Geliat Budaya Literasi

Terakota.id-Puluhan buku bergelantungan, tertata berjajar di bawah tenda. Buku ini menjadi latar panggung diskusi dalam “Pesta Sejuta Buku” di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta Malang. Ratusan pengunjung hilir mudik dalam bursa buku yang bertema “Ketemu Buku, Banyak Buku yang tak Kamu Tahu” 29 Desember 2016-4 januari 2017.

Pesta sejuta buku ditutup dengan diskusi bertema “Buku Indie Kemerdekaan Berliterasi” dihadiri para pegiat literasi buku. Meliputi pegiat literasi Kampung Buku Jogja (KBJ) antara lain Adhe Makruf dari penerbit Octopus, Eka Keong dari penerbit OAK, Arif Abdulrahim penerbit Omah Ilmu dan guru besar Sastra dan Bahasa Universitas Negeri Malang Profesor Djoko Saryono.

Djoko Saryono menjelaskan saat ini telah memasuki revolusi digital. Semua bisa menjadi produsen dan sekaligus konsumen.  Seperti fenomena Wikipedia, siapapun bisa mengunggah, mengedit sekaligus menjadi menjadi konsumen. “Menjadi konsumen dan produsen seperti hemaprodit,” katanya.

Menurutnya semangat prosumen juga mempengaruhi penerbit Indie. Setelah ada kemudahan dalam dunia percetakan. Penerbit indie mulai mendapat tempat, dan tak saling mematikan. Sementara sebagian penerbit indie telah berubah menjadi penerbit besar.

Sedangkan literasi di Indonesia mengalami berbagai tantangan. Yakni terjadi skralisasi sejumlah kitab atau buku yang disucikan, muncul kapitalisasi buku sehingga harga menjadi mahal dan Indonesia mengalami perubahan landskap dari buku cetakan ke buku digital.

“Indonesia belum jenak dari buku cetak, tiba-tiba melanting berubah ke buku digital,” ujarnya.  Penerbit indie diharapkan menjadi penyeimbang penerbit besar sehingga harga buku menjadi cukup terjangkau. Serta memberikan buku bacaan yang berkualitas tak hanya sekedar mengikuti perkembangan pasar.

Djoko menambahkan buku berkualitas di tengah publik tak mudah, lantaran buku telah masuk dalam industri yang harus menyesuaikan pasar. Menurutnya penerbit indie menjadi penggerak untuk menghadirkan buku berkualitas. Lantaran buku tak dibatasi minimal cetak, tak dipengaruhi pasar, dan ditentukan penerbit besar.

Adhe Makruf dari penerbit Octopus, Eka Keong dari penerbit OAK, Arif Abdulrahim penerbit Omah Ilmu dan guru besar Sastra dan Bahasa Universitas Negeri Malang Profesor Djoko Saryono sebagai pembicara dalam diskusi Buku Indie Kemerdekaan Berliterasi. (Muntaha Manshur?Terakota.id)

“Siapapun berhak mencetak, mendistribusikan sendiri, menentukan pasar sendiri, tidak bergantung kepada industri perbukuan,” kata Djoko.  Adhe menjelaskan saat ini tak ada alasan penulis untuk tidak berkarya dan mengedarkan buku ke publik. Pasar, katanya, tidak lagi menjadi batas-batas berliterasi.

“Buku indie tidak mengikuti pasar, tapi kami membuat pasar-pasar baru yang bergeliat. Pada waktunya nanti, ini tidak bisa dibendung,” ujar Eka. Kampung Buku Jogja merupakan komunitas yang digagas oleh para gerilyawan buku indie. Mereka menghadirkan buku lawas atau buku langka, mempertemukan komunitas buku,  dan jalur alternatif. Sekaligus untuk melawan pembatasan buku tertentu.

Kampung Buku Jogja dua tahun lalu dengan empat penerbit indie, kini bertambah menjadi 19 penerbit indie. Penerbit indie berhasil menciptakan jalur alternatif dunia perbukuan untuk disampaikan kepada pembaca.

“Mempertemukan komunitas buku, penulis dengan pembaca, penerbit dengan calon penulis selalu kami upayakan,” kata Arif Abdulrahim. Penerbit indie, katanya, memiliki ciri khas yakni militan, mandiri, memiliki kebebasan, dan bergembira. Siapapun bisa membuat karya tulis sesuai dengan minat dan bakarnya untuk disampaikan kepada publik.

Sedangkan gerakan literasi di Malang juga terus tumbuh dan berkembang. Diramaikan penerbit indie Malang, Pelangi Sastra. Selain itu, juga komunitas literasi seperti Komunitas Kali Metro,G ubuk Cerita, Gubuk Tulis, Kafe Pustaka dan , Perpustakaan Anak  Bangsa.

Sehingga masyarakat  semakin mendekati buku. “Buku adalah obor, sekaligus kemudi bagi sejarah,” tulis Muhidin M. Dahlan dalam “Ideologi Saya adalah Pramis : Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer” (2016).

Pesta sejuta buku menghadirkan 34 penerbit dan ribuan judul buku. Bursa buku diselenggarakan untuk meningkatkan budaya membaca. Terutama ditujukan pada anak-anak untuk mengakrabkan membaca sejak usia dini.

Di depan gedung pameran, puluhan pesawat televisi digantung dan dijajar rapi. Sejumlah peserta swa foto atau selfie dengan latar pesawat televisi yang dipajang untuk mengingatkan banyak anak kecil yang mulai keranjingan televisi termasuk gawai atau gadget.

“Anak-anak sekarang lebih akrab dengan internet dan televisi, jarang membaca buku. Matikan televisi ayo buka buku,” kata Panitia penyelenggara Hinu OS.

Sementara di Malang, sejumlah toko buku juga bertebaran di sejumlah daerah. Bahkan toko buku berjejaring juga lahir di Malang. Termasuk kehadiran penerbit undie yang mulai ramai mewarnai pasar buku di Malang. Sejumlah individu menerbitkan dan mendistribusikan buku secara mandiri.

Pesta sejuta buku juga akan menjadi ruang bertemu, berinteraksi dengan komunitas dan individu pecinta buku. “Ini jawaban atas keresahan kita, budaya membaca menurun,” katanya.

Tinggalkan Pesan