Gerakan Petani Muda Tangerang Menginspirasi Mahasiswa dan Pelajar

Para petani muda bercocok tanam sayuran kangkung di lahan sekitar Bandara Soekarno Hatta. (Foto : dokumen pribadi).

Terakota.id–Bertubuh gempal, berkulit gelap Bagas Suratman tangkas meladeni pertanyaan para mahasiswa dan pelajar di Universitas Merdeka Malang, Kamis 14 Februari 2019. Bagas hadir menjadi pembicara dalam diskusi Get Inspired. Diikuti sekitar 350 pelajar dan mahasiswa. Bagas menjadi salah satu inspirasi generasi milenial. Selama 10 tahu terakhir, lelaki asal Klaten, Jawa Tengah ini menggerakkan anak muda bertani menjaga ketahanan pangan.

“Saya dulu benci pertanian. Bertani tak gaul. Bersekolah saya memilih sekolah STM jurusan Teknik Bangunan,” katanya. Usai lulus sekolah, katanya, Bagas muda luntang-lantung dan tak mmeiliki pekerjaan tetap. Ia lantas hijrah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Mulai bekerja sebagai kenek metro mini, kuli bangunan, dan porter.

“Susah cari kerja. Kerja seadanya,” ujarnya. Saat muda, ia dikenal sebagai pemuda yang nakal suka mabuk-mabukan dan berjudi. Setelah menikah dan memiliki seorang anak, Bagas berubah. Sekaligus menjadi titik balik untuk bekerja lebih giat. Jika terus-terusan mabuk-mabukan dan berjudi, keluarga yang menjadi korban atas perbuatannya.

“Saat melintas pulang kerja porter melihat kebun sayur,” ujarnya. Sehingga di sela bekerja sebagai porter di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, ia berjualan sayur mayur ke pasar di Jakarta. Aneka sayur bayam dan kangkung menjadi primadona warga Jakarta. Tak disangka permintaan terus meningkat.

Bagas Suratman memetik melaon untuk pelanggannya. (Foto : dokumen pribadi).

Perputaran uang cepat, volume permintaan sayuran juga tinggi. Keuntungan berdagang sayuran dikumpulkan, hingga ia bisa kredit mobil mengangkut sayur. Tak hanya berdagang, ia lantas menyewa lahan tidur di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. ”Bayam dan kangkung itu sayuran sejuta umat,” ujarnya.

Memulai dengan lahan seluas 3 ribu meter persegi, Bagas menanam sayuran secara bertahap, sehingga bisa panen setiap hari. Pertumbuhan tanaman kangkung relatif singkat 24 hari dan bayam 18 hari. “Pasar sudah terbentuk. Sehingga budidaya tanaman sayur disesuaikan kebutuhan,” ujarnya.

Bagas selain bertani juga bertindak sebagai marketing handal. Ia memotong mata rantai perdagangan sayuran dari petani langsung ke pasar. Selain dijual di pasar sayur, sebagian sayur kualitas premium dijual ke pasar ritail yang berharga tinggi.

Ia juga bekerjasama dengan petani lain untuk mengembangkan pasar dan memasarkan hasil pertanian. Sebanyak 40 orang terdiri dari anak jalanan dan warga sekitar bekerja mengolah lahan bertani sayuran. “Total kini mengelola 26 hektare,” ujarnya.

Sedangkan 15 ibu-ibu di sekitar Tangerang yang bekerja di bagian pengemasan. Bertugas membersihkan dan mengikat sayuran. Ia berharap aktivitasnya bermanfaat bagi lingkungan di sekitar. Seperti ibu ibu yang bekerja mengikat Habis usai melakukan pekerjaan domestik yakni memasak dan mencuci baju.

Mereka bekerja mulai pukul 8.00-12.00 WIB. Setiap hari rata-rata mendapat penghasilan antara Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Mereka bekerja dengan sistem borongan, tergantung kecepatan mengikat sayur.

Anak Jalanan jadi Petani Muda  

Bagas menggandeng anak jalanan atau preman untuk bertani, lantaran mengingat rekam jejak dirinya. Ia bercermin, dulu suka mabuk-mabukan dan berjudi. Sehingga ia ingin mengentaskan anak jalanan agar lebih berarti dan tak pandang sebelah mata. Anak jalanan bisa berkreasi dan bekerja termasuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Tak sulit bagi Bagas untuk mendekati anak jalanan. Ia bisa diterima dengan tangan terbuka, anak jalanan juga mengutarakan niat untuk bersungguh-sungguh belajar pertanian. Namun, mereka harus bekerja keras, berkeringat untuk menghasilkan kerja yang terbaik.

Bagas Suratman awalnya dikenal pemuda yang nakal suka mabuk-mabukan dan berjudi. (Terakota/Eko Widianto).

Bagas bersemangat untuk mencetak petani muda, lantaran kini sebagaian petani telah berusia lanjut. Sedangkan proses regenerasi petani juga lambat. Banyak anak muda yang tak tertarik bertani. Mereka memilih meninggalkan desa dan bekerja di kota.

“Indonesia akan maju jika teknologi pangannya bagus,” katanya. Bagas juga mendorong petani muda yang dibina untuk mengembangkan pertaniannya. Termasuk bisa mengembangkan pertanian di kampong asal. Bagas mendorong mereka mandiriJ

Kini, empat petani muda mengembangkan pertanian. Mereka mandiri, mengumpulkan upah untuk modal usaha. Mereka tekun, katanya, dan memiliki pengalaman bercocok tanam. Mereka tersebar di sekitar Tangerang.

“Memang jadi kompetitor, tak masalah. Bersaing dengan sehat. Rejeki sudah diatur Tuhan. Rejeki tak akan tertukar.”

Kini khusus sayuran omsetnya sekitar Rp 15 juta. Bagas juga bekerjasama dengan sejumlah petani di Jawa Timur dan Pekan Baru untuk memenuhi kebutuhan pasar ritail di Jakarta. Terutama untuk memasarkan buah labu dan melon petani. Ia juga berpesan agar petani menjaga kualitas tak hanya sekadar mengejar untung. Sesuai falsafah jawa “rupo gowo rego” artinya rupa sesuai harga.

[Bagas menargetkan untuk segera membuka peluang ekspor. Pemerintah, katanya, membuka peluang ekspor sebulan 250 ton untuk labu jenis butternut dan melon. Generasi muda, katanya, bisa digerakkan untuk meningkatkan ekspor produk pertanian.

Data Kementerian Pertanian jumlah petani merosot. Pada 2010 jumlah petani sebenayak 42,8 juta jiwa, 2013 turun 39,22 juta jiwa, 2014 merosot 38,97 juta jiwa, 2015 turun 37,75 juta jiwa.

Salah seorang mahasiswa Rudianto mengaku terinspirasi Bagas mengembangkan pertanian di perkotaan. Pemuda asal Bekasi ini tertarik untuk bertani di perkotaan untuk menyediakan bahan pangan. “Petani itu keren, dari tangan petani bisa menghasilkan bahan pangan berkualitas,” ujarnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini