Geliat Tradisi Nyete Kaum Muda Tulungagung

Seniman muda Tulungagung, Septa DD Prasetyo melihat warung kopi cethe Tulungagung memiliki potensi sebagai wisata minat khusus. Mengemas cethe sebagai bagian dari objek wisata unggulan. Terbukti, selama ini banyak orang datang ke Tulungagung untuk mengenal cethe dan mencicipi kopi ijo khas Tulungagung.

Terakota.id-Sejak pagi puluhan orang meriung di warung kopi Mak Waris, Bolorejo, Kauman, Kabupaten Tulungagung. Duduk bersama teman sembari ngobrol dan menikmati seduhan kopi panas. Pengunjung bisa memilih duduk di gazebo, di selasar warung atau di deretan meja dan bangku yang tersebar mengelilingi warung. Pembeli hilir mudik masuk ke dalam warung seluas 12 meter persegi untuk memesan minuman, membeli rokok dan kudapan.

Puluhan cangkir dan gelas tertata di depan meja. Suheri dan pegawai warung Kopi Mak Waris seolah tiada henti berbagi tugas menjerang air, mengaduk kopi dan menyajikan di atas meja para pembeli. Serta menata dan mencuci piring dan gelas kotor. “Saya bekerja sejak 20 tahun lalu. Setiap hari selalu ramai,” kata Suheri.

Warung kopi Mak Waris sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Tulungagung. Lokasinya masuk di perkampungan padat penduduk, sepanjang jalan berderet aneka warung kopi cethe khas Tulungagung. Tapi, warung kopi cethe Mak Waris melegenda.

Agung Santoso duduk berdua bersama Arda Putra di salah satu sudut ruangan. Keduanya tengah menikmati kopi sembari bermain gawai. Membuka akun media sosial sambil sesekali diselingi obrolan ringan. Selama tiga jam, mereka tak beringsut dari tempat duduk. “Sejak SMA saya ngopi di sini,” kata Agung.

Agung menuangkan kopi di lepek, dan menyeruputnya selagi panas. Lantas dia mengoleskan ampas kopi atau cethe di lepek dengan sendok ke sebatang rokok kretek. Setelah cethe kering dia membakar batang rokok. “Rokok berlapis cethe lebih nikmat,” katanya.

Setelah puas merokok, dia berpamitan meninggalkan warung. Tak berapa lama tiga pemuda duduk di bangku yang ditinggalkan Agung dan Arda. Ketiganya juga memesan kopi, tak ketinggalan menikmati cethe dalam sebatang rokok.  Silih berganti para pembeli berdatangan mulai pukul 5.30 WIB sampai 22.00 WIB.

Baca juga :  Seni Budaya Nusantara Dipengaruhi Agama
Sejak pagi pengunjung menikmati kopi ijo sambil ngobrol di warung Mak Waris. (Terakota.id/Eko Widianto)

Warung kopi cethe Mak Waris dikelola generasi kedua sejak 1990-an. Warung didirikan Waris Warsito  sejak 1976, awalnya warung kopi berupa rombong kecil di depan rumah. Mak Waris bukan yang pertama di kampung itu, Sumari lebih dulu membuka warung kopi sejak 1970. Pelanggan kopi Mak Waris awalnya tetangga sekitar, minum kopi usai menggarap sawah.

Ngobrol sawah garapan sambil minum kopi dan merokok,” kata salah satu putra Waris, Hariyanto.

Saat itu secangkir kopi dijual seharga Rp 30. Dari mulut ke mulut pelanggan terus berdatangan, tiga tahun kemudian dibuat warung secara permanen. Menjual kopi, gorengan dan rokok. Mak Waris mengolah biji kopi sendiri, disangrai dan ditumbuk secara manual. Pada 1989  pelanggan bertambah, Mak Waris kewalahan kemudian mempekerjakan sejumlah karyawan. Mengolah kopi, menyangrai dan menumbuk dengan mesin.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini