Filolog Dick Van Der Meij Menilik Naskah Manuskrip Kuno

Kitab Jenggala berisi kisah kerajaan Jenggala, penulisnya anonim. Dilihat jenis kertas naskah manuskrip tersebut ditulis pada 1800. Naskah ditulis dengan aksara Jawa kuno.

Terakota.id–Sejumlah kitab dan buku manuskrip menumpuk di atas meja. Filolog dan visiting professor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Dick Van Der Meij mengambil sebuah buku. Ia meneliti dan memeriksa buku yang bertulis aksara Jawa kuno. Ia membaca lirih, manuskrip berbahasa Jawa halus.

“Buku ini perlu didigitalisasi, ada tinta yang memakan kertas. Sayang kalau musnah,” katanya. Ia tengah bekerja untuk memproses digitalisasi buku dan kitab kuno agar mudah dipelajari. Serta bisa ‘abadi’ meski kertas dan buku tersebut habis dimakan usia. Sejumlah naskah kuno tersebut, katanya, memiliki makna dalam mengkaji kebudayaan Jawa.

Sedangkan untuk menyimpan naskah kuno, harus mendapat perlakuan khusus. Temperatur udara harus dijaga dan tak sembarangan memegang kertas yang berusia lebih dari 100 tahun. Kertas lapuk, katanya, bisa rusak dan hancur saat disentuh. Sehingga harus dijaga kelembaban dan perlakuannya agar tak rusak.

Dick yang bernama lengkap Theodorus Cornelis ini tertarik menekuni bahasa dan budaya Jawa pendidikan sarjana di Universitas Leiden Belanda. Dick juga menamatkan pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Negeri Malang 1980. Sejak itu, ia mencintai dan menekuni kebudayaan Jawa. Beragam buku, naskah kuno dan kitab budaya Jawa yang dipelajarinya.

Dick Van Der Meij meemriksa naskah kuno manuskrip koleksi Lulut Edi Santoso. (Terakota/Eko Widianto),

“Saya punya waktu untuk menekuninya,” katanya. Dick khusus mendatangi rumah guru seni SMA Negeri 3 Malang Lulut Edi Santoso. Ia memeriksa sejumlah koleksi naskah kuno dan manuskrip  yang dikoleksi Lulut. Ia berharap semua manuskrip tetap terjaga dan terawatt agar bisa dipelajari demi ilmu pengetahuan.

Lulut memiliki 16 naskah kuno yang diperolehnya dari berburu ke sejumlah kolektor. Naskah manuskrip ini berisi tentang ketahulidan,  fiqh,  keisalaman, kisah Raja Brawijaya, Kerajaan Panjalu, dan Jenggala. Serta sebuah naskah kuno yang ditulis dalam aksara Jawa kuno tentang nama cina di Indonesia.

Baca juga :  Dialog Dedes pada Arok

Kitab Jenggala yang berisi kisah kerajaan Jenggala, katanya, penulisnya anonim. Dilihat jenis kertas naskah manuskrip tersebut ditulis pada 1800. Ia mendapat dari berburu di Yogyakarta. Naskah ditulis dengan aksara Jawa kuno.

Arsipkan Naskah Kuno dan Manuskrip

Naskah manuskrip ini diarsipkan sejak lama, ia tak akan menjual naskah tersebut. Namun akan dipindai secara digital untuk dipalajari bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Serta berharap bisa berkontribusi dalam pelestarian budaya Jawa.

“Sementara yang penting darsipkan dulu. Bisa juga dicetak ulang untuk dipelajari,” ujarnya. Niatan guru yang menyukai sejarah ini sengaja mengumpulkan naskah kuno agar tak lari ke luar negeri.  Lantaran sebuah naskah langka yang dimilikinya telah lepas dan dijualbelikan ke orang lain. Diduga naskah tersebut telah lari ke luar negeri. “Saat itu saya butuh uang,” katanya.

Ia juga memiliki Babad Malang, bertulis huruf jawi. Naskah manuskrip yang ditulis tangan di atas kertas cina ini berisi sekitar 300 halaman. Naskah berbentuk tembang.  Ia mendapat dari seorang seniman yang berharap naskah itu bisa dirawat dan dilestarikan.

“Saya belum membaca utuh. Naskah dibuka dengan rembang asmara dana,” katanya.  Naskah tersebut diperkirakan ditulis pada 1700. Selain itu, Lulut juga memiliki sebuah kitab yang diwariskan dari kakek buyutnya. Buku itu diperkirakan diwariskan dari Ki Ageng Sela.

Kertas naskah manuskrip yang rusak dimakan usia. Kertas pecah lantaran ‘termakan’ tinta. (Terakota/Eko Widianto).

Untuk menjaga naskah kuno itu, ia membungkusnya dengan plastis. Selain itu juga disemprot minyak wangi untuk mengusir serangga, dan kutu agar tak  merusak kertas. Selain itu, juga diangin-anginkan serta dilap dengan kain halus.

“Saya awam, menyimpan dan memelihara dengan segala keterbatasannya,” katanya.

Setiap naskah memiliki jenis kertas berbeda. Ada yang ditulis di atas daluwang yakni kertas yang terbuat dari kulit kayu,  ada juga kertas eropa,  bahkan kulit binatang. Karakter kertas eropa, katanya, mudah pecah dan rusak. Sedangkan daluwang awet tak rusak sampai ratusan tahun. Lulut juga  menyimpan Al Quran yang ditulis tangan di atas kulit sapi.

Baca juga :  Asian Games 1962 : Bung Karno Serukan “Dedication of Life”

Lulut menyukai koleksi buku dan barang antik sejak SMP. Ibunya, Maseni berusia 97 tahun yang mengenalkannya dengan buku. Sejak kecil ibunya membacakan beragam cerita. Maseni lulusan Sekolah Kepandaian Putri ini menguasai Bahasa Belanda dan Jepang. Sedangkan mendiang bapaknya Rusmani lulusan Sekolah Rakyat.

Lulut Edi Santoso menunjukkan naskah kuno dan manuskrip yang dikoleksinya. (Terakota/Eko Widianto).

“Cerita yang ibu baca, masih jelas saya ingat,” katanya. Sejak itu, ia hobi mengoleksi buku dan naskah kuno. Saat SMA ia kehilangan banyak buku karena rusak dimakan kutu dan rayab. Buku tersebut rusak saat ia harus menempuh pendidikan di sebuah SMA di Surabaya. Sedangkan buku disimpah di kamar rumah yang berdinding anyaman bamboo dan beralas tanah.

“Lembab sehingga rusak,” ujarnya.

Hobi mengoleksi naskah kuno ini juga menyedot anggaran besar. Uang dari sertifikasi guru habis dibelanjakan untuk membeli naskah kuno. Selain itu, ia juga tekun mendigitalisasi dengan cara memindai naskah kuno tersebut. Semua dokumen dan buku disimpan dalam komputer jinjingnya.

Ia juga mengunduh 150 ribu judul buku dari berbagai perpustakaan dunia. Hobi mengunduh buku dilakukan sejak guru mendapat akses internet gratis. Saban malam ia selama tiga tahun berjelajah ke sejumlah perpustakaan digital. Mnegundul buku secara gratis, namun kini berhenti sejak ada aturan harus membayar nilai tertentu untuk mengunduh buku di perpustakaan.

 

6 KOMENTAR

    • Luar biasa. Apresiasi untuk Pak Lulut. Sempat sharing dengang beliau saat membuat kampanye gerakan penyelamatan naskah Nusantara. Semoga terus lestari khasanah budaya bangsa. Terima kasih untuk Prof Dick Van Der Meij, Prof Peter Carey dan para Indonesianis yang telah membantu memperkaya khasanah identitas bangsa.
      Sukses untuk Terakota..!!

  1. Luar biasa. Apresiasi untuk Pak Lulut. Sempat sharing dengang beliau saat membuat kampanye gerakan penyelamatan naskah Nusantara. Semoga terus lestari khasanah budaya bangsa. Terima kasih untuk Prof Dick Van Der Meij, Prof Peter Carey dan para Indonesianis yang telah membantu memperkaya khasanah identitas bangsa.
    Sukses untuk Terakota..!!

  2. Luar biasa. Apresiasi untuk Pak Lulut. Sempat sharing dengang beliau saat membuat kampanye gerakan penyelamatan naskah Nusantara. Semoga terus lestari khasanah budaya bangsa. Terima kasih untuk Prof Dick Van Der Meij, Prof Peter Carey dan para Indonesianis yang telah membantu memperkaya khasanah identitas bangsa.
    Sukses untuk Terakota..!

  3. Luar biasa. Apresiasi untuk Pak Lulut. Sempat sharing dengang beliau saat membuat kampanye gerakan penyelamatan naskah Nusantara. Semoga terus lestari khasanah budaya bangsa. Terima kasih untuk Prof Dick Van Der Meij, Prof Peter Carey dan para Indonesianis yang telah membantu memperkaya khasanah identitas bangsa.
    Sukses untuk Terakota!

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini