Geliat Tradisi Topeng di Tanah Kelahiran Ken Dedes

Reporter : Givari Jokowali

Terakota.idRatusan warga Polowijen, Kota Malang duduk bersimpuh di pelataran situs Sumur Windu atau Sendang Ken Dedes. Pemuka adat setempat, Sugianto membakar dupa. Harum dupa semerbak menguar menusuk hidung. Mengenakan lurik dan berblangkon, ia merapal mantra dan doa, mengucap syukur kepada Tuhan.

Doa dibacakan secara Islam dan adat Jawa. Tangan menengadah, memanjatkan doa agar warga setempat hidup rukun, aman dan rezeki melimpah. Prosesi ritual doa diakhiri dengan membaca tembang macapat pangkur. Yakni tembang pitutur atau nasihat. Nasihat ditujukan kepada generasi muda. Merdu, mendengarkan tembang macapat pangkur hati terasa tentram.

“Saban ke sini masayarakat berdoa dilanjutkan nembang macapat,” kata warga Polowijen penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi yang karib disapa Ki Demang. Situs Sumur Sewindu artinya sumur yang sangat dalam seolah tak berujung. Seperti dijelaskan dalam kitab pararaton Ken Dedes dilahirkan di Panawijen, sekarang Polowijen.

“Di situs ini dulu Ken Dedes dilahirkan,” kata Ki Demang.  Ken Dedes merupakan putri pendeta Buddha, Mpu Purwa. Tempat ini sekaligus tempat pertapaan Mpu Purwa. Di dalam situs, banyak ditemukan batu bata merah kuno berukuran besar. Serta batu gong atau kenong, yakni batu umpak saka guru atau pilar bangunan rumah masa lalu. Juga ditemukan struktur pondasi bangunan sekitar situs.

Usai berdoa di Sendang Ken Dedes, para pemuka adat dan agam berziarah ke makam Tjondro Suwono atau yang terkenal dengan nama Mbah Kiai Reni. Makamnya berada di area pemakaman umum setempat. Mbah Kiai Reni diyakini yang mengembangkan dan mempopulerkan kesenian tari topeng di Malang.

Mbah Kiai Reni merupakan guru sungging dan guru tari di Desa Polowijen pada awal abad ke 20. Mbah Kiai Reni merupakan keturunan Sunan Bonang. “Makam Mbah Kiai Reni diakui sebagai situs sejarah Kota Malang,”  kata Ki Demang.

Tak ada keturunan Mbah Kiai Reni yang mewariskan kepiawaian mengukir topeng dan menari topeng Malangan. Sehingga nyaris Mpu Topeng Malang ini tak memiliki penerus. Kini, muda-mudi Polowijen mulai bergeliat menari dan memahat topeng.

Para remaja berdoa dan menari di depan makam Mbah Kiai Reni. Mbah Kiai Reni merupakan guru tari yang mengembangkan tari topeng pada abad ke 20. (Terakota/Givari Jokowali)

Sore itu, remaja putri desa setempat berkumpul mengenakan sampur atau selendang tari. Mereka berdiri berderet, spontan tangan dan kaki bergerak lincah. Menari dengan gerakan lembut dan lemah gemulai. Mereka adalah anak muda di sekitar Polowijen yang tengah belajar menari.

Menari di depan pusara Mbah Kiai Reni seolah ingin menyampaikan pesan, agar terus melestarikan seni tari topeng Malang. Meski baru belajar, mereka mulai mahir menari. Gerak tarian mengundang perhatian masyarakat. Termasuk 60 mahasiswa asing dari 20 Negara yang tengah belajar di Malang.

“Bagus, tariannya menarik,” kata mahasiswa asal Portugal, Annik kepada Terakota.id. Ia mengaku kagum dengan kesenian tradisi di Malang. Kesenian yang sampai saat ini masih dilestarikan generasi muda.

Rangkaian ritual tersebut merupakan upacara pembukaan pasar topeng di Polowijen. Pasar topeng diresmikan pelaksana tugas Wali Kota Malang Sutiaji. Kampung Budaya Polowijen ingin mengembalikan kekayaan kesenian tradisi tari Topeng Malang. Sekaligus mengingat sejarah tempat lahir Ken Dedes.

Sejumlah topeng menghias dinding. Topeng Bapang menjadi salah satu ikon topeng Malang. (Foto : Isa Wahyudi),

Gazebo berdiri berderet di perkampungan Polowijen. Dinding rumah dihias anyaman bambu, menutup semua permukaan dinding. Aneka jenis karakter topeng ukuran mini ditempel di dinding anyaman bambu. Menarik perhatian siapapun yang berkunjung.

Pemahat atau pengukir topeng juga mulai bermunculan. Sekitar lima pemahat topeng Malang mulai mahir membuat berbagai karakter topeng. Topeng biasa digunakan dalam tari maupun kesenian wayang topeng.

Wayang topeng tak menggunakan epos Ramayanan maupun Mahabarata, khusus mengisahkan budaya Panji. Sebuah kisah yang berkembang mulai kerajaan Kadiri dan berkembang hingga kekuasaan Majapahit.

Sehingga kisah Panji menyebar sampai ke Nusantara hingga Indocina. Menyebar ke Malaysia, Thailand, Vietnam dan Kamboja. Kisah Panji dikenal dengan sebutan Ano. Malam itu, para penari di Polowijen juga menampilkan cerita Panji.Para penari mengenakan karakter topeng Ragil Kuning, Gunung Sari, Bapang dan karakter lain dalam kisah Panji.

“Budaya dan kesenian tradisi mulai bergeliat di kampong-kampung. Bisa ditawarkan untuk wisatawan,” kata Sutiaji dalam sambutannya. Ia mengapresiasi para pihak yang mewujudkan Kampung Budaya Polowijen. Ki Demang berharap Kampung Budaya Polowijen menjadi pusat etalase cindera mata unggulan di Kota Malang.

Sekaligus menampung hasil kerajinan para seniman, mulai topeng, kain batik tulis, dan kerajinan lain yang memiliki ciri khas Kota Malang. Sehingga bakal menjadi tujuan utama wisatawan ke Malang. Peresmian pasar topeng ditutup dengan doa yang dipimpin pelaksana tugas Wali Kota Sutiaji.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan