Film Cinta Bete dalam Balutan Budaya dan Tradisi Atambua  

Hana Prinantina Malasan dan Roy Lolang sebelum nonton bareng di XXI Transmart Kota Malang, Senin 22 November 2021.(Terakota/ NS. Khadijah).

Terakota.id—Film Cinta Bete kental dengan budaya dan tradisi Atambua, Nusa Tenggara Timur. Sutradara Roy Lolang memotret budaya dalam kehidupan sosial masyarakat Atambua. Salah satunya, budaya Atambua dalam proses lamaran pernikahan.

Keluarga laki-laki harus memenuhi permintaan keluarga perempuan, seperti memberikan beberapa ekor sapi, tanah garapan, hingga perhiasan dan lantakan  emas, saat melamar sang pujaan hati. Film ini juga menyuguhkan pemandangan alam sepanjang film, memanjakan mata para penonton.

Selama proses syuting, kata Roy, masyarakat membuka diri dan menyambut dengan hangat. Roy memiliki kesan tersendiri atas keramahan masyarakat Atambua tersebut. Ia sangat terbantu atas dukungan masyarakat Atambua selama syuting.

“Film ini bukan film (milik) saya aja, tapi filmnya Atambua,” katanya kepada Terakota.id, sebelum menonton bareng pemain dan kru film di bioskop XXI Transmart Malang Kota Malang pada Senin, 22 November 2021.

Syuting film dilakukan pada 2019, sempat terhambat saat pandemi Covid-19. Hambatan tersebut, memaksa sutradara beserta kru film menghentikan syuting selama 1,5 tahun. Ia menyebut film ‘Cinta Bete’ merupakan cinta Roy kepada Atambua. “Cinta saya kepada NTT, dan cinta saya kepada Indonesia, saya merasakan itu,” katanya.

Film Cinta Bete kental dengan budaya dan tradisi Atambua, Nusa Tenggara Timur.(Poster: www.facebook.com/cintabete).

Tantangan lain, katanya, terjadi pada jarak lokasi syuting dari satu tempat ke tempat lain. Jarak paling dekat ditempuh selama 1,5 jam. Sedangkan lokasi lainnya ditempuh berjam-jam.

Proses syuting film secara efektif, di lokasi berlangsung dibutuhkan waktu selama sebulan. Namun, pandemi Covid-19 menunda syuting sehingga baru 2,5 tahun film selesai diproduksi. Roy mengaku sangat menikmati proses film yang digarap, lantaran film ini merupakan debutnya sebagai seorang sutradara. Meski selama ini turut membantu “memasak” sebanyak 30-an film sebagai sinematografer.

Roy Lolang menjelaskan film Cinta Bete turut mengangkat isu kekerasan domestik. Pesan yang ingin disampaikan, katanya, terkait banyak kekerasan domestik yang terjadi selama ini.

Kekerasan domestik berasal dari beragam relasi, baik antara suami dan istri maupun ayah dan anak. Ia berharap agar kekerasan domestik berkurang atau dihentikan. Film “Cinta Bete” masuk nominasi Cerita Panjang Terbaik Piala Citra 2021.

Selain itu, juga relasi dua manusia yang terhalang budaya dan agama. Hana Prinantina Malasan yang memerankan Bete mengaku menghadapi tantangan yang cukup berat selama mendalami karakter Bete. Apalagi, didera pandemi membuatnya lupa dengan karakter yang diperankan.

Sehingga, ia harus mengingat-ingat kembali perannya sebagai karakter Bete yang harus diperankan. Hana menginginkan agar emosi dari karakter yang ia perankan mencuat kembali. “Lumayan sebagai challenge tersendiri untuk pemain,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini