Gempa di Malang Mengakibatkan Tujuh Tewas dan Ratusan Rumah Rusak

Rumah yang ambruk karena gempa bermagnitudo 6,1 SR berpusat di Malang Selatan. (Foto : BPBD Kabupaten Malang),

Terakota.idTujuh meninggal dunia, dua luka berat dan 10 lainnya luka ringan akibat gempa bumi yang berpusat di Malang, Sabtu 10 April 2021. Gempa turut menyebabkan 344 rumah rusak, sebuah pondok pesantren rusak, 11 gedung sekolah rusak, enam sarana ibadah rusak, tujuh kantor pemerintahan rusak dan sebuah rumah sakit rusak.

“Kerusakan tersebar di wilayah Jawa Timur,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati melalui laman bnpb.go.id.

Data dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) gempa bumi berdampak pada delapan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabuapten Trenggalek, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jember.

Raditya mencatat laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mendirikan tenda pengungsian di Desa Kali Uling, Kecamatan Tempur Sari. Jumlah pengungsi masih didata. Sedangkan di Kabupaten Malang, Blitar, Trenggalek dan Tulungagung belum ada laporan warga yang mengungsi.

Pelaksana tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan menjelaskan di Malang tiga orang meninggal karena gempa. Yakni Imam warga Desa Sidorenggo, Munadi warga Desa Tamanasri dan Misni warga Desa Tamanasri Kecamatan Ampelgading. Mereka meninggal tertimpa bangunan rumah yanga ambruk.

“Kerusakan tersebar secara sporadis di Poncokusumo, Jabung, Wajak, Turen, Dampit, Kalipare, Ampelgading, Sumbermanjing Wetan,” katanya.  Kerusakan meliputi sembilan unit gedung sekolah, 3 fasilitas kesehatan rusak, 136 rumah rusak ringan, 24 rusak sedang, 13 rusak berat dan tempat ibadah 14 unit.

Malang Tanggap Darurat Gempa

Pemerintah Kabupaten Malang  menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi. BPBD Kabupaten Malang mengirimkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan penilaian dini dampak gempa bumi. Serta mendirikan posko tanggap darurat bencana yang melibatkan personil BPBD TNI/ Polri, Organisasi Pemerintahh Daerah (OPD) teknis dan relawan.

Sebanyak 15 orang di Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang syok dan kaget setelah gempa dengan magnitudo 6,1 Skala Richer (SR) mengguncang Malang. Mereka trauma gempa merubuhkan rumahnya. “Kaget, belum pernah ada gempa separah ini,” kata Sudi, 70 tahun.

Sehingga memilih mengungsi di rumah tetangganya. Warga turut mendirikan tenda pengungsian untuk menampung korban gempa. Sebanyak 25 keluarga mengungsi. Lantaran rumahnya rusak dan sebagian rata dengan tanah. Seorang warga bernama M Iqbal mengalami luka ringan akibat terjatuh material atap rumah.

Infografis : BPBD Kabupaten Malang

“Sudah menjalani perawatan di Puskesmas,” kata relawan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Kabupaten Malang, Adila Ramadhan. Sementara ia bersama relawan lain mendata sebanyak 120 rumah yang rusak. Terdiri atas tujuh rumah ambruk, rusak total. Sedangkan 16 rumah rusak sedang, atap rumah rusak. Sisanya rusak ringan.

Sementara, pengunjung sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Malang berhamburan saat terjadi gempa. Mereka keluar gedung pusat perbelanjaan, menyelamatkan diri mengantisipasi dampak gempa. Tak ada korban jiwa dan terluka dalam kejadian tersebut.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menurunkan relawan dan tim BPBD Jawa Timur untuk mendata dan membantu korban. Serta menyiapkan tempat pengungsian darurat. “Besok (Ahad, 11 April 2021) insyaallah saya ke lokasi,” katanya.

Gempal Dangkal

Kepala Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates Malang Ma’muri kepada jurnalis menjelaskan awal diumumkan gempa dengan magnitudo 6,7 Skala Richter (SR) pada pukul 14.00 WIB. Setelah dianalisis dipastikan kekuatan gempa 6,1 SR. Pusat gempat berada di 90 kilometer barat daya Malang dengan kedalaman 25 kilometer. “Gempa dangkal, efek besar,” katanya.

Gempa terjadi karena aktivitas subduksi atau terjadi tumbuan antara dua lempeng, yakni lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Serta gempa susulan pada 14.53 WIB dengan kekuatan 3,2 SR, dan pukul 15.05 WIB dengan magnitudo 3,6 SR. “Tidak berpotensi tsunami.  Kekuatannya tak cukup untuk gelombang memicu gelobang tsunami,” katanya.

Dampak gempa terparah dialami warga Malang, Blitar dan Lumajang. Ketika gempa, katanya, akan diikuti gempa susulan. Gempa susulan relatif berbarengan dengan intensitas semakin lama semakin berkurang. “Kami akan terus memantau aktivitas seismik di Malang selatan,” katanya.

Ia mengimbau warga di pesisir selatan Kabupaten Malang agar tak panik. Tetap tenang, bisa kembali ke rumah masing-masing. Asal rumahnya kuat dan tak mengalami kerusakan yang berarti. “Jika parah dan tak aman lebih baik mengungsi,” katanya.

Sementara Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan Zona gempa selatan Malang merupakan kawasan aktif gempa. Catatan sejarah gempa menunjukkan gempa selatan Malang berdekatan dengan pusat gempa yang merusak Jawa Timur pada masa lalu. Meliputi pada 1896, 1937, 1962. 1963 dan 1972.

Gempa di Malang merupakan gempa menengah akibat deformasi atau patahan di zona Benioff yaitu bagian lempeng Indo-Australia yang tersubduksi/menunjam dan menukik ke bawah Lempeng Eurasia. Lokasinya ada di bawah lepas pantai selatan Malang. “Bukan gempa megathrust, tetapi gempa Benioff,” katanya melalui akun twitternya.

Daryono mengingatkan gempa selatan Malang merupakan alarm untuk semua. Bahwa ancaman sumber gempa subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini disampaikan para ahli gempa adalah benar. “Kita patut waspada,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini