Gema Hari Musik Nasional

Terakota.id–Puluhan orang berdiri, sebagian duduk tepekur di halaman Kantin Creative Land (CL) Universitas Brawijaya Malang, Jumat sore 9 Maret 2018. Mereka menghayati alunan musik yang disuguhkan sejumlah grup band. Antara lain Hello Pumokins, Second Alpha dan Jamming Session dengan guest star Equinox. Sebagian menggoyangkan kaki dan tangan saat alunan musik mulai menghentak.

Pagelaran bertajuk Music Media kali ini istimewa lantaran khusus disuguhkan untuk memperingati Hari Musik Nasional. Di sela pagelaran juga digelar coaching clinic oleh Andika Equinox. Program Music Media ini merupakan edisi perdana, dan bakal diagendakan rutin saban bulan.

Program Music Media merupakan bekerjasama dengan Badan Unit Usaha Non Akademik Universitas Brawijaya, UB Kantin, UMK Musik, UBTV dan B Radio, dan didukung Terakota.id. “Mewujudkan CL sebagai ruang atau presentasi karya musik Mahasiswa Universitas Brawijaya,” kata salah satu penggagas Music Media, Redy Eko Prastyo.

Dia berharap ada jejaring dan sinergi antara musisi dan media. Sehingga menjadi ruang apresiasi sekaligus terekam dalam informasi di media massa. Musik, katanya, tak hanya selesai di panggung atau pertunjukan tapi musik sebagai metode untuk media komunikasi.

Kemeriahan Hari Musik Nasional juga terasa di Museum Musik Indonesia yang berada di Gedung Kesenian Gajayana Malang. Saat memasuki gedung kesenian terasa terlempar ke masa lampau. sayup-sayup terdengar lagu berjudul buat kasihmu pergi.

Lagu yang didendangkan Inung Basuki ini keluar dari piringan hitam yang diputar melalui turntable atau pemutar piringan hitam. Lagu yang pernah hits di radio pada 1977-1978 ini diputar khusus untuk memperingati Hari Musik Nasional. Mulai pukul 10.00-17.00 diputar lagu Indonesia, beragam lagu diputar.

Lagu Anak-anak sampai Keroncong

Piringan hitam album perdana Sylvia Saartje dipanjang di etalase MMI. (Terakota.id/Eko Widianto)

Beragam genre mulai keroncong, pop, rock dan lagu daerah menyemarakkan ruangan yang berderet koleksi piringan hitam, pita kaset, dan cakram padat musik nasional. Bahkan, diputar sejumlah lagu anak-anak masa lampau.

“Zaman dulu banyak lagu anak-anak. Sekarang tak ada. Anak-anak menyanyikan lagu dewasa,” kata Manajer Penyajian Display MMI, Anang Maret Tribasuki. Sejumlah pegawai MMI sibuk, melakukan riset, memperbaiki alat musik, membersihkan piringan hitam dan rak kaset. Mewarnai kesibukan di MMI selama seharian.

“Sebagian mengikuti Konferensi Musik Nasional di Ambon,” katanya.

Musik, katanya, bisa mengangkat budaya dan kesenian. Sekaligus membangkitkan nasionalisme. Peringatan Hari Musik Nasional, diharapkan membangkitkan nasionalisme. Hari Musik Nasional dipilih hari kelahiran WR Supratman, seorang pahlawan nasional yang menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

“Zaman itu sudah ada maestro musik. Mengingat jasa pahlawan melalui lagu.” Selain itu, juga banyak lagu daerah yang mencerminkan cerita dan kisah. Seperti lagu dolanan anak, yang mengingatkan tutur atau petuah para leluhur yang disampaikan melalui lagu.

Hari Musik Nasional lahir, katanya, agar generasi masa kini tak melupakan sejarah dan budaya musik Nusantara.
Dia berharap semua pihak bisa saling menunjang, dan bersatu. Termasuk untuk mendobrak pentas musik dunia. “MMI bisa menjadi ajang berkumpul musisi dan budayawan untuk memajukan musik tanah air,” ujar Anang.

Musik dan Pelajaran

Siswa SMKN 2 Kota Malang melihat dan memainkan alat musik sasando di Museum Musik Indonesia. (Foto : Abdul Malik).

Anang menjelaskan jika musik adalah segalanya. Semua pelajaran saling berkaitan dengan musik. Seperti alat musik, dan penyanyi yang mengeluarkan suara berkaitan pelajaran fisika terkait dengan frekuensi.

“Tanpa ilmu fisika musik tak bisa dimainkan dalam harmoni,” ujarnya. Sedangkan pelajaran matematika terkait dengan perhitungan skala alat musik.

Namun, tak banyak pengunjung yang menjejakkan kaki di MMI saat Hari Musik Nasional. Salah satu pengunjung berasal dari Yogyakarta, Syaura Qotrunadha ingin melihat koleksi serta berinteraksi dengan musisi dan seniman di Malang. “Saya tengah rekreasi, tetapi ketertarikan ke musik mengantarkan saya ke MMI,” ujarnya.

Para pengunjung bisa mendengarkan aneka koleksi lagu lawas, yang berasal dari piringan hitam, kaset, dan cakram padat. Selain itu, juga bisa menikmati secara digital di portal museummusikindonesia.org. Versi digital hanya bisa didengarkan di lokasi untuk alasan hak cipta.

Sebagian juga datang ke MMI untuk melakukan beragam riset. Mulai mahasiswa sampai para akademikus yang tertarik dengan perkembangan musik Indonesia. Sampai saat ini dilakukan digitalisasi lagu, dilakukan bertahap. Tahap pertama 14 ribu lagu dan tahap kedua 14 ribu lagu dari total sekitar 180 ribu lagu.

Gereget memperingati Hari Musik Nasonal belum menggema di penjuru sudut kota. Anang mengakui sampai saat ini tak banyak pusat perbelanjaan, televisi dan radio yang memutar lagu Indonesia selama seharian. Padahal ajakan memutar lagu Indonesia seharian penuh selama Hari Musik Nasional keluar dari Presiden Joko Widodo setahun lalu.

MMI berdiri sejak setahun lalu, awalnya bernama Galeri Malang Bernyanyi berdiri sejak 8 Agustus 2009. Kumpulan kaset, poster, pin, piringan hitam, sampai foto-foto musisi Indonesia melengkapi koleksi. Tak hanya koleksi musik dari dalam negeri, sejumlah rekaman musik klasik dan country dari luar negeri juga tersedia.

Tinggalkan Pesan