Gagal Pertahankan Adipura Kencana, Wali Kota Malang Kecewa

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyerahkan penghargaan plakat Adipura kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agoes Edy Poetranto. (Foto : dok humas Pemkot Malang).

Gagal Pertahankan Adipura Kencana, Wali Kota Malang Kecewa

Terakota.id–Wali Kota Malang Sutiaji memimpin apel di depan Balai Kota Malang, Senin 14 Januari 2019. Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) berbaris berjajar di halaman Balai Kota Malang. Sutiaji menyampaikan kekecewaannya, atas kegagalan Pemerintah Kota Malang meraih piala Adipura.

Padahal sejak 2013, Kota Malang berturut-turut mendapat Adipura. Padahal tahun lalu, Kota Malang sempat memperoleh penghargaan tertinggi Adipura Kencana. Pada 2016 Pemerintah Kota Malang menerima piala Adipura Kirana. “Grade Kota Malang turun drastis hanya mendapat plakat Adipura. Saya sengaja tak hadir ke Jakarta,” kata Sutiaji.

Wali Kota Malang Sutiaji bakal mengevaluasi penataan dan pengelolaan lingkungan di Kota Malang. Menyusul kegagalan Pemerintah Kota Malang memperoleh piala adiwiyata dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Predikat adipura turun drastic. Ini menjadi tamparan bagi kita,” ujarnya.

Wali Kota Malang Sutiaji menyerahkan penghargaan Adiwiyata kepada 36 sekolah SD dan SMP di Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Evaluasi, dilakukan menyeluruh agar mendapat kembali piala Adipura Paripurna. Instrumen penilaiannya banyak, katanya, sehingga semua pihak harus bekerja keras untuk dipacu. “Kompetitor kita semakin kuat. Instrumen penilain semakin meningkat. Ini tak masuk akal, turun drastis,” ujarnya.

Sementara, Wali Kota Malang menyerahkan penghargaan sekolah Adiwiyata tingkat Kota Malang. Penghargaan diserahkan kepada 36 sekolah. Penghargaan bagi sekolah berbasis lingkungan diharapkan mendidik pelajar sejak dini agar mencintai lingkungan.

Sekaligus menumbuhkan karakter siswa yang senantiasa menghargai alam. “Serta mendidik pelajar hidup berdampingan dengan alam,” katanya.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Purnawan D Negara menilai selama ini adipura dijadikan modal sosial bagi politik kepala daerah. Terutama dimanfaatkan untuk meraih dukungan dalam Pemilihan Kepala Daerah. Sehingga tak serius menangani persoalan lingkungan.

Pemerintah Kota Malang, katanya, selama ini hanya mengunggulkan revitalisasi ruang terbuka hijau (RTH). Memperbaiki taman sehingga terlihat indah, namun mengabaikan aspek sosial. “Revitalisasi hanya memoles dan menjadi kosmetika belaka,” katanya.

Revitalisasi dengan dana tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) tak sesuai esensi membangun lingkungan hidup. Sehingga harus dievaluasi dan ditata menyeluruh. “Wali Kota Malang menjadi bagian pemerintahan yang dulu,” ujarnya.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun Alun – alun Malang pada tahun 1882. Menjadi penanda Belanda menancapkan kekuasaannya di Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Seharusnya, kata Purnawan, korporasi diajak berkolaborasi untuk memperluas RTH. Bahkan Purnawan cenderung melihat Pemerintah Kota Malang sering mengekslpoitasi RTH. Mulai taman kunir, hutan kota malabar, dan perubahan alih fungsi hutan kota Akademi Penyuluh Pertanian (APP) Tanjung berubah menjadi perumahan elite dan pusat perbelanjaan.

Sesuai Undang Undang nomor 26 tahun 2007 tentang tata ruang seharusnya setiap kota memiliki RTH seluas 30 persen dari luas Kota. Sementara RTH yang tersisa di Kota Malang seluas 2,5 persen dari luas Kota Malang 110,6 kilometer persegi.

Sehingga menimbulkan masalah seperti genangan dan banjir yang melanda kota Malang beberapa tahun terakhir. Bahkan terjadi eksploitasi bentang alam seperti bantaran sungai tertutup dan dibangun ruko. Sehingga terjadi sumbatan dan menimbulkan banjir.

Selain itu, pengelolaan sampah tak dilakukan mulai dari hulu. Kesadaran masyarakat membuang sampah secara benar rendah. Bahkan, banyak permukiman yang berada di bantaran sungai yang membuang sampah langsung ke sungai. “Sampai jembatan dipasang kamera pengawas dan pagar tinggi,” katanya.

Pemerintah harus menyediakan fasilitas pembuangan sampah. Termasuk pengelolaan sampah di hulu agar semakin efektif. “Disediakan tiga jenis sampah, dipisahkan. Tapi saat pengangkutan kembali menjadi satu,” katanya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini