Februari 2017.

Sementara saat nonton bareng penonton membludak, ratusan orang antre untuk mendapat tiket. Mereka berasal dari beragam latar belakang dan pendidikan. Seperti ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, aktivis gerakan sosial dan pegiat film.

Sebagian penonton mengaku puas dengan peran Gunawan Maryanto yang alami dan menjiwai karakter Wiji Thukul. Namun, ada juga yang menilai cerita dalam film ini tak menunjukkan sosok Wiji Thukul yang terkenal menggerakkan dan memobilisasi aktivias dan mahasiswa melalui kata-kata.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini