Efek ‘Rumah Kaca’ Oleh : Dono Sunardi*

Novel Mademoiselle Fifi
Mademoiselle Fifi (Capture almouggar.com)

Terakota.id–Guy de Maupassant (1850-1893) adalah seorang penulis tenar berkebangsaan Prancis yang sepanjang hidupnya telah menulis lebih dari 300 cerita pendek (cerpen). Banyak dari cerpennya, dengan gaya bahasa yang plastis dan natural—enak namun menyengat—, berkisah tentang kehidupan masyarakat kelas bawah yang terdesak dan terpinggirkan oleh modernitas. Kadang, dia menulis dengan sikap yang empatik, tetapi jauh lebih sering sikap yang ditunjukkannya adalah ironis, dengan kecenderungan yang kuat pada pesimisme dan sikap anti-agama dan anti-militer.

Terkait karya-karyanya, de Maupassant sempat berujar bahwa alasan dia menulis adalah untuk mencari uang, dan tidak lebih dari itu. Bisa dikatakan bahwa dia sukses dalam hal tersebut karena dia dikenal sebagai penulis yang kaya-raya (Husen 2004, hlm. xv-xvi). Tetapi, rasanya terlalu naif untuk percaya begitu saja bahwa ujarannya tersebut sepenuhnya benar karena karya-karyanya, jika kita mencermatinya, lebih dari sekadar usaha untuk menghidupinya secara material tetapi suatu ungkapan kegelisahan yang dalam atas situasi yang dihadapinya.

Dari yang sedikit karya de Maupassant yang empatik tersebut, saya membaca cerpen yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Rumah Kaca”. Cerpen ini tergabung dalam kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (YOI) pada 2004 di bawah judul payung Mademoiselle Fifi. “Mademoiselle Fifi” sendiri merupakan salah satu cerpen signature de Maupassant.

Cerpen “Rumah Kaca” berkisah tentang sepasang suami-istri yang tinggal di Prancis. Suami-istri ini bernama Lerebour dan merupakan keluarga petani yang cukup terpandang. Tuan Lerebour adalah seorang laki-laki pendek dan tambun dengan pembawaan ceria. Nyonya Lerebour, sementara itu, adalah seorang perempuan yang berparas manis tetapi mulutnya tajam, terutama terhadap suaminya. Perkawinan mereka jauh dari membahagiakan. Selalu saja ada hal yang bisa menyulut bibir tipis Nyonya Lerebour untuk membakar Tuan Lerebour.

Sampai pada suatu malam, tidur mereka yang damai diusik oleh suatu suara. Nyonya Lerebour dengan kasar membangunkan suaminya untuk mengecek keadaan. Awalnya Tuan Lerebour malas untuk bangun, dan mengatakan tidak ada apa-apa, tetapi dengan semakin kasarnya Nyonya Lerebour mengejek bahwa sang suami ketakutan. Akhirnya, dengan agak enggan, Tuan Lerebour bangun, mengambil revolvernya dan keluar untuk menyelidiki.

Menit berganti jam dan Tuan Lerebour tidak jua kembali. Nyonya Lerebour pun panik ditinggal seorang diri sekian lama. Khawatir juga dia kalau-kalau sesuatu yang buruk atau amat buruk menimpa suaminya.

Dia tercekat, sekaligus lega, manakala pintu kamar akhirnya dibuka dan yang masuk adalah suaminya. Suaminya itu kini terlihat cerah wajahnya dan menyungging senyum simpul. Dan lantas, begitu saja dia menggelitiki badan Nyonya Lerebour dan mencium pipi serta bibirnya. Di sela-sela melakukan pekerjaan romantisnya itu, Tuan Lerebour bercerita tentang apa yang dilihatnya di rumah kaca tempat Nyonya Lerebour bertani.

Celeste, pembantu Nyonya Lerebour, mendapat kunjungan rahasia dari kekasihnya dan mereka bercinta dengan ganasnya di sana. Cinta yang dilihat di rumah kaca antara Celeste dan kekasihnya tersebut menular ke kamar Tuan dan Nyonya Lerebour yang sebelumnya beku dan kasar. Kehidupan keluarga Tuan dan Nyonya Lerebour menjadi lebih indah karenanya.

Kuatnya Pengaruh Lingkungan
Saya, dan mungkin juga Anda, mungkin akan tersenyum simpul membaca akhir dari cerpen “Rumah Kaca” ini. Melihat orang lain bercinta, membuat pasangan suami-istri Lerebour yang biasanya dingin ketularan ingin bercinta. (Untung sajalah bahwa mereka memiliki penyaluran dalam diri pasangan masing-masing. Kalau tidak, yang terjadi bisa saja adalah seperti yang sering kita baca di banyak media massa: pelampiasan dalam bentuk pemerkosaan, pelecehan, masturbasi, dan semacamnya.)

Namun demikian, yang ingin saya garisbawahi dalam tulisan saya ini bukanlah soal lampiasan pasangan Lerebour untuk bercinta atau bahkan soal moralitas dari cerpen de Maupassant. Soal pelampiasan gairah syahwat adalah isu yang terlampau banal, sedangkan untuk bicara soal moral, saya merasa terlalu “kotor”. Saya memosisikan diri lebih sebagai seorang pengamat daripada penganjur moralitas.

Maka, saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana situasi atau lingkungan di mana kita hidup dan berinteraksi dapat begitu dalam memengaruhi (dalam arti tertentu juga membatasi) pilihan-pilihan kita, cara kita beridentitas, dan bahkan kedirian kita. Mungkin bahkan, di mana kita hidup dan seperti apa situasi historis, politis, ekonomi, dan sosial yang melingkupi kita memiliki daya yang adikuat dalam menentukan apakah kita nanti di kehidupan akhirat akan masuk surga atau terjun bebas ke neraka (seandainya dunia akhirat dengan surga dan nerakanya memang ada). Tentu saja, yang saya sampaikan terakhir ini adalah contoh kasus yang ekstrem.

Karenanya, saya akan memberi contoh-contoh yang lebih realistis. Dalam contoh yang pertama, seorang anak yang terlahir dalam keluarga yang terdidik dan terlatih, di mana sang ayah adalah seorang profesor terkemuka di kampus terkenal dengan reputasi yang menjulang, rumah yang selalu bersih dan hangat, fasilitas belajar yang lengkap, buku-buku yang memenuhi ruang perpustakaan kelurga, waktu luang dan waktu bersama sebagai keluarga yang memadai, dan ibu yang seorang penulis dan editor di suatu penerbitan besar, yang akses ke pengetahuannya terbuka lebar, hampir bisa dipastikan memiliki modal awal yang jauh lebih mencukupi untuk meraih kesuksesan (duniawi dan akhirat [?]) daripada seorang bocah yang tidak memilih tetapi terlahir dalam keluarga miskin, yang setiap siang sepulang sekolah mesti membantu sang ayah mencangkuli sawah milik orang lain, menggembalakan kambing di ladang, dan di waktu malam masih mesti membantu sang ibu menyiapkan dagangan berupa kue-kue kecil dan murah untuk dibawanya ke sekolah keesokan harinya alih-alih membaca kembali buku pelajarannya. Anak yang disebut terlebih dulu itu dikatakan memiliki privilese yang tidak dipunyai oleh anak yang disebut lebih belakangan, khususnya dalam hal akses kepada masa depan yang lebih menjanjikan.

Contoh yang kedua menampilkan seorang yang tumbuh dan besar di negara maju, dengan akses ke pendidikan, pelayanan kesehatan, rekreasi, teknologi, keamanan, dan profesi yang lebih baik mempunyai privilese yang tidak dipunyai oleh seorang anak yang lahir di, misalnya, negara di Afrika Sub-Sahara di mana kesibukan setiap harinya berkisar pada bagaimana mencari air bersih untuk MCK dan/atau perang saudara. Yang ketiga, seseorang yang sejak kecil dan secara reguler dijejali dengan doktrin-doktrin A tidak akan memiliki privilese untuk melihat suatu persoalan atau isu secara multidimensional; karena dia memang tidak dibekali dengan itu.

Dari ketiga contoh tersebut, dapat diamati bahwa lingkungan memainkan peran yang demikian besar dalam bagaimana seseorang melihat serta memahami dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya, dan dunia dengan segenap persoalannya. Seorang dengan lingkungan yang berbeda kemungkinan besar akan bereaksi secara berbeda pula terhadap suatu situasi atau kasus.

Dengan kata lain, cara saya melihat, memahami, bereaksi pun sangat khas; berbeda dari cara orang lain yang lingkungannya berbeda dari lingkungan saya melihat, memahami, dan bereaksi terhadap situasi yang sama. Dan, pada masa kini, di mana demokratisasi digital memungkinkan semua orang bersuara dan mengeluarkan pendapatnya secara virtual sembari berlindung di balik tembok anonimitas, jika tidak disikapi dengan hati-hati dan bijak, yang bisa timbul adalah kegaduhan dan tirani mayoritas, atau bahkan tirani dari suara yang paling galak dan lantang, tidak peduli apakah yang galak dan lantang itu secara objektif benar atau tidak.

Tanggung Jawab Ekstrem
Mengingat begitu kuatnya daya cengkeram lingkungan terhadap seseorang yang tumbuh di di bawah lingkup payungnya, apakah ada cara untuk membebaskan diri darinya dan, dengannya, menegaskan agensi atau kesubjekan orang tersebut? Bagaimana bocah tak berprivilese dalam contoh pertama di atas sanggup mencelas dan menegaskan bahwa “Aku bisa mencapai hal yang relatif sebanding dengan yang dicapai oleh dia yang anak profesor dan penulis itu”? Atau mereka yang tumbuh di Afrika Sub-Sahara kemampuan untuk mengatasi masalah subsisten terkait air bersih dan perang saudara yang menderanya? Atau, dia yang tidak mengenal doktrin lain di luar yang dicekokkannya kepadanya terbuka pikirannya bahwa ada perspektif lain, bahwa ada dimensi lain, yang bisa jadi tidak boleh serta-merta dicapnya sebagai hal yang salah?

Ketika kita tiba pada titik ini, sangat mudah untuk jatuh pada sikap pesimis. Rasanya yang kita temui adalah sebuah lingkaran setan yang tak berujung-pangkal dari lingkungan yang buruk dan ketiadaan privilese atau lingkungan yang “ideal” yang menjaga privilese hanya untuk suatu kelompok tertentu. Bisa jadi demikianlah yang menginspirasi Guy de Maupassant untuk menulis karya-karyanya mengenai kaum menengah ke bawah yang bukan pemegang privilese tersebut. Mereka tidak akan pernah keluar dari jerembab mereka karena lingkungan mereka memastikan hal tersebut. Ada rasa kasihan, mungkin juga empati, tetapi lantas terkikis habis oleh ketidakberdayaan di hadapan suatu tatanan yang tidak berhati.

Guy de Maupassant bukan seorang teoretikus sosial atau seorang ahli rekayasa sosial, tetapi dia adalah seorang pengamat masalah sosial yang cermat. Dia tahu bahwa di hadapan lingkungan yang sudah sistemik, dia tidak berdaya dan usahanya akan sia-sia. Namun, dia punya cara lain untuk menyampaikan maksudnya tentang bagaimana orang dapat sedikit-banyak keluar atau menarik nafas lega dari cengkaman lingkungan yang toksik.

Cara tersebut disampaikan, karena de Maupassant adalah seorang sastrawan, dengan subtil. Dia mengatakan bahwa cara bagi pasangan suami-istri Lerebour untuk dapat lepas dari relasi mereka yang ‘dingin’ adalah dengan keluar dan melihat apa yang lain yang terjadi di luar kamar tidur mereka. Tentu saja, pada mulanya tak satu pun dari mereka mau melakukannya karena mereka sudah terlanjur ‘mapan’ dalam tidur mereka atau mereka menyadari adanya potensi bahaya di luar sana.

Bagaimana jika yang menanti di luar sana, dalam kegelapan, adalah pencuri bersenjata? Bagaimana jika itu binatang buas? Namun, hanya dengan menabalkan diri keluar dari kamar tidur, dari kedirian lama, merekalah Tuan Lerebour mampu tercelikkan matanya akan sesuatu yang indah yang tidak ditemukannya di kamar tidurnya, yang lantas dibawanya dan dibaginya dengan istrinya dengan penuh kemesraan.

Hanya dengan berani keluar dari rutinitas dan kemapanan yang diciptakan oleh lingkunganlah kita dapat mencermati lingkungan itu dengan berjarak, melihat dengan kritis dan kacamata yang berbeda cara kita memahami diri kita sendiri dan orang lain. Tidak ada yang bisa melakukannya untuk kita jika kita tidak melakukannya sendiri. Kita hanya harus bangun, berjalan ke luar dan membuka diri, juga terhadap kemungkinan bahaya dan konsekuensi yang tak menyenangkan. Tetapi, tanpa mengambil risiko tersebut, kita tidak dapat pula siap untuk menerima pembebasan dan emansipasi seperti dialami oleh pasangan suami-istri Lerebour, yang walaupun sesaat sifatnya tetap terasa hangatnya.

Memakai contoh-contoh di atas, tidak ada yang dapat dilakukan si anak buruh tani kecuali berusaha keluar dari kemelaratannya dengan segala cara yang mungkin, barangkali lewat jalur pendidikan. Dia mesti menjadi sebaik-baiknya dirinya di sekolah sembari mencari dan mengupayakan kesempatan untuk meraih pendidikan lebih tinggi. Intinya, dia mesti merebut privilese itu sendiri. Bagi si anak yang tumbuh di Afrika Sub-Sahara, bisa jadi dia mesti lari dari sana dan mencari penghidupan di tempat baru. Bagi si anak yang sejak kecil diindoktrinasi tanpa diberi kesempatan untuk menarik nafas, dia mesti berani bertanya dan berani meragukan yang diajarkannya kepadanya.

Apakah ini berarti, saya penganjur ideologi rugged individualism, yang meyakini bahwa “man is what he creates himself to be”? Dalam aspek tertentu, bisa jadi begitu. Menurut saya, tanggung jawab personal dan individual sampai taraf yang ekstrem (extreme ownership) adalah langkah pertama yang mesti. Kita mesti berani berjuang dan bangun untuk keluar dari lingkungan yang selama ini menaungi kita, mengambil jarak kritis darinya. Setelah itu, mari berharap nasib baik akan membawa kita pada suatu situasi yang lebih adil.

Dono Sunardi, dosen Sastra Inggris di Universitas Ma Chung, penerjemah buku dan pembaca yang giat.

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini