Geliat Ekonomi Sirkular untuk Menyelamatkan Sungai Brantas

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim yang tergabung dalam Enviromental Green Society meneliti kualitas sungai Brantas. Mereka memeriksa sampah plastik di DAS Brantas. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Enam mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menelusuri aliran sungai Brantas. Membawa ember, gayung, gelas ukur kimia, serta TDS dan pH meter. Mereka tengah menguji kualitas di badan sungai Brantas, yang juga dimanfaatkan menjadi bahan baku air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya.

Peneliti muda yang tergabung dalam Enviromental Green Society ini menemukan kualitas sungai Brantas buruk, air terkontaminasi mikroplastik. Partikel mikroplastik berukuran lebih kecil dari 5 milimeter. Mikroplastik jenis fiber, filamen dan fragmen mencemari sungai Brantas.

Mikroplastik jenis fiber berasal dari serat pakaian, sedangkan filamen berasal dari pecahan plastik yang terdegradasi dan jenis fragmen berasal dari potongan plastik polimer sintentis. Di Bumiaji, Kota Batu ditemukan 10 mikroplastik per 100 liter air, di Sengkaling, Mulyoagung, Dau Kabupaten Malang sebanyak 19 mikroplastik per 100 liter air dan Klojen, Kota Malang sebanyak 15 mikroplastik per 100 liter air.

“Mikroplastik jenis fiber yang paling banyak mencemari sungai Brantas,” ujar peneliti ekologi akuatik Enviromental Green Society Mohammad Alaika Rahmatullah. Selain itu juga diuji parameter kimia dan fisika meliputi Power of Hydrogen (pH) atau tingkat keasaman dan  Total Dissolved Solids (TDS) atau jumlah padatan yang terlarut dalam air. Di Bumiaji kadar pH 8,59 dengan suhu 24,9 derajat celsius, dan TDS 272. Sedangkan di Sengkaling pH 8,20, suhu 24,6 derajat celsius dan TDS 453. Sementara di Klojen pH 8,37, suhu 25,7 derajat celsius dan TDS 505.

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim yang tergabung dalam Enviromental Green Society meneliti kualitas sungai Brantas. Hasilnya kualitas buruk, air terkontaminasi mikroplastik. (Terakota/Eko Widianto).

“Mikroplastik berbahaya bagi manusia, menyebabkan gangguan hormon, gangguan sistem syarft bahkan meningkatkan risiko penyakit kanker,” ujarnya. Lantaran biota sungai seperti ikan dan udang secara tak sengaja mengonsumsi mikroplastik. Ikan yang terkontaminasi mikroplastik tersebut dikonsumsi manusia.

Aktivitas mereka sebut Rapid Assessment for Microplastic Contamination in Brantas River Ecosystem atau penilaian cepat terhadap kontaminasi mikroplastik di Sungai Brantas. Penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi pemangku kepentingan untuk menata dan mengelola lingkungan sungai Brantas. Mereka juga menemukan sejumlah titik sampah menggunung di bantaran sungai Brantas.

Timbulan sampah tersebut memenuhi bantaran sungai, terutama di wilayah Kota Malang sepanjang DAS Brantas yang menjadi permukiman padat. Kebiasaan penduduk membuang sampah langsung ke sungai. Sedangkan sebagian sampah berupa plastik terbawa arus sungai terdegradasi dan menjadi mikroplastik.

Dulu Sumber Pencemar, Sekarang Sumber Rezeki

Kebiasaan membuang sampah di tepi sungai, dulu juga dilakukan masyarakat Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.  Ketua Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Reduce, Reuse, Recycle (3R) Mulyoagung Bersatu F. Supadi menjelaskan selama 20 tahun sekitar 6 ribu Kepala Keluarga (KK) biasa membuang sampah di tepi DAS Brantas.

Sehingga saat hujan meluber dan mencemari sungai. Pemerintah Kabupaten Malang sempat akan melaporkan warga yang membuang sampah ke sungai secara pidana, atau berubah mengolah sampah yang dihasilkan rumah tangga. Akhirnya, pada 2008 warga didampingi Dinas Cipta Karya berkomitmen mengolah sampah.

Diawali dengan membangun hangar dan pagar di lahan tanah desa seluas 2.000 meter persegi. Pada Februari 2011, TPST 3R mulai beroperasi dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mulyoagung Bersatu.  Melayani sebanyak 6 ribu KK. “Sampah dikelola untuk kelestarian, dan kebersihan lingkungan. Mencegah pencemaran sungai dan menjamin hidup sehat,” katanya.

TPST 3R Mulyoagung Bersatu didirikan sejak 2011. Awalnya warga membuang sampah di tepi sungai Brantas. (Terakota/Eko Widianto).

Para pemulung dan bunuh tani atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) direkrut menjadi pekerja. Latar belakang pekerja pemulung dan buruh tani mereka memilah dan mengelola sampah. Kini, tak ada lagi warga yang membuang sampah ke sungai.

Sampah ditangani lintas sektoral, tak hanya Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pekerjaan Umum. Dinas Kesehatan turut memberi layanan kesehatan bagi pekerja dengan mengecek kesehatan secara gratis, sebulan dua kali di Puskesmas setempat. Selama 10 tahun, tak ada pekerja yang sakit karena berkutat dengan sampah.

Empat kolam berisi ikan nila dan lele dibangun untuk memutus siklus lalat. Belatung di sampah menjadi pakan utama ikan. (Terakota/Eko Widianto).

Sedangkan Dinas Koperasi memberi pendampingan dan bantuan modal untuk koperasi pegawai. Dinas Perikanan membangun empat kolam ikan lele dan nila. Kolam dibangun    untuk memutus siklus lalat. Belatung yang bertebaran di sampah diambil dan menjadi pakan lele dan nila. Sedangkan ikan disediakan gratis untuk menambah gizi keluarga.

Kini, TPST 3R Mulyoagung Bersatu melayani 12 ribu KK dari empat desa meliputi Desa Mulyoagung, Landungsari, Sumbersekar, dan Gading Kulon. Setiap hari sampah diambil dari rumah warga mulai pukul 05.00 WIB sampai 13.00 WIB. Setiap hari terkumpul 250 meter kubik sampah. Sampah diangkut ke TPST, lantas sampah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik.

TPST 3R mengelola 250 meter kubik sampah dari 12 ribu keluarga di empat desa. (Terakota/Eko Widianto).

Selanjutnya, beragam jenis sampah anorganik dipisahkan sesuai jenis. Dipilah menjadi 66 paket atau jenis plastik, kertas dan logam disesuaikan kebutuhan pabrik daur ulang sampah plastik. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos. Setiap hari menghasilkan sekitar 1,5 ton kompos. Sedangkan sisanya berupa residu dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung, Kepanjen.

Sampah terdiri atas 49 persen sampah anorganik yang bisa didaurulang, 39 persen sampah organik serta 12 persen residu. Sampah anorganik dipilah sesuai jenis, termasuk pecahan kaca, kabel, lampu, dan oli bekas. Setiap pekan, rekanan mengambil aneka jenis sampah anorganik disalurkan ke pabrik daur ulang.

TPST 3R Mulyoagung Bersatu mempekerjakan 91 orang, mulai tenaga pemilah, teknisi hingga pegawai administrasi. Para pekerja mendapat upah antara Rp 1,6 juta sampai Rp 3 juta disesuaikan dengan masa kerja dan insentif. Pengelolaan sampah diatur dalam Peraturan Desa Nomor 2 tahun 2012. Mengatur mekanisme pengelolaan, iuran warga, pekerja dan pelayanan sampah. Warga yang menggunakan layanan TPST 3R membayar iuran antara Rp 13 ribu sampai Rp 20 ribu per bulan.

TPST 3R menggunakan armada angkut terdiri atas sembilan pikap, dua truk, dua dump truck, dan wheel loader atau traktor untuk menaikkan residu. Biaya pengolahan sampah tak dapat dana sepeserpun dari pemeintah. Mereka mengelola sampah secara mandiri.

Wheel loader, truk dan pikap digunakan untuk mengangkut sampah dari rumah ke TPST 3 R Mulyoagung Bersatu. (Terakota/Eko Widianto).

Setiap bulan TPST 3R Mulyoagung Bersatu membutuhkan biaya untuk mengolah sampah sebesar Rp 240 juta. Digunakan untuk upah pegawai, bahan bakar, perawatan kendaraan dan biaya operasional lain. Sedangkan rata-rata pendapatan setiap bulan sekitar Rp 242 juta. Terdiri atas hasil penjualan sampah anorganik dan iuran warga. “Sejak tahun ini surplus Rp 2 juta per bulan,” ujarnya.

Sekitar 70 persen pendapatan diperoleh dari penjualan sampah anorganik. Sedangkan sebagian besar sampah organik dibagikan secara cuma-cuma bagi warga desa setempat untuk pupuk tanaman. Sebagian dijual kepada petani tebu, jeruk dan apel di Malang dan Batu.

Dulu sampah, katanya, menjadi petaka. Menjadi masalah lingkungan, menganggu keindahan kota. Kini berubah menjadi ladang uang, dan mempekerjakan 91 orang dari keluarga miskin. “Asal ada komitmen kuat mengolah sampah dan berhenti buang sampah sembarangan,” katanya,

Salah satu tenaga pemilah sampah Suriatin, 65 tahun, mengaku bekerja selama delapan tahun, Sebelumnya ia menjadi pemulung sampah di pinggir sungai Bratas. Dia memilah dan menjual sampah sendiri. “Direkrut menjadi pekerja karena berpengalaman memilah sampah,” ujarnya.

Di sini, kata Suriatin, bekerja lebih enak karena jika hujan tak kehutanan. Sedangkan jika panas tidak kepanasan. Berkat kerja di TPST 3R, ia bisa membangun rumah ukuran lebar tiga meter dan panjang delapan meter. Terdiri atas ruang tamu, kamar mandi, dapur dan kamar.

Suriatin mengemas sampah plastik di dalam karung, setelah dipilih sesuai jenis. (Terakota/Eko Widianto).

Ia meminjaman ke perbankan sebesar Rp 30 juta. Mengangsur setiap bulan sebesar Rp 900 ribu selama dua tahun. Suriatin tinggal bersama suami, sementara anak-anakna memiliki rumah sendiri. Selain itu, TPST 3R juga menjadi Pusat Edukasi Pengolahan Sampah. Selama 10 tahun ini sebanyak 25 ribu orang dari 1000 kabupaten/kota belajar pengelolaan sampah.

Tata Kelola Sampah

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang Renung Rubi menjelaskan TPST 3R Mulyoagung Bersatu menjadi model percontohan untuk mengatasi sampah di skala permukiman.

“Kompos juga dipesan dari Tuban dan Gresik,” katanya. Sedangkan residu di TPA Talangagung dikelola dengan model semi sanitary landfill. Tujuannya untuk mencegah pencemaran air tanah dan lingkungan.

Beban TPA seluas 10 hektare cukup berat. Ssetiap hari menampung volume sampah hingga 1.004 ton. Untuk itu, TPA Talangagung menambah lahan seluas 3,5 hektare dengan konsep sanitary landfill. Pemerintah Kabupaten Malang menetapkan TPST 3R Mulyoagung Bersatu sebagai percontohan dan memicu berdirinya 166 TPST mandiri di Kabupaten Malang.

“Jadi hanya residu yang masuk TPA. Sampah anorganik diolah dan didaurulang,” ujarnya.

Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI) Dini Trisyanti menjelaskan setiap orang rata-rata menghasilkan setengah kilogram beragam jenis sampah. Sedangkan pelayanan sampah rumah tangga baru menangani 67 persen.  Sementara pengurangan sampah hanya 2,3 persen. Sampah rumah tangga berakhir di 382 TPA seluas 8.253 hektare. Sebagian besar melebihi kapasitas.

Mengurangi sampah, katanya, tantangannya harus dilakukan dari sumbernya di rumah tangga. Mengubah perilaku tak mudah, terbukti timbulan sampah masih besar. Sedangkan pengolahan sampah masih dilakukan skala kecil tanpa dukungan pemerintah. Dikelola dengan konsep kesukarelaan seperti TPST 3R Mulyoagung Bersatu.

Sampah di TPST 3R Mulyoagung Bersatu dipilah menjadi 66 jenis paket untuk bahan baku industri daur ulang. (Terakota/Eko Widianto).

“Mengandalkan dana iuran. Paling penting dukungan pemerintah,” katanya dalam diskusi daring yang diselenggarakan AJI Jakarta, 17 Desember 2020. Jika mengandalkan kesukarelaan masyarakat, ujar Dini, tak bisa berkelanjutan. Karena semangah mengolah akan terpengaruh saat harga sampah anorganik untuk bahan daur ulang turun.

Penanganan sampah, katanya, perlu percepatan bekerjasama antara pemerintah dengan jasa usaha dengan skema jasa pelayanan dan skema kawasan mandiri. Intinya, ujar Dini, pada perbaikan pelayanan untuk menuju sirkular ekonomi. “Bagaimana bisnis model dan pembiayaannya? Butuh kolaborasi,” ujar Dini.

Bisnis Daur Ulang Plastik

Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar menjelaskan penelitian Universitas Toronto diperkirakan sampai 2030 sampah plastik yang mengalir ke tahun per tahun mencapai 90 juta ton. Skenarionya, kata Novrizal, masyarakat diedukasi untuk mengurangi sampah plastik hingga 85 persen.

“Stop TPA open dumping. Target 2025 sampah plastik 100 persen diolah. Agar tak bocor ke lingkungan,” ujarnya.

Sedangkan lebih dari 99 persen plastik harus diolah menjadi bahan baku plastik daur ulang. Sampah plastik akan menjadi persoalan usianya ratusan hingga ribuan tahun. Sirkular ekonomi, ujarnya, bisa menjadi pendekatan baru.

Sampah plastik yang telah dipilah dikemas dan siap kirim ke industri daur ulang. (Terakota/Eko Widianto).

Sampah menjadi sumberdaya, menjadi bahan baku industri daur ulang sampah. Selain itu, sesuai Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mewajibkan produsen mengurangi kemasan produk hingga 30 persen.

Wakil Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia Triyono Prijosoesilo mengatakan tahun depan ditargetkan 90 persen kemasan produk Coca-Cola bisa didaurulang. Manajemen Coca Cola sejak delapan tahun ini juga tengah mendesain ulang kemasan untuk mengurangi volume plastik. “Transisi menggunakan bahan baku daur ulang,” ujarnya.

Target pada 2030 total material dikumpulkan dan didaurulang. Namun, belum cukup tersedia industri pendukung daur ulang untuk produk Coca-Cola. “Hanya dua perusahaan daur ulang dengan kualitas food grade. Kualitas bahan baku yang bisa digunakan makanan,” ujarnya.

Mengajak masyarakat turut terlibat mendaur ulang dan turut serta. Menyediakan drop box dan menyiapkan infrastrktur agar konsumen bisa membuang dan  dikumpulkan sampah.

Ketua Indonesian Plastics Recyclers (IPR) Ahmad Nuzuluddin menjelaskan setiap tahun mengolah 913 ribu ton bahan baku daur ulang dalam negeri. Menghasilkan 1,8 juta ton plastik olahan. Ekosistem daur ulang sampah ada di bank sampah, pemulung dan TPST.

“Industri pengolahan sampah yang terdaftar sebanyak 50. Menyerap 3 juta pekerja mulai pemulung, pengepul, penggilingan, pekerja pabrik dan pedagang daur ulang,” katanya.

Semua jenis plastik, katanya, bisa didaur ulang termasuk kantong belanja plastik bisa didaurulang 100 persen. Biaya terbesar pada sumber daya memilah dan membersihkan. Sehingga dibutuhkan edukasi masyarakat untuk memilah sampah.

Setiap tahun industri daur ulang sampah memproduksi 300 ribu ton plastik, dan fiber. Serta peralatan rumah tangga seperti gayung, ember, dan  tali rafia sebanyak 300 ribu ton. Selain itu mendaur ulang pipa, dan alas kaki sebanyak 200 ribu ton. “Kantong plastik sebanyak 800 ribu ton,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilisasi pasar hasil daur ulang, ia membutuhkan dukungan pemerintah berupa insentif fiskal seperti keringanan pajak. Juga butuh promosi agar masyarakat menggunakan produk daur ulang.

Kompos hasil olahan TPST 3R digunakan untuk memupuk tanaman hias dan petani apel, tebu dan jeruk di Malang dan Batu. (Terakota/ Eko Widianto).

Plt Kasubdit Industri Hilir Plastik dan Karet, Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi, Kementerian Perindustrian Danil Zuhry Akbar menjelaskan konsumsi plastik Indonesia 22,5 kilogram per kapita. “Konsumsi tumbuh 6-7 persen per tahun,” katanya.

Di Indonesia jumlah perusahaan industri daur ulang plastik nasional sebanyak 241. Kapasitas produksi mencapai 2.55 juta ton per tahun. Industri daur ulang plastik menggunakan bahan baku plastik virgin impor 3,6 juta ton sekitar 51 persen, virgin plastik lokal 2,3 juta ton sekitar 32 persen, bahan baku plastik daur ulang lokal 913 ribu ton atau 13 persen dan bahan daur ulang impor 320 ribu ton atau 4 persen.

Para mahasiswa UIN Maulana Malik Malik Ibrahim Malang menyusuri sungai Brantas. Mereka terus menelisik mikroplastik dan audit brand. Mereka menemukan sejumlah produsen yang mendominasi sampah plastik di sungai Brantas. Meneliti dan menjaga agar sungai Brantas lestari.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini