Geliat Konservasi Lingkungan di Probolinggo

Terakota.id—Muchlis, nelayan Desa Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo menjadi pioner rehabilitasi mangrove di pesisir utara Jawa. Lelaki berusia 70-an tahun ini tekun belajar membibit mangrove dari kakeknya sejak usia tujuh tahun. Saat itu, pada 1975 hutan mangrove hijau dan menjadi habitat ikan dan aneka biota laut. Lantas, pada 1980-an sejumlah warga membuka hutan mangrove diubah menjadi tambak.

‘Hasil tambak bagus, tapi pendapatan nelayan anjlok,” ujarnya.

Pada 1986, Muchlis mengajak nelayan lain untuk merehabilitasi hutan mangrove. Selang lima tahun kemudian, kepiting, udang dan aneka ikan berdatangan ke pesisir pantai. Ia bersama nelayan pun bisa menikmati hasil laut yang melimpah. Namun, hingga kini ia kerap membantu warga pesisir di Probolinggo, Pasuruan dan daerah lain merehabilitasi pesisir pantai.

Sedangkan di Mangunharjo, Mayangan kerusakan hutan mangrove terjadi sejak 2001, masyarakat berlomba membuka hutan mangrove dan beralih fungsi menjadi tambak dan berdiri bangunan. Dampaknya, sejumlah biota laut seperti udang, kepiting, dan ikan tak mampir ke pesisir Probolinggo. Sehingga nelayan kehilangan pendapatan.

“Pada 1990 sampai 2000-an bagus, saya sering bermain di hutan mangrove,” kata nelayan, Suheri Patriadi.

Suheri risau, mata pencarian sebagai petani terancam. Ia bersama kelompok nelayan lain menggagas menanam mangrove di pesisir. Awalnya, mereka memungut bibit mangrove yang tersebar di pesisir. Lambat laut, mereka menerima dana pembibitan dari pemerintah Kota Probolinggo. Setahun, 25 ribu-50 ribu bibit mangrove disebar.

Lambat laun, penghijauan kawasan hutan mangrove memperlihatkan hasil. Hutan mangrove semakin bertambah, bahkan nelayan juga memanfaatkan buah dan biji mangrove. Antara lain diolah menjadi pewarna makanan, sirup, tepung dan aneka penganan. Olahan mengrove dijual di sejumlah pasar tradisional di Probolinggo.

Para nelayan tengah menyiapkan bibit mangrove. (Terakota/Eko Widianto).

Belakangan tantangan menanam mangrove berdatangan, meliputi limbah industri yang mematikan bibit mangrove. Serta pembangunan resor di pesisir pantai kawasan hutan mengrove merusak bibit mengrove. Padahal, sejak awal resor yang dibangun swasta ini dikembangkan menjadi ekowisata hutan mangrove dan berjanji tak merusak tanaman mangrove.

Bahkan, perambahan mangrove juga terjadi sejumlah kawasan beralih fungsi ditimbun tanah untuk didirikan bangunan. “Mereka memiliki sertifikat tanah, ini kan aneh wilayah laut kok ada yang memiliki,” katanya.

Rehabilitasi mangrove juga melibatkan pelajar. Ratusan siswa SMA Negeri 2 Probolinggo bergantian, rutin menghijauan kawasan hutan mangrove. Selain belajar kelestarian lingkungan, para siswa juga belajar biologi dan habitat biota laut.

Pesantren Peduli Lingkungan

Setiap hari sampah menumpuk di area pesantren, maklum ribuan ribuan santri tinggal dan menetap di lingkungan pesantren. Seperti di Pesantren Al Badriyah, Curangrinting Kota Probolinggo, sekitar 2 ribu santri selama sepekan menghasilkan sampah plastik menumpuk hingga empat truk.

Sampah plastik dihasilkan dari aneka jenis bungkus panganan yang dikonsumsi santri. Awalnya, sampah plastik dibakar sehingga menghasilkan polusi udara. “Banyak makanan yang dibungkus plastik, karena lebih praktis,” kata pimpinan pesantren Havidz Damanhuri.

Sampah plastik ini, merisaukan Havidz. Berbekal keterampilan mengelas dan rekayasa permesinan lelaki jebolan Pesantren Lirboyo Kediri ini merancang bangun sebuah mesin pengolah limbah plastik terutama jenis kesek dan plastik bungkus kemasan pada 2008.

Bermodal uang Rp 300 juta, Havidz merancang mesin pengolah sampah plastik menjadi bijih plastik yang dipasok ke sejumlah perusahaan pengolah plastik di Surabaya. Selain ramah lingkungan, juga menghasilkan uang untuk kesejahteraan para santri.

Santri Pesantren Al Badriyah, Curangrinting Kota Probolinggo mengolah limbah plastik menjadi bijih plastik. (Terakota/Eko Widianto).

Listrik 105 KWA menggerakkan mesin pengolah listrik, rata-rata setiap bulan biaya listrik mencapai Rp 5-7 juta. Mesin bekerja selama delapan jam sehari, mengolah 25 ton-30 ton sampah plastik. Sampah plastik berasal dari Kota Probolinggo dan didatangkan dari berbagai daerah.

Setiap sampah plastik dibeli seharga Rp 2 ribu per kilogram. Pekerja berasal dari santri dan janda miskin di sekitar pesantren. Pengelolaan dan pengumpulan sampah plastik juga melibatkan pesantren lain di Probolinggo.

Selain mengolah sampah plastik, mereka juga belajar mengolah sampah organik menjadi kompos. Sejumlah tempat pengolahan sampah didirikan di pesantren. Mereka juga menghijaukan kawasan pesantren dengan aneka tanaman peneduh serta taman yang indah.

Mengolah Sampah

Pengolahan sampah dilakukan tak hanya di Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Seperti di Perumahan Persada Mulya Kelurahan Karanglor Kecamatan Kedopok, masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos. Rumah kompos yang didirikan secara swadaya ini menghasilkan kompos antara 700 kilogram sampai 1 ton per bulan.

“Badan Lingkungan Hidup bersedia menerima kompos yang kami produksi,” kata ketua komite lingkungan, Muhammad Taufik.

Kompos yang diproduksi sebagian juga digunakan untuk memupuk tanaman warga. Sampah yang diproduksi 118 keluarga ini awalnya ditumpuk di kawasan pemukiman. Sehingga menimbulkan masalah, bau menyengat dan lalat. Sedangkan lokasi Tempat Penampungan Sementara berhimpitan dengan pemukiman warga. Januari 2011, mereka berkomitmen mengolah sampah setelah mendapat pelatihan dari BLH Probolinggo.

Sebagian sampah plastik, kertas, logam  dan kaca yang memiliki nilai ekonomis dijual melalui Bank Sampah. Sisanya, residu sekitar 4 meter kubik per pekan diolah di TPA Probolinggo.  Bank sampah memiliki nasabah sekitar 25 orang, dengan total sampah yang dikelola mencapai 40 kilogram per bulan.

Mereka pun semakin kreatif membuat kerajinan dari bahan bekas seperti plastik dan tas kresek diubah menjadi tas, bunga dan bros. “Dipasarkan ke sejumlah daerah, juga untuk oleh-oleh Probolinggo,” kata perajin Sri.

Pengolahan sampah di tingkat lingkungan atau kelompok masyarakat ini telah mendapatkan hasil. Produksi sampah setiap tahun terus menurun, pada 2010 total sampah 42 ton per hari, 2011 turun menjadi 37 ton dan 2012 anjlok menjadi 32 ton per hari. TPA seluas empat hektare ini beroperasi sejak 1994 dengan model sistem open dumping. Sejak 2007 beroperasi menggunakan sistem sanitary landfill.

Namun, lahan untuk menampung sampah terus berkurang. APBD Probolinggo setiap tahun menganggarkan  Rp 2 miliar untuk TPA Probolinggo. Meliputi pengadaan tanah uruk untuk melapisi sampah Rp 600 juta, BBM Rp 700 juta, selebihnya digunakan untuk kebutuhan operasional lain.

Instalasi gas metana telah perpasang di TPA. Gas metana merupakan limbah yang berbahaya bisa merusak lapisan ozon. (Terakota/Eko Widianto).

Sampah plastik yang dikumpulkan di bank sampah di pasar tradisional, dan warga mencapai 3 ton per bulan dicacah. Sejumlah perusahaan plastik siap menerima olahan sampah plastik. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos menjadi bentuk serbuk dan granul. Produksi kompos setiap tahun mencapai 74 ton. Dikemas dalam kantung plastik 25 kilogram (granul) dan 4 kilogram (serbuk).

Kompos dipasarkan ke sejumlah petani sayuran di lereng Bromo. Sebagian dibagikan kembali kepada kelompok masyrakat yang menyerahkan sampah organik ke TPA. Juga untuk memupuk taman dan hutan kota.

Kompos yang diproduksi TPA Probolinggo telah mengantongi ijin merek dari Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan kualitas pupuk kompos telah diuji di Balai Penelitian Tanah Bogor. Serta tengah mengajukan ijin edar, agar bisa dijual bebas di pasaran. Ditargetkan tahun 2012, TPA Probolinggo menghasilkan Pendapat Asli Daerah hingga Rp 200 juta.

TPA juga menyiapkan pembibitan tanaman untuk penghijauan hutan kota. Serta mengolah limbah tinja dan air lindi. Sayang, bak penampungan bocor dan mengancam mencemari air tanah. Kini, pengolahan tinja dan air lindi dihentikan sementara.

Abang Becak Peduli Lingkungan

Keterlibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing. Termasuk tukang becak, sekitar 5 ribuan pengemudi becak di Probolinggo Rembung Gawe Tukang Becak 11 Februari 2011 lalu, sepakat turut melestarikan lingkungan dan menjaga kebersihan kota.

“Ada yang bertugas membersihkan sungai, taman dan mengolah sampah,” kata ketua tukang becak Probolinggo, Miskan.

Sebanyak 200 an becak dilengkapi tempat sampah. Tukang becak juga mengingatkan penumpang yang membuang sampah sembarangan, menginjak taman. Mereka sekaligus menjadi polisi lingkungan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan