Feri H. Said, Pelukis Bersanggul Kuas

Terakota.id–Duduk tepekur di hadapan sebuah kanvas, Feri H. Said pelukis asal Malang ini tengah menyelesaikan sebuah lukisan. Sesekali dia memperhatikan detail goresan kuasnya di atas kanvas. Cekatan tangan kanannya mengayunkan kuas dengan cat untuk menyempurnakan lukisan. Ia memilih kuas beragam ukuran yang tergeletak di atas meja kecil di depannya. Kuas dicelupkan dalam cat beragam warna.

Lincah, tangan menyapukan kuas di atas kanvas. Terpacak seekor burung merak, elok mengepakkan ekor. Bertengger di sebuah tebing, berlatar langit biru berhias awan putih. Ia tengah menyelesaikan lukisan, pesanan dari seseorang kolega. Pesanan lukisan kerap diterima, beragam lukisan sesuai selera pelanggan.

“Tergantung konsumen minta lukisan apa? Tapi, untuk ukuran karya pribadi lebih suka hitam putih,” tutur Feri menerangkan sambil menata letak kanvas.

Rambutnya panjang digelung dengan sebatang kuas yang biasa digunakan melukis. Sebatang rokok di jepit tangan jari kirinya seakan tak pernah jeda. Feri menerangkan, mengapa lebih tertarik pada hitam putih? “Setiap garis menentukan sikap. Tidak dapat menyentuh kuas, tanpa mengenal garis. Apapun seni rupa, perspektifnya garis. Garis itu tidak harus lurus, bisa melengkung, atau berkelok-kelok,” ujar Feri menerangkan.

Sejumlah lukisan hitam putih karya Feri H. Said. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Sebagai pelukis, ia berusaha produktif. Tiada hari tanpa melukis. Ia tidak mau sehari saja berlalu tanpa melukis. “Kalau sehari tidak melukis, maka hari itu saya sudah meninggal.”

Ia tak percaya mitos jika melukis merupakan bakat. Menurutnya, bakat bisa terlihat sejak kecil. Tapi bukan jaminan bisa berkembang. Justru, ada yang tampak tak berbakat, tapi karena intens dan disiplin berproses justru menjadi pelukis hebat. Bakat saja, bagi Feri, tak cukup menuntun sampai puncak berkarya.

“Kunci berkarya itu bahagia, menata hati, sabar, disiplin dan keras kepala,” kata Feri menjelaskan.

Pelukis yang telah beberapa menggelar pameranan, lokal sampai nasional ini terpacu melukis ketika duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Waktu itu, guru kesenian memberikan tugas menggambar tokoh. Ia memutuskan menggambar Pangeran Diponegoro.

“Tapi sama guru saya diejek. Ini Pangeran Diponegoro apa Pak Takrib? Padahal saya tidak tahu siapa Pak Takrib,” ujar Feri mengenang. Cibiran sang guru melecutnya untuk terus belajar dan belajar melukis. Tiada hari tanpa melukis.

Feri yang menganggap Bambang Priyadi, pelukis asal Singosari, Kabupataen Malang, sebagai guru besar lukis di Malang ini terus belajar melukis secara otodidak. Mulai menggambar foto-foto keluarga seperti Bapak, Ibu, adik, dan lain sebagainya. Selain juga menggambar para artis yang menurutnya keren. Tidak ada kursus khusus maupun sekolah seni rupa yang ia ikuti.

“Sampai akhirnya menemukan temen yang ahli melukis potret. Dia berteman dengan pelukis-pelukis yang lebih dulu intens dan punya karya,” kata Feri menjelaskan. Kebanyakan mereka adalah seniman di Malang. Tapi juga ada beberapa seniman lukis luar kota, Feri pernah merantau ke Jakarta dan Yogyakarta.

Selain menekuni dunia lukis, Feri juga musisi. Piawai memainkan gitar, sejak 2000-2003 ia menjadi bagian penting dari grup band Ketek Ogleng. Bergabung dengan Saiso Band pada 2004-2006. Lalu, pada 2009 mendirikan Dodokerok Band dan bubar pada 2011. Terakhir, pada 2011 bersama beberapa teman  mendirikan Hankestra, hingga kini tetap eksis.

“Sudah menciptakan sekitar 30 komposisi. Pernah terlibat dengan Dwipantara Orkestra selama dua tahun,” ujar Feri mengenang. Sebagai pelukis dan musisi, ia  konsisten setiap bangun tidur memetik dawai gitar selama satu sampai dua jam.

Berbagi dan Belajar Melukis

Dukungan Pemerintah Kota Malang kepada seniman, kata Feri,  minim. Pemerintah tidak banyak mendukung dalam berkesenian. Bahkan, seringkali Feri dan teman sesama seniman seolah tak dihargai.  Padahal, para seniman telah memberi sumbangsih karya kepada Negara dari tahun ke tahun.

“Mereka paling cuma mendukung lewat doa. Tapi tidak lewat penganggaran atau kebijakan. Ya sudah saya menyimpulkan, saya tidak mau dimanja pemerintah. Tidak bergantung pemerintah. Berdikari saja,” tutur Feri menegaskan.

Bersama teman-teman seniman lain, Feri pernah mengutarakan harapannya kepada Pemerintah Kota Malang. Ia berharap Pemerintah Kota Malang memiliki sebuah pasar seni. Untuk ajang pamer dan menampilan karya para seniman.

“Tujuannya, kalau ada orang datang ke Malang, bisa menikmati pertunjukan seni, melihat karya seni. Jadi Malang bukan hanya tempat transit bagi turis. Kenapa sih bisa buat bangunan-bangunan tapi tidak bisa bikin pasar seni. Pasar seni bisa jadi objek wisata, edukasi, dan sumber rejeki bagi seniman,” ujar Feri menjelaskan.

Suasana Kelas Melukis. Feri H.Said menunjuk telur di atas meja kecil yang akan dijadikan objek melukis. (Terakota.id/ HA. Muntaha Mansur)

Setiap hari Jum’at pukul 15.00 sampai 18.00 WIB, Feri membuka kelas seni rupa bersama Komunitas Kalimetro. Kelas terbuka untuk umum dan gratis, bertempat di Jalan Joyosuko Metro 42A, Merjosari, Kota Malang.  Siapapun bisa mengikuti. Termasuk pemula yang baru memulai melukis. Begitu juga anak-anak.

“Saya bukan pengajarnya secara utuh. Tapi saling mengajari. Tidak ada pengajar secara khusus.” Kelas melukis mempelajari teknik-teknik dasar, semakin intens teknik akan mengalir sendiri. Serius dalam berproses, kata Feri, menjadi kunci seorang seniman berkarya.

Tinggalkan Pesan