Filastine, Kritik Lewat Musik

Isu lingkungan menjadi tema utama karya duo hip hop filastine, baik dalam lagu maupun video musik. Kritik atas kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan di Indonesia.

duo hip hop filastine
Video klip Filastine (Facebook/Nova Ruth)

Terakota.id – Isu lingkungan menjadi tema utama karya duo hip hop filastine, baik dalam lagu maupun video musik. Seperti video musik berjudul The Miner (Abandon : bagian 1) yang luncurkan di laman youtube pada 29 Maret 2016. Video menggambarkan kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan di Indonesia.

Video dibuka dengan anak muda pekerja tambang belerang tradisional di kawah Gunung Ijen, Banyuwangi. Pekerja tambang yang diperankan penari jalanan asal Jakarta, Al Imran Karim bangun dini hari menembus kabut menuju kawah Ijen. Dia bersama sejumlah pekerja tambang bekerja keras mengangkut belerang tanpa masker penutup mulut dan hidung, tanpa alat keselamatan yang memadai.

Kemudian dia terperangkap dalam penambangan besar yang dikelola korporasi multi nasional. Sebuah penambangan batu bara yang mengoyak perut bumi, mencemari lingkungan. Lantas dia berontak menolak merusak alam, memilih meninggalkan tambang dan mencari ketenangan hidup di belantara hutan rimba. Konsep pembuatan video dikerjakan berdua Grey Filastine bersama sineas asal Malang, Astu Prasidya. Keduanya menjadi sutradara dalam video ini.

Video musik berseri, Abandon bagian kedua The Cleaner dikerjakan di Portugal dan Abandon bagian ketiga The Salarymen di Seatlle Amerika Serikat. Astu menceritakan dalam proses pembuatan video musik dia harus menyusup masuk ke dalam areal penambangan besar di Kalimantan. Pengambilan gambar dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Tantangannya lumayan, harus menyusup ke pertambangan. Cuaca panas, kepergok petugas keamanan kejar-kejaran,” tutur Astu.

Lokasi video klip musik itu, katanya, ditentukan secara acak tanpa survei lokasi sehingga lebih mengandalkan improvisasi. Termasuk koreografi sang penari sering berubah karena berimprovisasi. Gerakan penari berbeda-beda setiap pengambilan gambar. Dijahit dalam editing akhir sehingga menjadi koreografi yang baru dan menarik. Imran, kata Astu, merupakan penari profesional yang mampu menyuguhkan koreografi sangat menarik.

Uniknya, kata Astu, video klip dikerjakan saat pengerjaan lagu belum selesai. Sehingga dia mengandalkan musik setengah jadi, baru sekitar 50 persen. Lagu dengan lirik bahasa Jawa bercampur inggris itu belum seutuhnya selesai. Dia sering mendiskusikan pengambilan gambar dengan Grey agar sesuai dengan musik dan pesan yang disampaikan. Astu menajamkan dalam pengambilan gambar di lapangan.

Astu telah mengerjakan tiga video klip Filastine termasuk video musik berjudul Colony Collapse. Colony Collapse dikerjakan di kawasan semburan lumpur Lapindo, Sidoarjo. “Saya suka lagu dan konsep mereka,” katanya.

Kerja keras dan tantangan yang berat akhirnya ditebus Astu setelah video musik The Miner masuk sebagai official selection kategori video musik dalam Bestias Danzantes Dance Film Festival di Chile. Sebelumnya Astu telah mengerjakan sejumlah video musik band tani maju asal Malang dan terlibat berbagai produksi video musik sebagai visual fx artist meliputi band Padi dan The Changcuters. Astu juga dikenal sebagai animator untuk sejumlah film animasi seperti Kuku Rock You dan Songgo Rubuh.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini