Goyang Lidah Soto Pak Koya

Awal berjualan soto,Pak Koya bermodal tiga ekor ayam, setiap ekor seharga Rp 250. (Terakota/Ely Hikmatul Maulidiah).
Reporter : Ely Hikmatul Maulidiah

Terakota.id-Soto menjadi salah satu kuniler paling popular di Nusantara. Sejumlah daerah di Nusantara memiliki ragam makanan olahan daging atau ayam bernama soto. Masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas. Salah satunya soto khas Probolinggo, ada soto Pak Koya yang terkenal. Pas untuk sarapan, sembari ditemani minuman hangat.

Untuk mencicipi Soto Pak Koya silahkan mampir di Jalan Mayor Jenderal Sutoyo, RT 3 RW 2 Patokan, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Saban hari tak pernah sepi pengunjung. Sejak pagi mulai pukul 06.00 sampai pukul 21.00 selalu ramai pembeli.

Soto Pak Koya dikelola turun temurun, kini telah dikelola generasi ketiga. Mereka penerus usaha berjualan soto. Pemilik Soto Pak Koya, Hj. Khaironi Mardiyah menuturkan awal berjualan soto. Berjualan soto sejak1989. Dirintis oleh Pak Koya, yakni kakek Umi Mardiyah.

Ia mewariskan usaha berjualan soto. Awalnya menyewa sebuah rumah di tepi jalan. Namun, kini sudah menetap di rumah sendiri.  “Kakek terkenal dengan nama Pak Koya karena soto ada taburan koya” ujarnya.

Awal berjualan soto, katanya, Pak Koya bermodal tiga ekor ayam, setiap ekor seharga Rp 250. Lantas jumlah ayam yang diolah terus bertambah menjadi lima ekor, sampai 20 ekor ayam. Ada resep khusus yang menjadi andalan Pak Koya, agar masakannya sedap. Yakni menggunakan tumbukan pohong atau ketela pohon rebus yang dicampurkan ke dalam soto.

Taburan koya, terbuat dari parutan kelapa yang disangrai dan ditumbuk halus menjadi bumbu pelengkap. (Terakota/Ely Hikmatul Maulidiah).

Tak lupa taburan koya, terbuat dari parutan kelapa yang disangrai dan ditumbuk halus menjadi bumbu pelengkap. Campuran koya ini yang menjadi pembeda dengan soto lamongan yang bubuk koya terbuat dari kerupuk yang ditumbuk halus.

Sedangkan setiap porsi soto terdiri dari irisan lontong atau nasi, irisan dading ayam, irisan telur rebus, ketela, tauge,dan koya. Serta menggunakan kuah soto kental dengan campuran santan. Yang unik, katanya, soto Pak Koya hanya menggunakan daging ayam kampung betina.

 “Ayam babon (betina), kan gemuk-gemuk. Kalau jantankurus dan dagingnya item,” katanya. Umi Mardiyah enggan menggunakan ayam potong atau ayam boiler lantaran dagingnya terlalu empuk. Sedangkan kaldu yang dihasilkan tidak seenak dibandingkan dengan ayam kampung.

“Tak menentu kapan ramai, bisa dari pagi, siang saja atau dari pagi hingga sore,” katanya. Mardiyah yang akrab disapa Umi Mardiyah memperkerjakan enam pegawai. Para pegawai ini merupakan keluarga sendiri, mereka bekerja dibagi shift. Sedangkan khusus malam hanya dua orang.

Harga satu porsi soto cukup ramah di kantong,,dibanderol Rp10 ribu. Jika ingin menambah potongan daging ayam lebih banyak, cukup membayar Rp 20 ribu. Sedangkan jika ditambah jeroan Rp 15 ribu. Sebagai pelengkap silahkan pilih, kerupuk udang sesuai selera sebagai pelengkap makan soto.Dalam sehari, omset berjualan antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.

Salah seorang pelanggan asal Karangbon, Probolinggo M. Rofik, 25 tahun mengaku ketagihan dengan soto di Pak Koya. Sehingga ia kerap melahap soto khas Kraksaan tersebut. “Soto di sini lebih enak dibanding soto yang lain,” ujarnya.

Soto Pak Koya terus berkembang, kini membuka cabang baru di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Sehingga warga Kota Probolinggo tak perlu jauh-jauh ke Kraksaan untuk mencicipi gurihnya soto Pak Koya. Bagaimana? Tertarik untuk mencoba kuliner legendaris dari Kota Kraksaan? Silahkan datang sebelum kehabisan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini