Festival Kerontjong nang Kajoetangan yang Memikat Hati

Keroncong Sepuh Kampung Kajoetangan Heritage membuka Festival Kerontjong nang Kajoetangan. (Foto: Humas Pemkot Malang).

Terakota.id—Kampung Kajoetangan Heritage menggelar Festival Kerontjong Nang Kajoetangan pada Jumat 15 Oktober 2021. Sebuah geliat wisata Kampung Tematik Kajoetangan Heritage setelah tutup selama masa pandemi Covid-19. Lagu keroncong kemayoran membuka acara festival, alunan nada lawas nan epik menyatu dengan lanskap rumah yang dibangun 1870.

Rumah ini merupakan bangunan tertua di Kampung Kajoetangan yang menjadi panggung utama festival.  Semua kru mengenakan pakaian berbahan batik dan blangkon, seolah kita menapaki masa lalu. Wali Kota Malang, Sutiaji mendukung festival yang menjadi even  kreatif di Kampung Heritage Kajoetangan.

“Inshaallaah turut membangkitkan optimisme wisata kita segera pulih,” kata Sutiaji dalam siaran pers yang diterima Terakota. Virtual Festival Kerontjong nang Kajoetangan merupakan bagian 27 even Kampung Tematik di seluruh Kota Malang sepanjang 2021. Festival dilangsungkan secara virtual, beradaptasi selama masa pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga, Ida Ayu Made Wahyuni menjelaskan rangkaian kegiatan virtual ini merupakan insan pariwisata Kota Malang. “Komitmen untuk beradaptasi dan bangkit di tengah pandemi,” katanya.

Secara terbatas, katanya, festival turut dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Mereka meninjau kesiapan protokol kesehatan dan kawasan unggulan Kampung Heritage Kajoetangan.

Dalam festival ini, Museum Musik Indonesia (MMI) menyerahkan buku Keanekaragaman Keroncong Indonesia. Ketua MMI  Hengki Herwanto menjelaskan buku katalog Keanekaragaman Keroncong Indonesia ini lahir dari koleksi keroncong MMI. Sebagian besar, katanya, hasil sumbangan masyarakat.

“Buku ini berisi 100 album keroncong dari klasik, sampai keroncong modern,” katanya. Buku ini diterbitkan, katanya, atas batuan Balai Pelestarian Budaya Yogyakarta, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekonologi. Buku diserahkan ke tokoh dan grup keroncong Kajotangan.

Ketua Pokdarwis Kampung Kajoetangan Heritage Mila Kurniawati menjelaskan festival didesain seperti jaman dulu memang jadul. Pokdarwis Kajoetangan tengah pengajuan QR Code pedulilindungi dan protokol kesehatan.  Sehingga selama pandemi, wisatawan bisa kembali berkunjung ke Kampung Heritage Kajoetangan.

“Termasuk menghadirkan kelompok keroncong sepuh,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini