Fiksi, Imaji, dan Revolusi Industri

Terakota.id-Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong manusia untuk aktif dalam dua realitas yaitu realitas maya dan realitas sesungguhnya. Ketika manusia berkonstribusi dalam realitas maya maka manusia tersebut telah bertransformasi menjadi warganet atau netizen. Warganet merupakan sebutan bagi penghuni dunia digital yang berkegiatan dalam segala aktifitas digitalnya, mulai dari jejaring sosial hingga proses transaksi. Youval

Noah Hararri melalui bukunya menyatakan bahwa realitas manusia bergantung pada penderitaanya. Penderitaan merupakan faktor utama yang membedakan antara fiksi dengan realitas. Keberadaan fiksi dalam alam pikir manusia membuat perkembangan peradaban menjadi seperti sekarang ini.

Ketika ditelusuri secara ilmiah, manusia merupakan hasil dari seleksi proses biologis bukan semata-mata dari atribut fisik. Apabila ditinjau dari atribut fisik saja, tentu manusia kalah dengan gorila yang lebih tahan banting dan lebih ganas. Namun manusia memiliki kerumunan besar dan ada fleksibilitas dalam kerumunan ini. Kerumunan besar yang dialami oleh manusia diikat oleh fiksi. Oleh tujuan dan harapan-harapan keberlangsungan hidup kerumunan tersebut.

Fiksi menjadi pengikat kerumunan manusia karena dalam diri manusia ada sistem transfer informasi. Sistem transfer informasi tersebut semakin efisien maka semakin tercipta nilainya. Manusia melakukan efisiensi dalam proses penerimaan informasi. Hal inilah yang mebedakan manusia dengan gorila atau binatang lainya. Binatang punya kemampuan berkata hingga membentuk kalimat tapi tidak terorganisasi dengan baik. Burung beo mampu membentuk kalimat tapi tidak terorganisasi hingga menjadi sebuah pesan.

fiksi-imaji-dan-revolusi-industri
Ilustrasi. (Sumber : cmawebline.org).

Manusia memiliki keterkaitan dengan perangkat dan proses untuk memperoleh atau menciptakan informasi. Manusia harus mencerdaskan tubuh bioligisnya dengan melakukan transfer informasi dan menyempurnakan perangkat dalam menyampaikan informasi tersebut. Kondisi ini berjalin berkelindan secara terus menerus sehingga manusia semakin menyempurnakan dirinya.

Bukti proses penyempurnaan tersebut ada pada alat berupa batu yang digunakan untuk menciptakan api, kemudian memanfaatkan kereta kuda untuk saling berikirim pesan, lalu muncullah telegram, telefon, komputer, handphone, hingga wifi. Semua perkembangan perangkat tersebut menunjukkan bahwa manusia melakukan proses dalam penyempurnaan informasi.

Fiksi merupakan bagian dari proses interaksi manusia yang diawali dari data. Data dipilah dan diolah menjadi cerita. Cerita yang disampaikan terus menerus menjadi citra. Citra dipilih dan dipilah kembali menjadi mitos. Cerita, citra, dan mitos ada unsur fiksi di dalamnya. Kesusastraan zaman raja-raja Nusantara sering menggunakan cerita untuk mengangkat citra raja. Kemudian citra tersebut diolah kembali oleh masyarakat menjadi mitos.

Para pujangga kerajaan menulis kitab berdasarkan data dari raja. Data tersebut diolah menjadi cerita tentang raja sehingga membentuk citra yang baik pada raja yang diagungkan. Citra tersebut dikembangkan kembali menjadi mitos sehingga raja dipercaya memiliki kesaktian yang mistis. Oleh sebab itu fiksi dan proses interaksi manusia tidak dapat dipisahkan.

Imajinasi Matematis

Menurut Budiman Sudjatmiko, fiksi dan imajinasi sangat erat kaitanya. Imajinasi membentuk pola pikir manusia sehingga mampu untuk menciptakan cerita fiksi. Cerita ini bertumbuh dan berkembang dalam alam pikir manusia. Ditinjau dari segi ilmu fisika maka manusia hidup dalam tiga alam. Guru besar Fisika dari Oxford University, Roger Penrose (yang dikutip oleh Sudjatmiko)  mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mengalami tiga alam yaitu alam fisik, alam mental, dan alam matematik. Tiga alam ini mempengaruhi perilaku manusia.

Dalam buku Homodeus, ada istilah real mathematic. Arti dari kemampuan real mathematic adalah hidup manusia ditentukan oleh orang-orang jenius yang pandai algoritma. Contohnya adalah Mark Zukenberg. Pendiri facebook itu merupakan manusia yang introferd dan tidak punya teman. Dia ingin memiliki banyak teman sehingga dia mengumpulkan teman-temanya yang pandai dalam ilmu matematika untuk menciptakan algoritma yang menghubungkan manusia satu dengan yang lain.

fiksi-imaji-dan-revolusi-industri
Mark Zuckerberg. (Foto : New York Times).

Hubungan antar algoritma juga dilakukan oleh penemu google. Pada perkembanganya google merupakan hasil dari algoritma dengan ilmu pengetahuan. Hubungan anatara imajinasi dan proses matematika ini sesungguhnya telah berlangsung sejak dahulu.

James Watt merupakan orang yang berpengaruh dalam menciptakan revolusi industri pertama yaitu mesin uap. Melalui perhitunganya, dia mampu menciptakan sebuah mesin yang nantinya dapat digunakan untuk proses produksi masal. Revolusi industri berkaitan dengan demokrasi liberal dan melahirkan dampak yaitu liberalisme.

Revolusi industri berikutnya ditandai dari penemuan listrik oleh para penemu yang melakukan proses imajinasi dan matematika secara bersamaan sehingga ditemukanlah perhitungan untuk membuat tenaga listrik. Proses ini berpengaruh pada revolusi berikutnya yaitu penemuan komputer.

Penemuan komputer dan imajinasi algoritma dalam komputer mampu menghasilkan evolusi kapitalisme. Komputer yang kemudian berkembang dengan internetnya menghasilkan globalisasi. Saat ini kita sedang berada dalam revolusi industri keempat. Imajinasi yang sudah kelihatan adalah perangkat jejaring sosial, dan mesin pencari. Manusia sedang mengembangkan artificial intelegece yang dihasilkan dari proses imajinasi dan perhitungan.

Kemajuan teknologi yang semakin masif dan merambah segala bidang seperti neurosience, rekayasa genetika, hingga konsep 3D printing yang semakin lama semakin pesat membuat imajinasi matematis sangat dibutuhkan. Manusia yang memiliki daya imajinatif tinggi dibarengi dengan kemampuan matematis yang tinggi dipastikan mampu menjadi manusia yang memimpin masa depan. Perhitungan tepat, proses komputasi, dan pembuatan program baru merupakan kemampuan yang tidak dapat diabaikan dalam revolusi industri keempat ini.

Oleh sebab itu kemampuan imajinasi perlu diasah sejak dini dibarengi dengan kemampuan matematis yang tidak dikemas secara menyeramkan. Pembelajaran sastra baik di sekolah, maupun masyarakat sudah harus diperhatikan porsinya. Demikian pula dengan pembelajaran matematika. Integrasi antara dua disiplin ilmu yang berbeda ini harus dikemas dan disosialisasikan semenarik mungkin sehingga proses imajinasi dan daya hitung generasi muda, sudah terasah sejak dini.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini