Etnosentrisme Berbahasa di Tengah Mahasiswa Multikultural

Oleh: Ardiana Putri*

Terakota.id–Hubungan antara masyarakat dan bahasa sangat erat kaitannya. Bahasa merupakan alat dan wadah budaya bagi masyarakat pemiliknya. Bisa dikatakan bahwa bahasa dan budaya saling memengaruhi. Segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin dalam bahasa yang dituturkan masyatakat, begitupun sebaliknya.

Perlu kita ketahui bahwa bahasa mempunyai fungsi utama sebagai alat komunikasi sekaligus pembentuk budaya. Suparno (1993:5) menyatakan bahwa fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial.[1] Demikian pula pendapat Suwarno (2002:4), bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif sosial. [2]

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang vital. Oleh karena itu, manusia tidak dapat bersosialisasi dengan baik apabila tidak menguasai bahasa. Bahasa yang digunakan manusia dalam bersosialisasi di kehidupan sehari-hari memang berbeda dan sangat bervariasi. Bergantung pada latar belakang budayanya masing-masing.

Menurut Suwito (1983:20-21), faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya variasi bahasa adalah faktor kebahasaan (linguistik) dan di luar kebahasaan (nonlinguistik). Faktor linguistik yang erat kaitannya dengan budaya masyarakat pemilik bahasa merupakan faktor sosial dan faktor situasional, seperti status sosial, ekonomi, budaya, genre, usia dan lain sebagainya. Sebagai contoh, bahasa yang dituturkan antara kaum cendekiawan dengan kelompok masyarakat yang kurang berpendidikan jelaslah berbeda.[3]

Di sisi lain, faktor situasional dapat berupa tempat terjadinya pembicaraan, penutur yang berbicara, topik pembicaraan, dan bahasa yang digunakan saat berbicara. Faktor waktu menimbulkan perbedaan bahasa dari masa ke masa. Bahasa terus berkembang dari masa ke masa. Bahasa terus berkembang dan berubah sejalan dengan perkembangan zaman. Selain itu, perbedaan tempat tinggal penutur yang berbeda-beda, yang tidak dalam satu wilayah menyebabkan timbulnya variasi bahasa yang berbeda pula. Misalnya penutur dari Surabaya akan berbeda dengan penutur dari daerah Yogyakarta. Walaupun kedua kota ini berada pada satu pulau, yakni Pulau Jawa, tetapi dialek keduanya sangat berbeda. Penutur dari daerah Surabaya menuturkan bahasa Jawa dialek Jawa Timur, sedangkan penutur dari Yogyakarta menuturkan bahasa Jawa dialek Jogja.

Dialek bahasa manusia beraneka ragam, seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa dialek bergantung pada letak geografis dan budaya masing-masing. Hal ini menyebabkan munculnya etnosentrisme bahasa. Etnosentrisme bahasa adalah sikap atau pandangan seseorang yang mengagungkan dialek daerahnya dan menganggap rendah dialek masyarakat daerah lain. Sederhananya, etnosentrisme dalam berbahasa berarti terlalu membanggakan bahasanya sendiri.

Etnosentrisme Bahasa di Kalangan Mahasiswa UM

Tidak menutup kemungkinan jika suatu penutur bahasa menganggap bahwa bahasanya lebih baik dari dari bahasa orang lain. Hal ini juga terjadi di kalangan mahasiswa. Sikap tersebut akhirnya menimbulkan kesenjangan di antara penutur dialek yang berbeda. Universitas Negeri Malang (UM), salah satu kampus yang notabene banyak pendatang dari daerah dengan berbagai kultur yang berbeda, otomatis turut menghadirkan berbagai variasi bahasa atau dialek yang berbeda pula. Sebagian besar mahasiswa dari kampus yang terkenal sebagai kampus pendidikan ini sebagian besar berasal dari wilayah Jawa Timur.

Di Jawa Timur, bahasa yang digunakan dalam situasi nonformal adalah bahasa Jawa. Akan tetapi, Bahasa Jawa memiliki berbagai dialek berbeda- beda sesuai dengan daerahnya masing- masing. Dialek Osing dari Banyuwangi sangat jauh berbeda dengan dialek Jawa Malangan, walaupun secara geografis letak Banyuwangi dan Malang masih dalam satu provinsi.

Mahasiswa yang berasal dari Malang sangat bangga ketika menggunakan bahasa Jawa dialek Malangan, bahkan terkadang mahasiswa asli Malang meremehkan dialek yang digunakan penutur dari daerah lain di luar Malang. Kediri misalnya, mereka akan sangat bangga ketika akan bercakap dengan mahasiswa sesama dari Kediri menggunakan bahasa Jawa dialek Kediri atau Mataraman. Inilah tanda bahwa sikap etnosentris pasti ada dalam setiap individu, karena etnis berperan sebagai salah satu identitas pribadi.

Dalam kehidupan kampus terdapat dua golongan penutur bahasa, yaitu golongan superior dan inferior. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Imam Suyitno, Guru Besar Bahasa dan Sastra Indonesia UM. Superior merupakan golongan yang mendominasi suatu kelompok tertentu karena jumlahnya mayoritas.

Sebaliknya, kelompok inferior merupakan kelompok minoritas, kelompok ini cenderung mempunyai rasa sungkan bahkan merasa tersisihkan. Contohnya, mahasiswa UM yang berasal dari daerah Malang akan menjadi kelompok superior terhadap mahasiswa luar Malang yang juga penutur bahasa di luar dialek Malangan.

Berdasarkan data yang diperoleh penulis, 9 dari 10 penutur bahasa mengatakan sangat bangga dan tetap menggunakan dialek kedaerahannya ketika bercakap dalam situasi nonformal. Mereka beranggapan bahwa menuturkan dialek daerah berarti turut melestarikan bahasa daerah serta menunjukkan eksistensi bahasa daerah sebagai identitas daerah yang tidak bisa ditanggalkan.

Menurut penuturaan Mahmud, mahasiswa asal Kediri, sekaligus pendatang yang menempuh pendidikan di Malang, mengungkapkan bahwa sebagian besar dari penutur inferior merasa tersisih karena logat atau dialek bawaan dari tempat asal mereka tidak sesuai dengan dialek arek Malangan yang memang superior di Malang.

Para pendatang pada awalnya akan merasa gegar budaya (shock culture) karena adanya perbedaan budaya antara Malang dengan tempat tinggal asalnya. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu mahasiswa harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya, dalam hal ini adalah Malang.

Penulis ambil satu contoh perbedaan persepsi sebuah kata, “Jancuk”. Di Malang, kata ini sudah biasa di dengar dan dituturkan oleh arek Malangan (termasuk Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto). Akan tetapi kata ini masih terdengar tabu di telinga penutur dari daerah lain, misalnya Tulungagung, yang terkenal lebih lembut. Kata “Jancuk” ini sebenarnya sudah mengalami perluasan makna dari kata umpatan menjadi kata sapaan untuk keakraban.

Pernyataan Mahmud juga didukung oleh Dina Nisrina, duta bahasa Jawa Timur tahun 2015. Mahasiswi yang sempat mencicipi pahit manisnya PPL KKN di Negeri Gajah Putih ini menuturkan, sebagai mahasiswa asli Malang ia mengaku pernah merasa tidak senang apabila mahasiswa luar Malang menggunakan dialek daerah asal mereka. “Kamu sekarang kuliah di Malang, hidup di Malang, ya kamu harus bisa menyesuaikan dengan bahasa anak Malang,” ungkap Dina. Namun seiring berjalannya waktu kesadaran bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya yang melimpah rasa tersebut hilang dengan sendirinya dan lebih memaklumi.

Fenomena penggusuran bahasa ketika seorang penutur mulai beralih ke bahasa baru bisa menyebabkan semakin minimnya penutur bahasa. Maka, dapat dipastikan sebuah bahasa akan mengalami kepunahan. Perlu pencegahan dini sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kepunahan bahasa. Mulailah dari hal sederhana, seperti tetap bangga menggunakan bahasa daerah serta melestarikannya meskipun sudah tidak tinggal di daerah asal bahasa.

[1] Soeparno. 1993. Linguistik Umum. Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan, Dikti

[2] Pringgawidagda, Suwarno. 2002. Strategi Penguasaan Berbahasa. Jakarta: Adicita Karya Nusa

[3] Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta: Henari Offset Solo

*Penulis adalah Direktur LPM Siar. Sedang menempuh studi di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM).

 

Tinggalkan Pesan