Goenawan Mohammad Berbicara Seni dan Sejarah

Terakota.id–Pendiri majalah Tempo dan pegiat seni di komunitas Salihara, Goenawan Mohamad menyangkal keterlibatannya dengan CIA pada masa tragedi berdarah 1965. Dia tak terima dikaitkan dengan The Central Intelligence Agency (CIA), dan menilai tuduhannya sesat dan tanpa dasar.

“Saya tidak pernah menerima dana dari CIA,” kata Goenawan dalam diskusi ruang tengah dalam ASEAN Literary Festival di Jakarta akhir pekan lalu.  Namun, dia tak meladeni tuduhan itu. GM juga tak pernah menggunakan catatan pinggir (Caping) majalah Tempo untuk membela diri.

“Bagi yang percaya silahkan. Banyak fitnah itu lagu lama,” katanya. Dia menilai tuduhannya konyol dan tak bertanggung jawab.  Untuk itu, dia berharap masyarakat agar kritis tak cepat puas setelah menerima informasi. Masyarakat, katanya, seharusnya selalu risau dan gelisah dengan ketidak adilan.

Goenawan juga mengaku tak mengetahui peristiwa tragedi 1965 secara langsung karena saat itu tengah menempuh pendidikan di luar negeri. Sementara, hubungannya secara pribadi dengan para aktivis Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) tergolong hangat dan akrab. Seperti hubungannya dengan Pramoedya Ananta Toer.

“Setelah bebas dari pengasingan di Pulau Buru dia sering ke Utan Kayu. Kami beda generasi,” ujarnya. Goenawan mengenal Pram sejak menjadi mahasiswa, saat itu Pram dikenal sebagai sastrawan yang popular.  Dia juga menampung tiga orang anggota Lekra bekerja di majalah  Tempo.

Sejak kecil, Goenawan menyukai dunia menulis. Minat menulis itu ditunjukkan dengan aktivitas di dunia sastra dan jurnalistik dengan mendirikan majalah Tempo.  Menulis menjadi kebutuhan bagi Goenawan.  Selama masa Orde Baru banyak hambatan yang dialami para jurnalis, bahkan ancaman breidel menjadi hantu.

Karena dianggap kritis, Tempo dibreidel. Selama itu, kata Goenawan, Tempo ditolerir dalam batas tertentu. Saat Orde Baru, media dilarang kritis terhadap pemerintah. Sedangkan pemerintah juga memiliki media massa antara lain koran angkatan bersenjata dan suara karya.

Baca juga :  Bertahan di antara Hiruk-pikuk Perkembangan Kehidupan

“Represi terhadap media tak hanya terjadi saat orde baru. Muktar Lubis dihukum sembilan tahun karena  Indonesia Raya melaporkan pernikahan Presiden Sukarno dengan Hartini.

Menanggapi kovergensi media di era digital, Goenawan menilai jika terjadi perubahan tetapi tak besar. Perubahan dalam kecepatan distribusi, dan produksi. Era ini ditandai dengan senjakala media cetak. Koran terus menyusut, buku juga mengalami hal yang sama.

Namun, jurnalisme terus mengalami perkembangan. Dulu, katanya, tak banyak laporan investigasi. Selain itu, audio visual juga tak berkembang. Audio visual, katanya, penting karena dibutuhkan masyarakat.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini