Episode Terakhir “Jejak Si Gundul”

Ilustrasi : Shutterstock

Terakota.id–Sebelum lupa, saya sampaikan ucapkan terima kasih kepada Lek Bos (Moehammad Sinwan) yang telah menggelar acara ini dan memosisikan saya sebagai pembicara utama dalam forum malam ini. Saya tahu panitia juga mengundang beberapa orang pakar hukum dalam forum ini, sehingga saya berharap nanti ada yang meluruskan jika paparan saya yang bersentuhan dengan dunia hukum ternyata tidak sesuai dengan teori formal.

Apa yang dapat saya sajikan dalam cerita saya di Ngaji Urip  kali ini bukanlah sebuah cerita novel yang biasanya saya analisis, namun adalah sepenggal cerita perjalanan hidup saya yang belum sempat saya novelkan. Sekalipun perjalanan yang ingin saya ceritakan ini banyak bersentuhan dengan masalah hukum, namun saya belum berani berbicara dalam perspektif hukum. Biarlah teman-teman yang memiliki latar belakang hukum setelah ini membahasnya secara mendalam.

Apa yang akan saya sampaikan pada malam hari ini hanyalah sepenggal cerita saja, karena saya justru bingung akan saya mulai dari mana. Saya lebih senang bila Lek Bos yang telah mendapatkan banyak cerita dari saya dalam pelbagai kesempatan saat diskusi hanya berdua saja untuk mengingatkan poin-poin apa saja yang perlu saya sampaikan dalam forum ini.

Begitu pula kepada sahabat-sahabat semua, saya lebih senang bila dalam forum ini sahabat-sahabat lebih banyak menggali daripada menunggu paparan saya. Semua harus bertindak sebagai wartawan yang terus mengorek pernik-pernik peristiwa yang terjadi. Dengan begitu secara otomatis maka memori saya telah dibangkitkan oleh banyak orang. Dengan cara ini pula sebenarnya saya justru mendapatkan ide-ide baru untuk menambah detail tulisan perihal masalah ini yang beberapa hari ini sedang mulai saya kerjakan.

Kepada Gus Fery yang selalu memberi pencerahan dari sudut spiritualitas, dan nyaris tidak pernah absen tiap bulannya dalam Ngaji Urip yang diselenggarakan oleh Teater Ideot ini, saya juga patut menyampaikan perhargaan yang setinggi-tingginya. Semoga Allah selalu menganugerahkan kesehatan dan kebahagiaan kepada panjenengan.

Saya sangat menyambut gembira digelarnya acara rutin ini. Apa yang dilakukan oleh Tater Ideot sekaligus merupakan tepisan anggapan bahwa komunitas kesenian jauh dari jangkauan citra sebagai manusia yang dekat dengan agama. Selama ini tingkat keberagamaan yang mencolok selalu ditampakkan dalam bentuk tampilan fisik. Saat ini pakaian telah digunakan sebagai justifikasi yang  membedakan mana orang beriman, dan mana orang yang tersesat.

Banyak orang yang mengaku beragama, namun selalu berusaha meniadakan keberadaan manusia lain. Penghilangan keberadaan manusia lain itu tak hanya diwujudkan dalam bentuk pembunuhan fisik, namun yang marak terjadi, karena jauh dari jangkauan hukum, adalah pembunuhan karakter.

Manifestasi beragama semestinya ditunjukkan dalam wujud akhlak mulia, seberapa seseorang menjadi rahmat bagi orang lain. Apakah kehadiran kita telah memiliki manfaat bagi orang lain atau belum. Dalam keseharian seniman telah mengasah perasaannya dalam melahirkan karya-karyanya. Karya seni adalah karya rohani. Seniman telah menjalani ibadahnya dengan cara mengabdikan sepenuh hidupnya bagi kehalusan budi pekerti dalam karya ciptaannya.

Kali ini saya ketiban sampur untuk memaparkan pengalaman saya di panggung hukum nasional, sebuah pengalaman baru dari seorang yang sehari-harinya berkecimpung di dunia sastra. Yang dianggap unik, tidak hanya perkara saya yang menurut banyak orang adalah masalah yang remeh-temeh, namun demikian kesendirian saya dalam berjuang adalah nilai yang tak terhingga.

Kesediaan saya untuk berbagi didasari beberapa pertimbangan. Yang paling utama bagi saya adalah berharap agar para seniman jangan sampai terjerat masalah hukum. Seniman adalah public figure yang rentan dikriminalisasi. Persaingan di kalangan seniman juga tidak lebih kecil dibandingkan dengan sektor lain. Di samping itu tidak sedikit karya-karya seni yang memotret realitas sosial ternyata harus beradapan dengan mereka yang merasa kepentingannya terganggu.

Dalam sejarah kesenian Indonesia dari waktu ke waktu selalu ada seniman yang harus berhadapan dengan penguasa dan pemilik modal lantaran sang seniman berjuang melawan ketidakadilan sosial yang terpampang di depan matanya.

Jika selama ini santapan saya tiap hari adalah karya sastra, namun tiga tahun terakhir harus bergaul akrab dengan buku-buku hukum. Selama tiga tahun pula saya merasa banyak dihindari dari pergaulan normal di tempat kerja. Dalam situasi demikian, saya akhirnya bisa membaca dalam terang siapa sahabat saya yang sesungguhnya dan siapa yang bukan. Siapa yang berani pasang badan untuk saya demi membela kebenaran dan siapa yang selalu bertopeng demi sekadar untuk menyelamatkan diri sendiri dan mengorbankan integritasnya.

Kepada mereka yang telah merekayasa hukum demi nafsunya untuk memenjarakan saya, malam ini saya ulangi lagi, saya ucapkan banyak terima kasih. Dari merekalah saya banyak belajar, setidaknya selama tiga tahun saya telah diberi kesempatan untuk belajar hukum langsung dari sumbernya, dan bahkan mempraktikkannya.

Saya tahu bahwa banyak orang di komunitas ini yang merasa kaget ketika mendengar perkara yang saya hadapi. Beberapa di antaranya bahkan baru mengetahuinya, karena barangkali baru malam ini bisa bergabung dalam forum ini.

Saya harus meminta maaf kepada para sahabat yang hadir pada malam hari ini, bahwa guyonan saya yang ternyata tidak lucu itu menjadi masalah besar. Saya bisa menyadari ekspresi spontan dari beberapa teman yang sangat marah karena ternyata saat ini orang bergurau harus diseret ke meja hijau. Ini adalah kemunduran dalam kebebasan berekpresi.

Sejak semula saya berpikir bahwa jika saya mengalir saja, maka kasus saya akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan berekpresi. Pelajaran apa yang akan saya berikan kepada publik, manakala saya menyerah begitu saja kepada keadaan, dan tunduk patuh terhadap ketidakadilan yang berlangsung di mata saya, bahkan telah melanda saya, yang disaksikan dan diderita pula oleh keluarga saya.

Ketika saya divonis Pengadilan Negeri Malang dengan tiga bulan penjara dan denda Rp 10 juta, banyak pihak yang memberi saran agar saya menerima putusan tersebut, dan tidak melakukan upaya hukum lebih lanjut. Pertimbangan teman-teman adalah waktu tiga bulan itu begitu singkat dibandingkan dengan upaya hukum yang menelan waktu bertahun-tahun dan hasilnya belum tentu lebih baik daripada putusan awal.

Saya katakan pada banyak pihak, bila hari ini saya menyerah, maka esok hari siapa pun akan mengalami apa yang saya alami hari ini. Tidak ada pelajaran apa pun yang saya berikan bagi teman-teman segenerasi saya, dan gererasi berikutnya. Penafsiran yang sewenang-wenang terhadap pasal karet dalam Undang-undang ITE dan konten ujaran di medsos harus dilawan dengan argumentasi kita. Kita tidak boleh kalah dengan orang yang melakukan kesewenang-wenangan menggunakan kekuasaan dan uangnya.

Untuk menebus, agar peristiwa yang saya alami tidak menjadi preseden buruk, maka sejak awal saya memohon izin untuk berjuang sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Kejutan-kejutan tanpa sadar muncul sebagai bentuk ekspresi alamiah, karena saya sendiri juga mengalami aneka kejutan dalam menghadapi serangkaian peristiwa itu, dan saya makin tidak bisa memahami bagaimana liku-liku penegakan hukum di negeri tercinta ini.

Ketika publik mendengarkan saya terjerat hukum lantaran beberapa media memberitakan kasus ini, banyak orang yang bertanya kepada saya mengapa kasus yang remeh-temeh semacam itu harus masuk ke ranah hukum. Tidak adakah niat baik agar permasalahan yang sepele tersebut diselesaikan dengan cara mediasi? Di manakah hati nurani kita sebagai bangsa yang dikenal memiliki peradaban yang tinggi? Sederet pertanyaan senada tak dapat saya jawab dengan memuaskan. Saya katakan sebaiknya pertanyaan itu jangan dilontarkan kepada saya, namun sampaikan kepada orang yang melaporkan saya.

Lantas saya harus mengulang cerita mulai awal. Pada mulanya saya memosting dua orang teman saya yang berkepala gundul di grup teman sekerja. Orang yang fotonya diposting santai-santai saja dan tidak pernah memersoalkan, namun pengurus sebuah organisasi profesi guru melaporkan saya ke Polda Jatim.

Guyonan seperti itu akhirnya dinaikkan ke panggung hukum. Jaksa menuntut saya dengan pidana penjara dua tahun plus denda Rp 10 juta. Saya dianggap mencemarkan nama baik organisasi tersebut lantaran saya memlesetkan singkatan organisasi itu.

Sejak kapan sebuah singkatan hanya merujuk pada kepanjangan tertentu? Apakah orang yang membuka kedai dengan nama KPK (Kedai Pak Karman), misalnya, akan dilarang lantaran KPK sudah dipakai oleh Komisi Pemberantasan Korupsi? Apakah BCA melulu milik Bank Central Asia, tidak bolehkah digunakan oleh Bakso Cak Ahmad?

Sejumlah saksi termasuk saksi pelapor menyatakan bahwa ia tidak akan melakukan pelaporan kepada kepolisian jika di tempat saya bekerja tidak terjadi konflik. Intinya, kasus saya adalah buntut dari konflik dualisme kepemimpinan. Saya adalah korban konflik itu. Saya adalah korban dendam pribadi dan dendam kelompok.

2.300-an tahun yang lalu Plato bersabda bahwa di mana-mana hanya ada satu prinsip tentang keadilan yang merupakan kepentingan dari orang yang lebih kuat (Republik, hlm. 22). Kondisi hukum di banyak negara hari ini dibandingkan dengan dua ribu tahun yang lalu belum beranjak ke arah yang lebih baik.

Manusianya memang datang silih berganti. Orang-orang jahat dulu yang pernah lahir telah mati, lalu lahir orang-orang jahat lagi. Entah itu hasil reinkarnasi atau bukan, yang jelas bumi selalu dihuni oleh dua kekuatan yang konon justru diyakini sebagai alat keseimbangan agar alam ini tetap lestari.

Negara secara tidak sadar masih memelihara dan membiarkan barbarisme berkembang merajalela. Mereka yang memiliki kekuasaan dan dana yang besar bisa melakukan apa saja yang dikehendaki. Hukum dijajakan bak barang dagangan di pasar. Siapa yang dapat membeli penegak hukum, merekalah yang akan keluar menjadi pemenangnya. Banyak undang-undang dibuat, namun hukum rimba masih berlaku kuat.

Makin banyaknya para penegak hukum korup yang tertangkap tangan adalah bukti maraknya perdagangan hukum di negeri ini. Sejumlah sandiwara yang dipertontonkan di depan publik mengenai penegakan hukum yang setengah hati, atau bahkan tidak memakai hati sama sekali adalah bukti betapa hukum di negeri ini sedang bersekongkol dengan para pemodal dan pemilik kekuasaan, entah kekuasaan di pemerintahan, institusi ekonomi, atau bahkan hanya kekuasaan di sebuah organisasi tertentu.

Memegang kekuasaan tidak serta merta digunakan sebagai alat perlindungan kepada yang lemah, namun justru sebaliknya telah disalahgunakan dan ngaji pumpung untuk melakukan penindasan dan atau merampas hak dan bahkan penguasaan atas aset di mana kekuasaan itu direngkuhnya.

Orang-orang jahat diciptakan sebagaimana virus-virus diciptakan. Tugasnya adalah untuk membunuh, lebih lanjut memusnahkan sebuah spesies tententu. Hukum diciptakan untuk melindungi segenap warganya, namun hukum telah berubah wajahnya menjadi predator, siapa yang kuat dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

Seniman tidak bisa hanya tinggal diam. Seniman adalah bagian dari masyarakat, karena bagaimanapun seniman adalah manusia juga. Sebagai bagian dari masyarakat, maka seniman tidak bisa hanya sekadar asyik dengan dirinya sendiri. Puas dengan karyanya, namun sama sekali tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap masyarakat sekitarnya.

Ketika kita takut terhadap tekanan, sebenarnya kita telah menjadi budak bagi diri kita sendiri, dan secara tidak sadar telah menjerumuskan anak-cucu kita ke lembah-lembah yang telah dibangun di depan mata kita. Kita membiarkan lembah-lembah itu menjadi makam-makam bagi anak cucu kita. Jangan sampai kita turut berpartisipasi menggali makam bagi anak-cucu kita. Betapa jahatnya kita, ketika kita tega melakukan hal itu.

Yang tercipta dari diri seorang seniman bukanlah sekadar objek, dan kita bukanlah budak bagi pengekalan objek itu. Kita harus tetap menjadi bagian dari proses kreatif yang tak pernah henti. Proses kreatif kita jangan sampai dibelenggu oleh sejumlah aturan yang merupakan produk politik yang diciptakan karena “pelampiasan nafsu birahi” yang salah penyalurannya itu.

*Tulisan ini pernah disampaikan sebagai pengantar diskusi “Hukum di Mata Seniman,” yang merupakan bagian dari rangkaian acara Ngaji Urip Seri ke-17 yang diselenggarakan oleh Teater Ideot Malang pada hari Jumat, 9 April 2021.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini