Fakta Tekstual Eksistensi Susastra Panji Era Majapahit di Malang

Terakota.id–Apakah kawasan Malang mempunyai pembukti mengenai eksistensi Susastra Panji pada masa lalu? Jika memiliki, data masa lampau apa yang menjadi bukti akan keberadaan Susastra Panji tersebut. Syukur bila data tersebut berupa data tekstual, entah prasasti atau susastra tulis. Data tekstual dibutuhkan untuk menguatkan bukti mengenai keberadaan susastra lakon pada seni pertunjukan Wayang Topeng Malang, yang konsisten untuk mementaskan lakon-lakon Panji dari dulu hingga kini.

Dalam tulisan ini, sumber data tekstual yang menjadi pembukti mengenai itu dipaparkan, baik berupa prasasti maupun susastra, sebagai penguat alasan untuk menyatakan bahwa pada Masa Hindu-Buddha, paling tidak era Majapahit, kawasan Malang memiliki Susastra Panji. Bukti sejarah berupa teks penting artinya, terlebih bila teks tesebut ditulis sejaman dengan hal yang dibicarakan, yang dalam telaah ini adalah Susastra Panji.

Fakta Tekstual Prasasti Pabanyolan
1. Lokasi Penulisan dan Penemuan Prasasti

Prasasti Pabanyolan adalah selempeng prasasti tembaga (tamraprasasti, chopper plate), yang tak termasuk prasasti panjang ataupun pendek, namun masuk dalam kategori ‘prasasti sedang’. Kendati teksnya tidak lengkap, namun isinya dapat dikeahui, yaitu tentang kisah perjalaan seseorang dalam mencari obat. Tulisan diguriskan pada dua permukaan (bhimuka) lempeng prasasti, yaitu lempeng sisi depan (recto) sebanyak enam baris dan sisi belakang (verso) yang hanya terdiri dari dua baris. Sekarang prasasti yang ditemukan di Desa Gubug Klakah ini menjadi benda koleksi epigrafi Museum Nasional Jakarta.

Bersama dengan prasasti-prasasti logam koleksi Museum Nasional lainnya, Prasasti Paanyolan ikut diterbitkan edisi teksnya dalam buku “Prasasti Koleksi Museum Nasional (PKMN)’, Jiid I tahun 1986 halaman 110-111. Selain pada buku itu, Prasasti Pabanyolan telah dimuat dalam NBG, 1909 halaman 190 dan NBG 1912 halaman 83-84. Kemudian dimuat lagi dalam TBG, LV, 1913 halaman 257-258.

Disertasi Arkeologi karya Machi Suhadi yang berjudul “Tanah Sima dalam Masyarakat Majapahit’’ (1993. Lampiran ke-25 halaman 621-623) melampirkan pula teks Prasasti Pabanyolan. Oleh karena tidak seberapa panjang isinya dan tidak berkenaan dengan peristiwa sejarah yang dipandang sebagai ‘penting’, maka prasasti ini jarang dibicarakan oleh para ahli. Namun, dalam kaitan dengan telaah historis mengenai ‘Budaya Panji’, keberadaannya sangatlah penting.

Sebutan “Prasasti Pabanyolan’ mendasarkan pada adanya kata ‘pabanyolan’ yang terdapat dalam prasasti tembaga tertelaah ini. Sedangkan menurut tempat penemuannya, yakni pada Desa Gubug Klakah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, maka prasasti ini dinamai pula dengan ‘Prasasti Gubug Klakah”. Desa Gubug Klakah adalah salah sebuah dari sedikit desa-desa di Kabupaten Malang yang dihuni oleh Wong Tengger.

Oleh karena sifat prasasti tembaga adalah movable (dapat dipindahtempatkan), amat bisa jadi lokasi temuannya di Gubugklakah tersebut bukan tempat penulisannya. Apabila benar demikian, maka prasasti ini pernah mengalami relokasi, dalam arti dipindahkan dari satu tempat ke tempa lain, yaitu dari tempat penulisan dan penyimpan awalnya ke tempat lain padamana prasasti ini ditemukan (Desa Gubugklakah) karena suatu sebab.Terkait itu, pertanyaannya adalah ‘dimana lokasi penulisan Prasasti Psbanyolan ?’.

Petunjuk mengenai itu adalah adanya sebutan tempat bernama ‘sang hyang batur Pajaran’ dalam prasasti ini ‘//o// iti pabanyolan parisamapto. telas sinurat ri sang hyang batur Panjaran ring Wilwatikta (I.a.6- IIa.1)”. Kata jadian ‘abatur’ secara harafiah berarti: yang dipertuan (kata’santa-mreti”, yakni pemimpin sebuah pertapaan) (Zoermulder, 1995:115). Adapun kata jadian “Pajaran’ yang berkata dasar ‘ajar’ dengan imbuhan awalan ‘pa’ dan akhiran ‘an’ (pa-ajar-an, varian yang serupa adalah ‘pijar-ajaran’), antara lain berarti : status ajar, tempat tinggal para ajar, pertapaan (Zoetmulder, 1995:17).

Kedua perkataan itu mengindikasikan bahwa Pajaran adalah suatu tempat bagi penyelenggaraan pembelajaran, dengan aktifitas yag utama adalah ‘tapa’, yang dipimpin oleh Mpu Mahajaya. Hal ini mengingatkan kita kepada Mandalakadewagurwan atau Karsyan. Lokasinya yang terpencil di lembah barat Gunung Semeru atau lembah sebelah selatan dari Gunung Tengger yang sunyi-tenang adalah suatu pilihan area yang lazim untuk kepentingan demikian.

Hingga kini masih terdapat suatu Desa di Kecamatan Poncokusumo, tidak jauh dari Candi Kidal. yang memiliki nama “Pajaran’. Menilik dekatnya jarak antara Candi Kidal dan Situs Pajaran, utamanya bila lewat jalan pintas di belakang candi, boleh jadi para pertapa di Sang Hyang Batur Pajaran adalah salah satu pemangku atau pengelola pendharmman raja Anusapati (Abusapatha).

Lingga dan Yoni di situs Pajaran Desa Pajaran Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. (Foto : Rudy Pesta Jelalah Jejak Malang).

Tidak meragukan untuk melokasikan Pajaran yang diberitakan di dalam prasasti Pabanyolan pada Desa Pajaran, mengingat pada desa ini didapati peninggalan arkeologis berupa sebuah Yoni besar (Lingga-nya telah hilang), Lingga, tugu batu, fragmen arca, sejumlah banyak bata kuno, balok batu serta sebuah sumber air yang bisa jadi konon merupakan patirthan. Uniknya lagi, pada wilayah kecamatan tetangga Poncokusumo, yakni di Kecamatan Jabung, terdapat dusun yang namanya dekat sekali dengan kata ‘pabanyolan’ yang disebut di dalam prasasti ini, yaitu “Dusun Banyol”.

Secara harafiah, kata jadian ‘pa-banyol (banwal)-an’ berarti: senda-gurau, lawak (Zoetmulder, 1995:107), yang di dalam konteks ini adalah lawakan atau gurauan. Sebutan ‘pabanyolan’ untuk prasasti ini nampaknya mendasarkan kepada isi prasasti,, yang merupakan sinopsis kisah Panji yang komis (lucu). Isi Prasasti Pabanyolan yang berupa karya sastra ditegaskan pada bagian akhir prasasti (Ib.1) dengan kalimat ‘… parintosakna hala becik ning sastra, kurang lewihnya waggo parunggunya’.

Prasasti Pabayolan bukanlah teks yang memuat suatu charter (maklumat, keputusan) dari seorang raja, melainkan media pengabadian terhadap sesuatu yang penting, yang dalam hal ini adalah karya sastra berlakon ‘Panji’’. Struktur prasasti yang lazim kedapatan pada prasasti resmi yang berupa charter tak didapati pada prasasti ini, seperti penyebutan rinci tarikh penulisan, urutan perintah penulisan dari raja (yang mengeluarkan perintah) lantas turun (umingsor) ke para pejabat dibawahnya hingga ke penulis prasasti (citralekha), alasan dikeluarkan prasasti (sambhanda), pokok keputusan raja dan kutukan (sapata) bagi pelanggar keputusan tidak disuratkan secara rinci di dalam prasasti ini.

Menilik struktur dan isinya, maka cukup alasan untuk menyatakan bahwa Prasasri Pabanyolan ditulis oleh kalangan ‘luar keraton’, yang dalam hal ini adalah komunitas ajar di Sang Hyang Batur Pajaran. Prasasti tembaga ini ditulis pada tahun Saka 1303 (1381 Masehi), yang berarti pada penghujung pemerintahan raja Hayam Wuruk (Maharaja Sri Rajasanegara, meninggal tahun 1389 Masehi).

Masa penulisannya pada era pemerintahan Majapahit sesuai dengan penyebutan nama ‘Wilwatikta’, yang merupakan ibukota kerajaan (kadatwan) Majapahit kala itu. Demikianlah, pada Era Keemasan Majapahit di sub-area Malang Timur terdapat sebuah mandala, tempat dimana para pertapa (tapasi) pelaku ajar tinggal, dengan mempelajari berbagai ajaran agama, pengetahuan dan ketrampilan — termasuk pula ketrampilan dalam menggubah cerita berlakon ‘Panji’.

Pokok Isi Prasasti Pabanyolan
2.1. Identifiksi Cerita

Sebagimana disebut pada alinea diatas, Prasasti Pabanyolan tidak memuat maklumat raja, misalnya mengenai penetapan sima (swatantra, desa/tanah perdikan). Tidak pula memuat keputusan hukum (jayapatra, jayasong), melainkan berisi sinopsis suatu cerita yang di tokohi oleh Panji — sehingga bisa disebut ‘Cerita Panji’. Prasasti ini terbilang unik (tidak biasa), karena berisi sinopsis susastra, Sejauh telah ditemukan, Prasasti Pabanyolan merupakan satu-satunya prasasti yang memuat kisah Panji.

Tidak diragukan bila sisopsis cerita yang dikisahkan itu adalah ‘Cerita Panji’. Kendati prasasti ini tidak menyebutkan kata ‘Panji’, namun di dalamnya disebut seorabg tokoh peran, malahan sebagai pemeran utama, yaitu ‘Ino (Ia.4)’ atau ‘Hino (1a.5)’, yang berasal dari Jawa namun lama tinggal di Kling – tergambarkan dalam kisah bahwa setelah mendapat obat (sang usaddha), maka Khadehan pulang ke Jawa (mantuk mari Jawa) dan akhirya tiba di Jawa (tka ri Jawa), dimana Ino (Hino) turut serta. Ino atau Hino merupakan suatu sebutan, tepatnya ‘jabatan’, untuk Sang Panji. Sebutan panjangnya adalah ‘Rakai Hino’, yaitu yang tertinggi diantara set jabatan ‘Rakai’, yang terdiri atas tiga rakai atau rakryan – karenanya terdapat penamaan ‘rakryan ka-tri-ni’, yakni (1) Rakai Hino, (2) Rakai Halu, dan (3) Rakai Sirikan, Atau kadang ditambahkan sebuah lagi, yakni Rakai Wka.

Jabatan ini disandang oleh para putra raja yang berkuasa, Dalam urutannya yang tertinggi, Rakai Hino adalah kandidat (calon) pertama pengganti raja terdahulu, atau sering dibilang sebagai ‘putra mahkota’. Lantaran Panji menggunakan gelar ‘Ino’, berarti ia adalah putra mahkota di suatu kerajaan, yang dalam sebagian besar khasanah susastra Panji dinyatakan sebagai calon raja yang pertama dan utama di Kerajaan Jenggala (Kahuripan, varian sebutan ‘Koripan’), yakni putra mahkota dari Prabu Lembu Amiluhur. Unsur sebutan ‘Ino’ untuk Panji acapkali tempatkan sebelum nama gelar (abjisekhanama)-nya, seperti pada penamaan ‘Inu  Ino) Kertapati’.

Sebutan demikian bukan hanya kedapatan dalam suasastra-susastra Panji di Nusantara, melainkan juga dikenal dalam khasanah Panji di Thailand. Ketika Raja Rama I berkuasa (1782-1809) lahir karya sastra saduran bercerita Panji yang bersal dari Jawa, yang dijadikan sumber dalam teater tradisoal Thailand dengan sebutan ‘Dalang’ dan “Inao” (Bahasa Thai:อิเหนา, yang bermuasal dari nama “Inu” atau “Ino” (SurDesai, 1984:72-73).. Demikian pula di Kamboja dikenal lakon “Eynao”.

Yang menarik, salah seorang tokoh Ninja di Jepang juga memyandang unsur nama ‘Ino’, yaitu Yamanaka Ino. Ia adalah seorang Kunoichi yang berasal dari klan Yamanaka. Khusus untuk tokoh terakhir ini, kendati memiliki unsur nama ‘Ino’, namun relasinya dengan tokoh Inu Kertapati dalam suastra Panji perlu ditelisik lebih jauh.

Selain tokoh peran Ino (Hino), pada sonopsis kisah dalam Prasasti Pabanyolan juga terdapat tokoh peran Khadehan (varian sebutannya ‘Kadeyan’). Bahkan, mengenai tokoh peran ini disebut hingga tiga kali (Ia.1 dan Ia,3). Dalam kisah-kisah Panji, baik pada susustra tekstual maupun visual pada relief-relief candi dikemukakan bahwa Khadehan adalah seorang pengiring setia Sang Panji. Atau semacam tokoh punakawan (jurudyah) dalam Pewayangan Jawa.

Khadehan digambarkan sebagai orang cebol bertubuh gemuk, pendek dan bermuka jelek. Pada sinopsis cerita dalam Prasasti Pabanyolan, Khadehan lah yang dikisahkan sebagai ‘berjasa menemukan’ Panji di negara manca (yakni di kerajaan Kling), yang telah demikian lama terpisah dengan ibunya (diistilahi ‘Parameswari”, yakni istri utama raya yang berkuasa).

Atas dasar dua indikator itu, tidak diragukan bahwa sinopsis cerita yang termaktub dalam Prasasti Pabanyolan ini adalah suatu varian dari “Cerita Panji. Pola ‘3in1’ daam kisah-kisah Panji, yaitu: (1) integrasi, (2) disintegrasi, dan (3) reintegrasi juga terpola pada kisah ini. Pada mulanya, Ino/Hino (baca ‘Panji’) tinggal bersama (tahap integrasi) dengan keluarganya di Jawa – semestinya di dalam lingkungan kadatwan Jenggala.

Oleh karena suatu sebab – yang tidak dikisahkan dalam sinopsis ini, Panji berada di Kling dan terpisah amat lama (tahap disintegrasi) dengan keluaganya). Pertemuan kembali (tahap reintegrasi) antara Ino/Hino dan Ibunya (Parameswari) terjadi diluar kesengajaan, ketika Khadehan mencari obat (sang usaddha) untuk Parameswari. Berdasarkan kesamaan pola ini, maka tidak diragukan bila sinopsis cerita dalam Prasasti Pabanyolan ini adalah suatu varian dari “Cerita Panji”.

2.2. Sinopsis Satu Varian Cerita Panji

Bagian ini memuat tentang sinopsis Cerita Panji dalam Prasasti Pabanyolan, yang hanya akan dipaparkan ringkasan dari sinopsinya – maaf, hanya ringkasan dari ringkasan cerita, dan bukan merupakan translasi dari teks utuh Prasasti Pabanyolan. Meski demikian, diharapkan telah mampu memberi gambaran mengenai alur cerita dan pokok pesan yang terkandung di dalamnya.

Dikisahkan bahwa “Suatu ketika ibu Parameswari jatuh sakit. Bermacam obat dan sejumlah tabib istana telah dicobakan dan dikerahkan, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Sebagai sebuah ikhtiar, Khadehan diutus untuk mencari obat (sang usaddha) untuknya. Pecarian dilakukan hingga ke Nusa Sunda, bahkan sempat bertemu dengan Rakryan Galuh dan pendeta (sang wiku). Namun, obat yang dicarinya tak didapati.

Pencarian dilanjutkan hingga ke Kling – ada kemungkinan Kling berada di Jambudwipa (India), bukan nagari Keling di Jawa, sebab perjalanan pulang dari Kling diistilahi dengan ‘mantuk (kembali ke)’ dan ‘tka (tiba di )’ Jawa’, Pada tempat ini (Kling) Khadehan bersua dengan seseorang yang disebut ‘Ino’ dan diberinya obat.

Bahkan, ketika Khadehan hendak pulang ke Jawa, Hino berkenan turut dengan disertai oleh Mahisa Juru Kurung. Sesampainya di Jawa, Ino/ Hino tinggal di Malandang, dan bertemu dengan Parameswari, yang sebelumnya menyandang sakit, Meski usaddha itu belum diobatkan, namun serta-merta Parameswari mendapat kesembuhan dari derita sakitnya yang berkepanjangan. Rupa-rupanya, setelah permaisuri raja (parameswari) ini bertemu dengan Ino/Hino, sembari mencermati sosoknya, Parameswari mengenali bahwa Ino/ Hino tiada lain adalah putranya sendiri yang telah demikian lama berpisah dengannya.

Pada bagian akhir prasasti (sisi recto) dikemukakan bahwa susastra yang selesai ditulis (telas sinurat) di Sang Hyang Batur Pajaran ini diibaratkan dengan ‘pabanyolan (lawakan, senda-girauan)’. Oleh sebab. penyembuh sakit berkepanjangan Parameswari bukan obat (medicine), melainkan bertemu dengan seseorang yang tiada lain adalah putranya sendiri, yaitu Ino/Hino, yang telah demikian lama berpisah dengannya.

Dalam bahasa Jawa Baru, sakit demikian dinamai ‘loro wuyung (sakit rindu)’, suatu psiko-somatis yang dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit. Obat mujarab dari sakit rindu (kangen berat) ternyata sederhanya saja, tiada lain adalah ‘bertemu dengan orang yang dirindukannya’. Tergambar dalam cerita Panji yang komis ini, obat buat derita sakit ibundanya (Parameswari) adalah kepulangannya dari kembara lamanya di Kling.

Siratan Informasi mengenai Khasanah Budaya Panji

Prasasti yang tak seberapa panjang ini memberi kita informasi yang tidak terbantahkan bahwa pada Masa Keemasan Majapahit cerita Panji telah demikian populer. Bukan hanya digemari di lingkungan istana dan tempat tinggal para bangsawan (watek i jro), namun telah merambah hingga ke luar keraton. Tidak terkeculi pada lingkungan para pertapa (batur), semisal di Sang Hyang Batur Pajaran, yang berada terpencil di lembah sisi barat Semeru dan sebelah selatan Gunung Tengger. Para pertapa di Sang Hyang Batur Pajaran meminati susastra Panji, dengan menggubahnya menjadi varian cerita yang kreatif dan baharu pada zamannya.

Cerita Panji tidak hanya sebatas percintaan antara Panji (Ino, Inu, Hino) dengan kekasihnya (Dewi Sekartaji, Candrakirana), namun tokoh-tokoh lain disekitar kehidupannya. Ibunya, yakni istri parameswari sang raja (dalam kisah Panji dinamai ‘Prabu Lembu Amilihur), tanpa terkecuali dijadikan sebagai tokoh peran. Pada sinopsis cerita dalam Prasasti Pabanyolan ini pokok kisahnya adalah sakit dari bunda Panji.

Pada penghujung cerita dinyatakan bahwa obat mujarab bagi kesembuhan ‘penyakit rindu’ bundanya adalah Panji, yakni pertemuan antara ibu-anak yang telah terpisah jauh dan amat lama. Dramatika cerita Panji dengan demikian bukan melulu kisah asmara Inu Kertapati-Candra Kirana (Asmorobangun-Sekartaji), namun terbuka untuk dikreasikan dengan ‘drama kasih anak-bunda’, seperti pada Ino dengan bunda Parameswari.

Dalam varian Cerita Panji ini, yang boleh saja diberi judul “Panji Sang Usaddha’; aspek-aspek dramatik yang lazim ada dalam cerita-cerita Panji hadir, seperti: (a) pola ‘relasi tiga’ (integrasi, disintegrasi, dan reintegrasi), (b) kembara Panji jauh ke luar kadatwannya di Jenggala, yakni hingga ke Nusa Sunda dan Kling, (c) pencarian untuk yang berliku-liku, rumit, bahkan hingga ke tempat lauh, dan sudah barang tentu adalah (d) pesan ‘kasih (dalam arti uas).

Berkenaan dengan aspek terakhir, ditekankan bahwa kasih adalah solusi bagi beragam problema. Hal lain yang juga turut tergambarkan adalah peran ‘sosok kecil’, yakni seorang pengasuh (khadehan) untuk mempertemukan dua anak manusia yang lama dan jauh terpisahkan, serta sekaligus menjadi perantara bagi suatu kesembuhan. Orang kecil sekalipun sesungguhnya bisa mengkontribusikan perannya untuk suatu perkara besar.

Prasasti Pabanyolan sekaligus menjadi pembukti bahwa ‘materi ajar’ di Mandala Kadewagurwan tak semata ajaran agama. Namun juga hal-hal lain, tak terkecuali kesenian. Susastra sebagai salah satu jenis kesenian dijadikan ‘wahana olah budi’. Dalam susatra Jawa Kuna maupun Tengahan acap digambrakan tentang olah seni – disamping olah iman, olah widya, dsb. – yang turut diajarkan di Mandala Kadewagurwan.

Keterampilan dalam hal tutur-tulis susastra adalah kepiawian penting yang diajarkan dan dilatihkan di lembaga pembelajaran purba itu. Susastra tulis yang terpilih atau yang dinilai baik, dipamerkan pada peserta ajar lain untuk diapresiasi bersama. Nampaknya, kisah Panji yang sinopsisnya termaktub dalam Prasasti Pabanyolan adalah karya sastra terpilih diantara karya-karya lainnya, sehingga layak diabadikan dengan menuliskannya ke dalam prasasti.

Bagi Malang Raya khususnya, Jawa serta Nusantara pada umumnya, Prasasti Pabanyolan memiliki arti penting, utamanya bertalian dengan ‘akar budaya Panji’. Dengan adanya prasasti ini, tak diragukan lagi bahwa budaya Panji, khususnya susastra oral dan tekstual Panji, telah memiliki akar sejarah panjang di Malang, paling tidak semenjak Masa Majaphit.

Akar seni-budaya Panji di Malang tak hanya terbuktikan oleh adanya ragam kisah Panji yang secara konsisten dijadikan ‘lakon Wayang Topeng Malangan’, namun jauh lebih tua daripada itu prasasti sejaman (yakni susastra era Majapahit untuk menggambarkan khasanah budaya masa Majapahit) juga menyuguhkan faktanya. Pada tulisan sambungan (Akar Kesenian Panji 2) berikutnya, pembukti tentang eksistensi sustra Panji di Malang bakal diperkuat dengan telaah mengenai Kidung Panji Margasmara.

Demikianlah tulisan yang cuma bersahaja ini dicukupkan. Mohon maaf kepada para pakar atas ‘cethek widya’ saya mengenai khasanah Budaya Panji. Meski sedikit, semoga tulisan ini memberi kefaedahan. Nuwun.

Sangkaliang, 2 Juli 2018
Rumah Ajar CITRALEKHA

Arkeolog, M. Dwi Cahyono menunjukkan pecahan batu padas bermotif di situs Kelandungan, Malang. (Foto : Viva.co.id)

*Areolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan