Gunawan Maryanto : Beban Mental Memerankan Wiji Thukul

Sudah Maksimal, Cindil tak Puas

Gunawan Maryanto berbaur dengan para penonton saat nonton bareng di salah satu bioskop di Kota Malang (Muntaha Mansur/Terakota.id)

Kedatangan Cindil lebih dulu ke lokasi, menjadi modal utama untuk bermain peran secara maksimal. Meski dia mendapat tantangan, dan ada beban mental memerankan sosok Wiji Thukul yang fenomenal. Terutama beban mental terhadap keluarga Wiji Thukul, agar aktingnya tak menambah luka bagi keluarga.

“Saya belum pernah bertemu Mbak Sipon sampai sekarang. Ketemu Fitri dan Fajar setelah produksi. Saya sengaja menghindari agar tak bias. Lihat foto dan melakoni seperti dalam teater,” katanya.  Cindil juga mengaku terbantu tim produksi telah melakukan riset mengenai gerak-gerik, karakter dan mimik Wiji Thukul.

“Saya tak langsung menanggapi tawaran Anggi (Sutradara). Saya ingin tahu naskahnya dulu. Jangan sampai malah menambah beban bagi keluarga,” katanya. Cindil juga mengenal Wiji Thukul lewat karya-karya puisinya. Pada 1990-an, Wiji Thukul sering membacakan puisi di dalam kampus. Saat itu, dia tengah menempuh pendidikan di FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wiji Thukul menjadi sosok penyair yang dikagumi. Cindil juga sempat melihat langsung bagaimana Wiji Thukul berorasi memberikan dukungan dan membela para pedagang saat ditertibkan petugas saat berjualan di depan gedung kesenian di Pasar Beringharjo Yogyakarta pada 1995.

Kapasitas Cindil bermain peran tak perlu diragukan, dia sudah akrab dengan dunia seni peran sejak Sekolah dasar (SD). Mulai kelas enam SD, dia tergabung dengan teater anak-anak berguru dengan guru seni peran asal Belgia Rudi Corens. Dia belajar berakting dengan dosen tamu Institut Seni Yogyakarta itu sampai SMA.

“Setelah itu bergabung dengan teater garasi FISIPOL UGM. Sudah 23 tahun aktif di teater,” tuturnya. Cindil sudah bermain peran dalam delapan film, sebagian besar film garapan Garin Nugroho. Antara lain film berjudul Nyai, Guru Bangsa, Toilet Blues, Aku Jatuh Cinta, Gangsar, Turis Romantis, Aku dan kau Cinta Indonesia.

Gaya berbicara Wiji Thukul yang cadel atau pelo dilakoni Cindil dengan latihan lebih dulu. Selain itu, gigi palsu yang dikenakan membantu memudahkan berperan dengan gaya cadel. Gigi palsu menganggu artikulasi.

Sebagai aktor dia mengaku tak puas dengan aktingnya karena minimnya riset. Namun, sebagai proses bersama sebuah tim produksi film ini merupakan hasil terbaik dan maksimal yang dilakukannya. Produksi film di Indonesia, katanya, dengan bujet terbatas tak bisa melakukan riset lama. Naskah sudah siap menjelang pengambilan gambar. “Jika lebih lama riset hasilnya pasti beda,” ujarnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini