Film Aum! Mempertanyakan Cita-cita Reformasi

Dua puluh tiga tahun waktu bergulir. Reformasi menawarkan cita-cita bebas bersuara. Sutradara film Aum! Bambang Ipoenk K.M. mengajak penonton pertanyakan kebenaran fakta. Film besutannya bertajuk Tak Bisa Dibungkam ini tayang 30 September 2021 di plaform Bioskop Online.

Terakota.id—Film dalam film. BioskopOnline.com kembali menghadirkan film baru yang diproduksi selama masa pandemi Covid-19. Saksikan film berjudul Aum! yang tiketnya bisa dipesan mulai 29 Agustus sampai 29 September 2021.

Menyajikan alur cerita nan dramatis, film Aum! ini mengangkat kisah para sineas atau pembuat film pada 1998. Chicco Jerikho memerankan Panca seorang sutradara film Pulang, tipikal pemuda slengekan tetapi idealis dalam berkesian. Ia berseteru dengan Agnes, produser film Pulang. Panca yang idealis dalam memproduksi film ternyata merepotkan tim dari mulai kru hingga pemain.

Sutradara film Aum!, Bambang Ipoenk K.M menjelaskan film ini merupakan bahan refleksi untuk lintas generasi.  “Mempertanyakan ulang cita-cita reformasi. Tahun 2021 ini, apakah kebebasan bersuara sudah terjadi?” tutur Ipoenk dalam Virtual Press Conference Film “Aum!”, Jum’at 24 September 2021.

Film Aum! Ini, katanya, mengusung kisah pinggiran seorang aktivis saat itu. Pergerakan anti pembungkaman dilakoni Satria, mahasiswa sekaligus aktivis yang diperankan Jefri Nichol. Kontradiksi terjadi ketika kakak Satria, Adam (diperankan Aksara Dena) merupakan aparat dan intelenjen.

Dua premis cerita yang tak ditampilkan titik temunya ini agaknya sengaja dibikin agar penonton penasaran. Film tayang perdana pada Kamis, 30 September 2021 melalui aplikai Bioskop Online. Tiket pre-order dibuka hingga tanggal 29 September, seharga Rp 15 ribu. Tiket bisa didapatkan di @shopee_id@gotixindonesia@loketcom@tix_id, dan @tokopedia.

Film bisa ditonton dalam rentang 48 jam, tanpa biaya langganan.  “Jangan nonton film bajakan,” ujar Chicco Jerikho.

Kisah di Balik Layar

Ipoenk mengisahkan syuting film Aum! Dilakoni selama tujuh hari. Ia tak menyangka, perkiraannya pemain harus kerja lembur tiap hari.  “Tiap hari pemain pulang sore jam 7, lanjut nongkrong sampai jam 8, maksimal jam 9. Besoknya pagi udah syuting lagi, ” ujar Ipoenk.

Totalitas pemain turut menjadi sumbangsih berbagi energi selama proses syuting.  “Energi saya transfer ke tim dan pemain, betapa sulitnya bikin film pada tahun 1998. Rekam film dengan handycam,” papar Ipoenk.

Bukan hanya cerita yang menilik latar tahun 1998, pun properti yang digunakan dalam adegan film menyesuaikan eranya. Panca merekam film Pulang dengan handycam. Rasio film 4::3, menyesuiakan platform ekshibisi.

“Film tahun segitu ditayangkan di TV, mimpi bisa tayang di bioskop. Bersyukur, saat ini ada platform online yang mau memutar film seperti ini,” tambah Ipoenk.

Menariknya, dalam film ini terdapat satu shot berdurasi 14 menit. Take sempat dilakukan hingga 14 kali. Hampir menyerah lalu menggunakan teknik cut to cut, Ipoenk mendapat suntikan semangat dari pemain dan kru. Adegan penting ini berkesan dalam kenangan Ipoenk.

Ipoenk bahkan dibuat kagum dengan personalia Chicco Jerikho. Sebagai aktor kawakan Chicco bersedia mengosongkan gelas dalam proses pembuatan film ini. Ipoenk menerapkan treatment pada pemainnya tanpa memandang kapasitas aktor.

“Setelah syuting bahkan Chicco mau diajak diskusi tentang syuting untuk keesokan harinya via chat,” ungkap Ipoenk.

Chicco mengaku sebagai aktor perlu mengosongkan diri ketika melakukan perjalanan syuting film baru. “Kita nggak bisa makai kuncian-kuncian terdahulu,” ungkap Chicco.

Bukan hanya memuji Chicco, Ipoenk menilai Jefri Nichol pun mau menurunkan ego. Dengan sepak terjangnya di perfilman nasional yang seabrek, Jefri bisa memerankan tokoh besar, pun mumpuni ketika porsi tokoh yang diperankannya kecil.

“Aku sempet lihat referensi orasi di Youtube. Bedanya dengan film lain, pesannya film Aum! kuat, menyuarakan kebebasan bersuara,” ujar Jefri Nichol.

Agnes Natasya Tjie, pemeran Agnes tercatat baru kali pertama menjajal dunia peran. Model asal Yogyakarta ini sebelumnya geluti dunia modelling. Dibantu acting coach, Agnes mengaku tertantang mengambil peran ini.

“Pertama (syuting) susah banget. Kalau di film ngomong (dialog) dan mimik, semuanya jadi satu, challenging” ungkap Agnes.

Berbeda dengan modelling yang menurut Agnes fokus saat ‘berjalan’, bermain peran memadukan beberapa keahlian sekaligus. Perannya sebagai produser film di tahun 1998 menuntutnya melakukan riset sejarah.

“Membuka mata saya sebagai anak kelahiran 2000. Kebanyakan anak sekarang apatis. Jadi menghargai aktivis 1998, mencetak sejarah,” kata Agnes menambahkan.

Perjalanan Mencari Investor

Cerita Aum! Ditulisa sejak 2017. Tahun berikutnya, Ipoenk bertemu Damar Ardi, produser film Aum!. Berdua mereka menginisiasi pembentukan kelompok kecil, mencari investor.

“Daftar Jogja Future Project dalam program Jogja Netpac Asian Film Festival 2018 (JAFF). Lolos seleksi. Ketemu Angga Dwimas Sasongko, didanai,” ujar Ipoenk.

Damar Ardi menambahkan riset sejarah dilakukan pada beberapa orang yang mengalami peristiwa 1998. Ia mengaku latar tahun dan peristiwa 1998 diadaptasi seotentik mungkin dalam film Aum!. Pemain disesuaikan dengan kharakter tokoh. Chicko dan Jefri ditawarkan Angga Dwimas Sasongko langsung.

“Agnes dan Dena kita mencari cast dari Jogja. Tantangan dari sisi produserial, bagaimana kita nge-treat kru dalam kondisi pandemi begini, juga ngurus perizinan di sekitar tujuh lokasi syuting,” kata Damar.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini