Ganzer, Pemuda Pelestari Sasando

Ganzer tengah mengembangkan Sasando dimainkan dalam Sembilan tangga nada. Selama ini, Sasando hanya bisa dimainkan dalam dua nada saja. Juga bereksperiman untuk menggunakan dawai nilon atau string. Secara tradisional Sasando menggunakan dawai dari serat akar tanaman terus berkembang menggunakan usus satwa kuskus. Sedangkan secara elektrik, pertama kali dimainkan oleh keluarga Edon di Kupang dan berkembang sampai sekarang.

Semangat Sumpah Pemuda (1)

Terakota.id–Puluhan mata menatap takjub sebuah alat musik dawai asal Pulau Rote,  Nusa Tenggara Timur, Sasando dalam workshop dawai di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang, Jumat, 20 Oktober 2017. Workshop merupakan rangkaian Festival Dawai Nusantara #3. Mata pengunjung tertunju pada alat musik petik yang diletakkan di depan panggung.

Alat musik yang bagian utama terdiri dari tabung panjang terbuat dari bambu, yang dirangkai dengan dawai direntangkan dalam sebuah wadah anyaman daun lontar berbentuk kipas.  Daun lontar dibentuk seperti kipas ini merupakan resonator. Para pengunjung semakin terpikat saat Agusto Andreas Nagalang naik ke panggung dan memainkannya.

Mengenakan topi khas Ti’ilangga sambil memainkan instrumen tradisi masyarakat di daerah Kupang. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini khusuk memainkan Sasando. Tepuk tangan bergema di setiap sudut ruangan mengapresiasi permainan Agusto yang terkenal dengan sapaan Ganzer. “Sasando bisa dimainkan untuk mengiringi musik pop, rock maupun dangdut,” kata Ganzer.

Perkenalan Agusto dengan Sasando sejak empat tahun lalu. Sebelumnya dia lebih memilih memainkan gitar. Lelaki asal Atambua ini penasaran dengan Sasando sejak sejumlah teman sesama mahasiswa ISI menanyakan karakteristik Sasando. Sementara dia selama ini tak pernah mengenal dan mendengarkan Sasando. “Malu saya, asli NTT tapi tak mengerti Sasando,” katanya.

Saat musim liburan dia pulang ke Atambua dan harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam menumpang bus menuju Kupang. Di sana dia mengunjungi sanggar Edon Sasando Elektrik, dia melihat sejumlah pemuda dan anak-anak belajar bermain Sasando. Dia takjub mendengar suara Sasando yang lembut dan mengeluarkan suara khas. “Merinding saya mendengarnya, seumur hidup baru kali pertama mendengar Sasando. Saya langsung jatuh cinta,” ujarnya.

Sejak saat itu, dia mempelajari Sasando. Selama sebulan, dia intensif sepekan dua kali berlatih memainkan sasando. Lantas dia mengembangkan dan belajar secara mandiri agar bisa mahir bermain. Selepas kuliah dia memainkan Sasando di tempat kos dan berlatih bersama sejumlah teman di dalam kampus. Dia juga tertantang untuk melestarikan dan mengenalkan Sasando ke seluruh pelosok negeri.

Sebab, selama ini tak banyak pemuda yang tertarik memainkan Sasando. Mereka lebih memilih alat musik gitar, biola dan alat musik modern lainnya. Sejak Berto Pah mengikuti audisi ajang pencarian bakat di Trans TV ‘Indonesia Mencari Bakat’ pada 2012 dan kakaknya Djitroh Pah mengikuti Indonesia’s got talent, banyak anak muda yang tertarik belajar. Mereka bermimpin bermain Sasando di televisi dan berkeliling dunia memainkan musik Sasando.

“Saat ini sekitar 500 an anak yang belajar Sasando di sanggar Edon,” katanya. Kini, sanggar Edon diteruskan oleh anak pertama almarhum Edon, Habel Edon. Sedangkan Ganzer mencoba mempopulerkan di Yogyakarta, kota tempat dia menuntut ilmu.

Ganzer mengawali menunjukkan keterampilan memainkan Sasando di sebuah kafe di Yogyakarta. Dia mengajak sejumlah temannya memadukan Sasando dengan alat musik biola, bass, klarinet, selo, perkusi, kulanter asal Sunda, sapek asal Dayak Kalimantan, udu pot asal India dan hulusi asal Cina.

Tak menyangka, konser pertama kalinya ini menarik perhatian pengunjung kafe. Masyarakat Yogyakarta dan turis mancanegara memenuhi kafe. Mereka tertarik untuk melihat dan mendengarkan alat musik Sasando yang saat itu jarang dimainkan di depan umum. Meski waktu persiapan singkat, namun dia puas bisa tampil menghibur pengunjung kafe.

“Pengunjung membludak memenuhi kafe yang sempit,” ujarnya.

Sejak itu, dia secara berurutan diundang Kedutaan Indonesia di Malaysia dan Kazakstan untuk bermain Sasando. Mengenalkan musik tradisi Nusa Tenggara Timur di hadapan masyarakat internasional. Meski, dia mengaku baru belajar dan banyak kekurangan dalam bermain namun dia tetap bertekad untuk mengembangkan Sasando.

Kini, dia tengah mengembangkan Sasando agar bisa dimainkan dalam Sembilan tangga nada. Selama ini, katanya, Sasando hanya bisa dimainkan dalam dua nada saja. Dia juga tengah bereksperiman untuk menggunakan dawai nilon atau string.

Secara tradisional Sasando menggunakan dawai dari serat akar tanaman terus berkembang menggunakan usus satwa kuskus. Sedangkan secara elektrik, pertama kali dimainkan oleh keluarga Edon di Kupang dan berkembang sampai sekarang.

Penggagas Festival, Redy Eko Prasetyo menjelaskan festival kini anak muda lebih tertarik belajar intrumen gitar dan biola. Namun mereka tak mengenal instrumen tradisi nusantara,  padahal ragam instrumen dawai di nusantara, mencapai 70 jenis.

Meliputi instrumen rebab dan siter dari Jawa, yang biasa digunakan dalam bermain musik gamelan. Sedangkan Makassar memiliki kacaping dan sinrili, Sunda ada kecapi, di Nusa Tenggara Timur ada Sasando, di Betawi ada teyang, di Suku Dayak ada sapek.

Instrumen, didendangkan dengan nyanyian yang berkisah tentang kehidupan tradisi, doa, alam dan cinta kasih. Instrumen nusantara telah melintasi zaman, menjadi simpul dan pengingat tentang apa, siapa dan di mana kita hidup. Instrumen dawai tak hanya dipetik, dan digesek tetapi setiap bunyi memiliki kisah.

“Kita menjadi saksi keindahan musik tradisi nusantara,” ujarnya. Ada jejak yang hilang, katanya, ada pertautan sejarah, peradaban, kearifan lokal dan jati diri. Ganzer memainkan sasando merupakan upaya melawan keterasingan budaya di negeri sendiri. Para musisi juga bertanggungjawab merumuskan nasib hidup musik nusantara kedepan.

Ganzer tengah mengenalkan dan mempromosikan music tardisi melalui bunyi intrumen dawai tradisional. Selama ini, Indonesia dikenal karena letak geografis dan keindahan alam. Sedangkan instrumen tradisi tak digali secara optimal. “Orang mengenal suara siter dari India. Promosi akan lebih efektif dengan sasando,” katanya.

Berkembang Mengikuti Zaman

Sasando intrumen asal Rote, NTT. Ganzer bersentuhan dengan sasando sejak empat tahun silam. (Foto : dokumentasi pribadi).

Festival, kata Redy, sekaligus mendokumentasikan instrumen tradisi yang ada. Membangun jejaring para seniman instrumen dawai nusantara sekaligus menggemakannya melalui seni pertunjukkan. Bahkan seluruh pertunjukkan direkam dan diunggah di situs internet untuk memudahkan masyarakat mengenal instrumen tradisi.

Redy berharap instrumen dawai seperti Sasando bisa berkembang mengikuti perkembangan zaman. Sesuai dengan tren kekinian yang berkembang. Tak hanya mengaransemen instrumentalia baru, tetapi juga bisa dikembangkan dalam permainan yang menarik anak muda mengenal dan mempelajari instrumen dawai.

Redy berharap bisa memperkenalkan nusantara melalui bunyi, mengilustrasikan nusantara melalui audio. Membuat video klip, selama ini para pegiat musik tradisi tak pernah berfikir untuk apa yang dilakukan paska produksi. Padahal pada 1988 sminth sonian, full album 20 great folk Indonesia. “Kita memulai membuat dokumentasi kebudayaan,” ujarnya.

Instrumen dawai, katanya, memiliki ragam corak dan cirri seperti timbre atau warna dan cara memainkan. Ada instrumen yang dipetik, digesek dan dipukul. Nada setiap instrumen berbeda, faktor lingkungan sekitar yang memperngaruhinya.

Memperingati Sumpah Pemuda 2017, Terakota.id menurunkan laporan tokoh pemuda yang menjadi pahlawan dalam bidang seni, budaya, sejarah dan pariwisata. Tunggu laporan selanjutnya. 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini