Garis Pena Sumber Kehidupan

Maruto harus bolak-balik Pakisaji-Malang untuk bertemu dan berinteraksi dengan seniman muda. Waktu yang didedikasikan untuk pelukis muda ini merupakan bagian dari balas dendam masa lalu. “Dulu saya dengan menggambar seperti ini saya tak punya temen. Tak masuk kategori seniman waktu itu.  Gambar seperti ini belum diakui,” katanya.

Oleh : Jatiayu*

Terakota.id–Tangan Maruto Septriono, 50 tahun, luwes menari di atas kertas. Goresan pena, garis demi garis membentuk pola gambar sesuai sketsa. Perupa jebolan Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang sekarang Universitas Negeri Malang ini menekuni profesi sebagai pelukis sejak 13 tahun silam. Dia mematahkan keraguan sejumlah orang, jika seni mampu menjadi sumber kehidupan keluarga.

Hasil jerih payahnya sebagai seniman, telah membuahkan hasil. Sebuah sebuah rumah tinggal di Pakisaji, Kabupaten Malang dibeli dari hasil karyanya. Serta membiayai pendidikan tinggi untuk anak semata wayangnya. “Awalnya saya nggak percaya gambar serem gini siapa yang mau beli,” katanya.

Ternyata konsistensinya berkesenian telah mematahkan pikirannya sendiri. Dia mengaku mendapat kemudahan selama berkecimpung di jalur seni. Sosok Maruto menjadi guru bagi para seniman muda Kota Malang. Hasil karya Maruto pun kerap mengikuti ajang pameran bergengsi nasional. Meliputi Bali, Jakarta, Surabaya, dan Malang.

Beragam apresiasi telah diterima, termasuk penghargaan dari penikmat seni. Sejumlah kolektor lukisan rela merogok kocek dalam demi membawa pulang lukisan Maruto.  Tak hanya kolektor dalam negeri, pembeli juga berasal dari luar negeri antara lain Singapura dan Prancis.

Sebuah lukisan karya Maruto ditebus mulai seharga Rp 3,5 juta. Seniman yang ramah ini mengaku mengidolakan maestro mendiang Affandi Koesoema. Seniman asal Yogyakarta ini memberikan energi positif sehingga memberikan warna dalam setiap karyanya.

Bagi Maruto, Affandi yang kerap melukis abstrak ini merupakan pelukis luar biasa yang miliki Indonesia sejak era kemerdekaan. Maruto tak pelit, dia membagikan keterampilan dan pengetahuan dalam melukis. Secara sukarela, membuka sebuah kelas menggambar di komunitas seni Kota Malang bernama Pena Hitam.

Maruto harus bolak-balik Pakisaji-Malang untuk bertemu dan berinteraksi dengan seniman muda. Waktu yang didedikasikan untuk pelukis muda ini merupakan bagian dari balas dendam masa lalu. “Dulu saya dengan menggambar seperti ini saya tak punya temen. Tak masuk kategori seniman waktu itu.  Gambar seperti ini belum diakui,” katanya.

Sehingga, dia rela menemani dan belajar bersama dengan pelukis muda Pena Hitam. Dia mengaku akan terus menemani para pelukis muda. Kelas menggambar dibuka sejak dua tahun lalu. Sebagian peserta kelas menggambar telah menghasilkan karya.

Ada yang produktif dan menjual lukisan dengan harga yang mahal. Maruto tak sekedar memberikan teknik melukis, dia juga memberikan motivasi kepada setiap peserta kelas menggambar.

“Sebuah proses harus dihargai,  memiliki makna penting dalam berkarya,” ujarnya. Kita akan menjadi pelukis luar biasa, katanya, jika mengenali ruang privasi kita sendiri, dan tidak mengurusi ruang privasi orang lain. Seni, katanya, adalah kecintaan. Seni merupakan sesuatu yang tak terdefinisi secara mutlak.

Maruto berpegang teguh pada nasihat ibunya, “Manusia hidup dari potensi yang dia punya.” Nasihat itu menjadi prinsip yang dipegangnya hingga sukses berkarya di bidang seni lukis.

 *Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan