Gombloh, Lingkungan dan Fenomena Sosial

Foto : memoriesofgombloh

Terakota.id–Hari ini, tepat 33 tahun lalu penyanyi Gombloh berpulang. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Sutorejo, Surbaya sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tembok, Surabaya.  Putranya, Remy berusia empat tahun saat itu berlari memeluk keranda Bapaknya. “Pak, bangun. Banyak orang. Remy ingin bermain bersama Bapak,” kata Remy, seperti dikutip dari laman Facebook Memories of Gombloh.

Wiwiek memeluk  dan menimang Remy kecil, Remy belum sepenuhnya mengerti arti kematian. Jenazah Gombloh diantar ribuan pelayat menuju TPU Tembok. Jalanan Surabaya macet dan penuh sesak, masyarakat kota Pahlawan tumplek blek mengiringi jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Gombloh dikenal dekat dengan siapa saja, beragam latar belakang, pendidikan dan struktur sosial.

Wiwiek sesenggukan di hadapan makam. Jenazah Gombloh tertutup tanah. Tiba-tiba seorang perempuan memeluk dari belakang, serta menangis tersedu-sedu. Dialah Titi Qadarsih, kawan baik Gombloh, rekan duet dalam lagu ‘Apel’. Seharusnya malam itu, ‘Apel’ tayang di Selecta Pop TVRI.

Titi Qadarsih bersedih. Ia merengkuh Remy, mencium pipinya dan berbisik, “nak, Bapakmu orang baik….” Gombloh meninggal karena sakit paru-paru yang menggerogoti rubuh kurusnya dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Darmo, Surabaya.

Titi Qadarsih, teman duet Gombloh tegah berdoa di depan pusara mendiang Gombloh. (Foto : memoriesofgombloh).

Musisi yang mengangkat tema sosial, nasionalisme dan femomena masyarakat bernama asli Soedjarwoto Soemarsono. Lahir di Jombang 14 Juli 1948, anak ke empat dari enam bersaudara dari pasangan Slamet dan Tatoekah. Tumbuh dari keluarga sederhana, Ayahnya Slamet bekerja berjualan ayam potong di pasar tradisional Jombang.

Usai menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 5 Surabaya, Gombloh melanjutkan pendidikan di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Namun, hanya bertahan kuliah di ITS selama dua tahun. Kuliah, dilakukan untuk membahagiakan dan menuruti kemauan orang tua. Namun, bertentangan dengan keinginannya.

Memilih Jalur Bermusik

Gombloh kerap membolos, memilih menekuni hobi bermusik, dan berpetualang ke Bali. Bertemu seniman dan ia mendapatkan kehidupan dan lingkungan yang didambakan. Hidup tenang, jiwa bebas, tanpa dikekang dengan rutinitas perkuliahan.

Gombloh mengawali debut bersama Lemon Tree’s Anno ’69 grup band beraliran art rock/orchestral rock. Gaya bermusik grup yang pernah beranggotakan musisi Leo Kristi dan Franky Sahilatua ini dipengaruhi band mancanegara seperti ELP dan Genesis.

Gombloh memiliki andil besar dalam menciptakan lagu di grup musik ini. Gombloh terinspirasi dari keseharian rakyat kecil. Lihat saja sejumlah lagu berjudul Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, dan Selamat Pagi Kotaku.

Dengan gaya khas, rambut dikepang, kumis tak teratur dan mengenakan topi. Sembari memetik gitar akustik senantiasa menjadi gaya bermusik Gombloh. Gombloh juga menulis lagu tentang kondisi alam dan lingkungan. Antara lain Berita Cuaca, Lestari Alamku, dan Ranu Pane.

Gombloh juga mengangkat tema nasionalisme sebut saja lagu Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, BK, dan Kebyar Kebyar.

Selain itu, Gombloh juga menciptakan lagu cinta dengan segala kelucuan. Menggunakan lirik puitis nan romantis. Gombloh memilih kata-kata yang terkesan ‘nyeleneh’ dalam lirik lagu yang diciptakan. Misalnya lagu Lepen yang bermakna sungai dalam bahasa Jawa, tetapi yang dimaksud Lepen adalah ‘lelucon pendek’.

Kekayaan imajinasi seorang Gombloh selain dapat dilihat dari beragamnya tema yang dipilihnya, juga dari bahasa yang ia gunakan dalam setiap karyanya. Selain bahasa Indonesia, Gombloh bersama Lemon Tree’s juga pernah pula merilis album berbahasa Jawa yang kemudian diberi judul Sekar Mayang.

Setelah melahirkan sepuluh judul album bersama Lemon Tree’s, Gombloh memutuskan bersolo karir sejak 1983. Gombloh meluncurkan album Gila sebagai album solo perdana 1983. Setahun berselang, Gombloh kembali meluncurkan album 1/2 Gila. Pada 1986, album ketiga hadir bertajuk Apel. Pada tahun yang sama, Gombloh kembali mengeluarkan album Semakin Gila. Album solo terakhirnya Apa Itu Tidak Edan dirilis tahun 1987.

Semenjak bersolo karir, Gombloh mengedepankan album bergaya pop ringan dan dengan lirik sederhana dan jenaka. Kkaryanya disukai masyarakat dan namanya populer.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini