Garden Music Svaratatra, Kolaborasi Musik Anak Negeri

Terakota.id—Sebuah pertunjukan musik kolaboratif bakal ditampilkan dalam Garden Music Svaratatra di Griya Universitas Brawijaya Malang, Jumat, pukul 15.00 WIB, 3 November 2017. Menampilkan Log Sanskrit, Komunitas Anak Negeri, dan Kotekan Cempluk. Log Sanskrit bakal menampilkan kesenian dan  budaya India, sementara Komunitas Anak negeri, dan Kotekan Cempluk mengangkat musik tradisi nusantara.

Yuk, ajak semua teman untuk menghadiri acara yang didukung Terakota.id. Log sanskrit didirikan Asrie Tresnady seorang pegiat seni budaya dan ahli sitar. Digagas pada medio 2009 di kota Vadodara, India, memakai media jurnal dan blog yang menjadi ruang diskusi berpikir dalam pemikiran baru dunia indologi lintas profesi di berbagai belahan dunia. Menjadi ajang refleksi ruang kesederhanaan berpikir manusia dalam menyerap ilmu.

Pada 1 Desember 2015, Log Sanskrit mendirikan ashram kecil di kota Yogyakarta. Ruangan dan lahan disumbang oleh seniman Yogyakarta Samuel Indratma dan seluruh pegiat seni budaya di indonesia. Menurut Asrie Tresnady, ashram ini diproyeksikan menjadi salah satu ruang untuk kontribusi bagi masyarakat luas secara konkret.

Melalui berbagai program dan aktivitas. Log sanskrit berperan sebagai modul pergerakan. Metode belajar di Log sanskrit adalah adopsi dari Guru-Shisya atau “parampara”. Dalam khasanah Nusantara, khususnya Jawa juga dikenal sebagai nyantrik yang menitikberatkan pada hubungan spiritual, emosional dan pendampingan. Sebuah ajaran atau gagasan ditransmisikan dari seorang guru “guru” (bahasa Sanskerta: गुरु) ke muridnya atau “śiṣya” (bahasa Sanskerta: शिष्य).

Pengetahuan seperti itu diberikan melalui hubungan yang berkembang antara guru dan murid. Hubungan yang dibangun berdasarkan keaslian guru dan rasa hormat, komitmen bersama, serta ketaatan siswa, Merupakan cara terbaik untuk pengetahuan lebih dalam atau lanjutan yang akan disampaikan. Sesuai dengan kemampuannya, siswa akhirnya menguasai pengetahuan yang diajarkan guru dengan utuh atau holistik.

Kotekan cempluk merupakan bentuk bebunyian kreasi muda-mudi kampung cempluk, Sumberjo, Dau, Kabupaten Malang. Kotekan cempluk bermula dari kegelisahan pemuda kampung cempluk, lahirlah bebunyian khas kampung cempluk yang dikemas dengan komposisi musik yang bisa harmoni.

Redy Eko Prastyo menggagas kotekan cempluk disambut Cak Budi Ayin salah satu perajin kayu di kampung cempluk. Lantas Cak Budi membuat instrumen berbahan bamboo. Sementara proses tuning-nya didampingi Redy Eko Prastyo. Beberapa elemen dari instrumentasi berupa perkusi bambu semacam vibraphone yang selaras dengan nada diatonic. Kenapa pilihan diatonic? Agar fleksibel dan mudah jika berkolaborasi dengan instrumentasi lain. Seperti gitar akustik,bass,dan dawai flying fish.

“Semoga kotekan cempluk ini menjadi khasanah ragam bunyi di Malang Raya,” kata Redy.

Komunitas Anak Negeri merupakan komunitas mahasiswa di Malang yang gemar berekspedisi ke kawasan tapal batas. Meliputi Lumbis Ogong, Kalimantan Utara perbatasan Indonesia-Malaysia, Kabupaten Belu (Atambua) dan Kabupaten Malaka, Propinsi Nusa Tengara Timur Entikong, perbatasan Indonesia-Timor Lestedan Kepulauan Natuna perbatasan Indonesia-Malaysia. Komunitas bermoto Bagimu Negeri Jiwa dan Raga Kami ini dirintis alumni Universitas Tri Bhuwana Tungga Dewi, Ata Lose dan dua mahasiswa Jefri Lopes dan Karoby 2015 silam.

Mereka melakukan aktvitas sosial di daerah perbatasan seperti mendirikan rumah baca untuk anak-anak. Aneka jenis buku bacaan sumbangan dari mahasiswa dan pemuda di Malang turut dibawa dalam perjalanan itu. Biaya perjalanan diperolah dengan mengamen keliling Kota Malang. Kreasi musik ini pula yang mengantarkan aktivitas bermusik.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini