Film Dua Garis Biru yang Mengesankan

Film “Dua Garis Biru” bisa dibilang sangat berhasil mematahkan reaksi negatif dari segelintir orang yang menganggap film garapan Gina S. Noer tersebut menyesatkan.

Film Dua Garis Biru (Sumber: Instagram/duagarisbirufilm)

Oleh: Rachmat At Thariq Ilmansyah*

Terakota.id– Film Dua Garis Biru bisa dibilang sangat berhasil mematahkan reaksi negatif dari segelintir orang yang menganggap film yang disutradarai Gina S. Noer tersebut menyesatkan. Faktanya, penonton film tersebut telah menembus angka satu juta. Dan yang terpenting, tema film berasal dari sebuah problematika yang mungkin sering terjadi di sekeliling kita. Yaitu soal pernikahan dini.

Film menceritakan Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) yang berani mencoba hal yang sangat dilarang dalam hubungan sebatas sepasang kekasih tanpa tahu konsekuensinya. Dara dan Bima harus bertanggung jawab atas pilihan mereka, yaitu pernikahan dini. Banyak konflik dari pihak keluarga, maupun dari lubuk hati yang terdalam pasangan muda tersebut.

Gina S. Noer, sutradara film Dua Garis Biru. (Sumber: www.tribunnews.com)

Dua Garis Biru bukan film yang banyak dialog sia-sia. Demi efektifnya sebuah cerita, Gina meracik semua unsur untuk dapat  berbicara meski tidak lewat dialog. Misalkan melalui adegan dua orang yang saling bertatap muka, atau mimik wajah karakter. Semuanya menyampaikan suatu pesan yang bisa sampai ke penonton.

Bahkan, benda mati pun seolah olah dapat  “berbicara”. Seperti buah stroberi yang ditaruh perut Dara, kemudian stoberi itu dihancurkan dengan cara diblender. Lalu, jus stroberi itu ditinggalkan begitu saja. Tiga hal tersebut seakan menggambarkan keputusan macam apa yang akan dipilih Dara dan Bima.

Dalam film ini, komedi yang disajikan juga tidak membuat penonton tertawa. Justru, unsur komedi diselipkan layaknya dua kutub magnet yang saling menegasikan. Atau mirip arus listrik, antara positif dan negatif.

Di satu sisi, komedi yang terselip dapat mencairkan suasana dari masalah yang teramat sangat  serius yang ditampilkan sejak awal. Sedangkan di sisi lain, malah merusak momen serius yang seharusnya dapat disadari oleh penonton. Contohnya, pada adegan dimana  kakaknya Bima yang marah-marah karena perbuatan sangat  bodoh yang dilakukan oleh  adiknya. Ekspresi kesal super maksimal yang seharusnya bikin penonton sedih, malah sebaliknya. Ia membuat penonton tertawa.

Senyum Bima dan tatapan mata Dara yang bikin baper. (Sumber: jadwalxxi.id)

Karakter yang Maksimal

Seperti dalam skripnya, semua karakter dibuat sangat padat dan berakting secara maksimal, termasuk para cameo. Saking detailnya, Gina membuat seolah-olah semua orang yang terlibat dalam frame tidak gabut. Contohnya, adegan dimana para tetangga Bima yang secara tidak langsung memberikan bocoran soal kehidupan rumah tangga yang penuh permasalahan. Atau keberadaan tokoh Asri Welas yang secara sekilas menggambarkan respons natural dalam melihat kehamilan dini.

Setelah menonton film Dua Garis Biru, wajar jika salah satu aktor yang patut kalian beri tepuk tangan adalah Zara JKT48. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, debutnya sebagai pemeran utama dapat  dibilang cukup berhasil dan tanpa cela. Aktingnya juga mampu menyempurnakan debut Gina sebagai sutradara di film produksi Starvision ini.

Akting jempolan dari Zara JKT48 sebagai Dara semakin terasa lengkap ketika beradu akting dengan Angga Yunanda sebagai Bima. Tak kalah dengan Zara, Angga juga menampilkan akting yang luar biasa. Bahkan, dari ekspresinya kita seolah telah mendapatkan banyak pesan. Baik ketika dia tengah berdiam, membisu, ataupun bengong.

Kekuatan karakter dalam film ini bisa jadi juga berkat kehdiran beberapa pemain senior. Seperti Cut Mini dan Arswendy Bening Swara sebagai orangtua Bima. Serta Lulu Tobing dan Dwi Sasono sebagai orangtua Zara. Mereka secara apik menyuguhkan gambaran orangtua beda strata dalam menghadapi sebuah masalah.

Detail Visual dan Musik yang Pas

Detail visual yang disajikan dalam film Dua Garis Biru secara jelas menata nuansa dan mengangkat mood adegan. Meskipun yang diangkat adalah problem yang sangat  serius, film ini tidak menggambarkan adanya kesuraman. Nuansa penuh harapan dibangun di dalam film ini. Dengan begitu, seolah pembuat film hendak memberikan motivasi bagi siapapun yang pernah berada di posisi Dara dan Bima.

Pengambilan tipe gambar juga dilakukan berbeda. Pengambilan gambar keluarga Dara di perkotaan yang sangat kaya raya, amat berbeda dengan pengambilan gambar keluarga Bima di perkampungan yang berkecukupan. Di sini strata sosial menampakkan mood gambar masing-masing.

Misalnya, dilihat dari warna kulit. Filmmaker bukan bermaksud rasis. Warna kulit di film Dua Garis Biru turut membedakan cara berpikir dan bertindak ketika menghadapi suatu masalah. Hal ini bisa  teman-teman simak dalam adegan di UKS. Adegan ini bakal jadi adegan yang sangat melekat di film Dua Garis Biru”. Karena pemilihan shoot-nya, emosinya, dan akting yang sangat total.

Musik yang dipilih dalam film Dua Garis Biru tidak diumbar begitu saja. Ibarat masakan buatan ibu, musik diracik sangat pas. Baik ketika musik masuk atau pun ketika musik keluar atau selesai. Racikan musik yang pas turut menopang kualitas film serta memengaruhi kesan yang tertanam di benak penonton.

Dan akhirnya, melalui film ini, bangsa Indonesia harus mulai lepas dari rasa malu, tabu atau takut dengan edukasi seks. Edukasi seks yang tepat dapat dimulai dari internal keluarga. Lantas, ketika sesuatu tidak diinginkan terjadi, seperti yang dialami Dara dan Bima, keluarga harus tahu bagaimana menyikapinya.

Penulis (Sumber: Dok. pribadi).

*Mahasiswa UMM jurusan Ilmu Komunikasi.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini