Gaya Hidup Sehat dan Kesadaran Lingkungan di Tengah Pandemi

Terakota.id--Selama pandemi, jargon hidup sehat benar-benar menghiasi lini media sosial kita. Hidup sehat ini berkaitan dengan mulai sadarnya manusia, mengenai pentingnya menjaga kondisi tubuh agar fit dan tidak mudah drop. Mulai dari gaung makanan sehat, hingga olahraga rutin. Sebuah tren kekinian yang sudah menjadi semacam gaya hidup, serta bagian dari Pop Culture. Sebuah budaya yang dijalankan oleh komunitas/masyarakat sebagai sebuah praktik, kepercayaan, dan objek yang dominan atau lazim dalam masyarakat pada titik waktu tertentu. Seperti gaya hidup sehat di tengah pandemi ini.

Pop Culture ini lahir dari semangat zaman, yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh era modern yang didorong oleh media massa, kumpulan ide ini meresapi kehidupan sehari-hari orang-orang dalam masyarakat tertentu (McGaha, 2015, Popular Culture and Globalization). Jika pandangan McGaha pada media massa, kini akselerasi ide ini didorong oleh media sosial, salah satunya peran dari agentinfluencer” dan field “situasi terkini yakni pandemi” sehingga mendorong ide hidup sehat sebagai bagian gaya hidup mudah diterima.

Lebih lanjut, Pop Culture ini menurut Adorno dalam catatannya bersama Horkheimer dalam buku “Dialectic of Enlightenment pada bagian The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception (hal 95-98)” adalah bagian dari Culture Industry. Baginya budaya ini mirip dengan pabrik yang memproduksi budaya sebagai komoditas dengan standar tertentu seperti industri film, program radio, majalah, dll.

Oleh Adorno, hasil budaya tersebut digunakan untuk memanipulasi masyarakat massa menjadi pasif dan terjebak pada kondisi di mana pasar memainkan penuh kehidupan suatu individu. Dalam konteks ini sangat berkaitan dengan konsumsi kesenangan budaya populer praktis yang keberadaannya disediakan oleh media massa/komunikasi, membuat orang patuh dan puas, tidak peduli seberapa sulit keadaan ekonomi mereka.

Di sinilah saya ingin membahas bahwa gaya hidup sehat di tengah pandemi ini tak lebih sebuah aktivitas dominan yang dilakukan sebagian besar orang, dengan dipicu oleh informasi dari media yang tujuannya menurut hemat saya ada tiga, yakni pertama, mempromosikan hidup sehat sebagai tindakan sosial. Kedua, meningkatkan eksistensi di dalam ruang sosial masyarakat. Dan yang ketiga adalah untuk akumulasi keuntungan. Karena gaya hidup sehat ujung-ujungnya adalah konsumsi seperti biasa!!

Gaya hidup sehat tidak dibarengi sebuah kesadaran mengakar, bahwa hidup sehat tidak sekadar bergerak dan konsumsi. Tetapi benar-benar sadar betapa hidup sehat sangat dipengaruhi oleh pemahaman di manakah hidup sehat ini berasal. Salah satunya sadar dan peka terhadap kondisi lingkungan yang semakin kritis dan kronis. Perubahan iklim, polusi udara, problem sampah hingga problem nutrisi pada makanan yang mulai dipenuhi racun industri. Hingga relasi produksi yang menghancurkan alam, sekaligus mengalienasi (mengasingkan) manusia dari eksosistem.

Meski diklaim selama pandemi udara menjadi bersih, tetapi faktanya tidak demikian baik di Surabaya maupun Jakarta jika merujuk pada indeks kualitas udara IQAIR berada di atas batas ambang PM 2.5 sebuah batas paparan polusi yang ditetapkan oleh WHO. Artinya meski kita melakukan olah tubuh, meski sehat sebenarnya juga tidak sehat.

Apalagi kebutuhan kita sekarang adalah oksigen, yang mau tidak mau diproduksi oleh alam. Karena menurut WHO bahwa oksigen medis setidaknya kadarnya 82 persen murni dan bebas dari kontaminasi. Secara proses dihasilkan dari gas di udara yang dipisahkan menjadi berbagai komponen setelah didinginkan menjadi keadaan cair dan kemudian oksigen cair diekstraksi darinya.

Perlu dicatat juga bahwa paparan polusi udara terutama NO2 (Nitrogen Dioksida) dan PM2.5 dapat meningkatkan kerentanan infeksi dan kematian akibat COVID-19. Data yang tersedia juga menunjukkan bahwa paparan polusi udara dapat mempengaruhi penularan COVID-19. Selain itu, polusi udara dapat menyebabkan efek buruk pada prognosis pasien yang terkena infeksi SARS-CoV-2 (Ali dan Islam, 2020)

Selain itu polusi udara juga berdampak pada persoalan kesehatan mental apalagi di masa-masa pandemi seperti ini. Sebuah artikel jurnal melaporkan bahwa bahwa perubahan iklim, polusi udara, dan pandemi COVID-19 dapat memengaruhi kesehatan mental, dengan gangguan mulai dari respons emosional negatif ringan hingga kondisi kejiwaan yang parah, khususnya, kecemasan dan depresi, gangguan terkait stres atau trauma, dan penyalahgunaan zat.

Kelompok yang paling rentan antara lain lansia, anak-anak, perempuan serta orang dengan masalah kesehatan yang sudah ada terutama penyakit mental, subjek yang menggunakan beberapa jenis obat termasuk obat psikotropika, individu dengan status sosial ekonomi rendah, dan imigran. Selain itu pandemi COVID-19 juga mengungkap semua kerapuhan dan kelemahan ekosistem kita, dan ketidakmampuan untuk melindungi diri dari polutan (Marazziti et al, 2021).

Gaya hidup sehat dan kesadaran akan lingkungan baik dan sehat, khususnya dalam konteks polusi udara, belum bicara sampah plastik dan organik hingga B3 yang menumpuk selama pandemi dengan ancaman-ancamannya, telah menunjukkan bahwa gaya hidup sehat jika tidak dibarengi kesadaran akar sehat yang sesungguhnya, hanya sekedar tren yang tidak berguna.

Sebab paparan plastik di alam akan mempengaruhi ekosistem terutama organisme yang memproduksi oksigen. Sebagai contoh artikel Lina Zeldovich di Daily.jstor.org “Is Plastic Pollution Depriving Us of Oxygen?” mengungkapkan jika paparan plastik di lautan menyebabkan komposisi komunitas Prochlorococcus laut menurun dan kondisi itu berpotensi menganggu komposisi dan produktivitas komunitas fitoplankton laut yang memproduksi oksigen. Artinya produksi oksigen terancam juga oleh plastik.

Sudah jelas kan, bagaimana gaya hidup sehat harus dibangkitkan dari kesadaran bahwa kita harus mulai peduli pada lingkungan. Paling tidak catatan ini menggarisbawahi sebuah kesalahan dan pengabaian kita terhadap bencana yang berasal dari perubahan iklim atau polusi. Lebih jauh sebagai konsekuensi dari aktivitas kita sebagai manusia terlepas dari habitat alami dan terus meningkatkan kemungkinan limpahan virus dari hewan ke manusia, hingga meningkatkan kerentanan dan bahaya lainnya yang akan mengancam dikemudian hari.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini