Dua Musisi Muda Indonesia Berkolaborasi dalam Budaya Global Perawatan dan Penyembuhan melalui Musik

Terakota.id—Dua musisi muda Indonesia mengikuti residensi dan berkolaborasi dalam pertukaran budaya global, OneBeat. Sesi pertama OneBeat, Indonesia diwakili dua musisi muda berbakat yang lolos seleksi. Yakni Rani Jambak dari Medan, dan Rangga Purnama Aji dari Yogyakarta.

Tahun ini,  OneBeat dilangsungkan secara virtual, dalam dua sesi. Sesi pertama, pada 12 Juli-6 September 2021 diikuti sebanyak 35 musisi muda inovatif dari 17 negara yang terlibat dalam kegiatan residensi virtual.  Selama tuju pekan, musisi ini secara virtual bertemu, berdiskusi intens, bekerja, dan berkolaborasi secara daring. Mereka berproses bersama merealisasikan tema program tahun ini dalam karya mereka.

Rani Jambak menjelaskan program residensi peserta mengikuti beragam latihan untuk merangsang kreativitias. Meliputi meditasi, zumba, sound healing, sound painting, master class dari berbagai musisi, proses kolaborasi, penyampaian ide. Selama dua bulan proses ini dilakukan dengan sangat intens,” katanya dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Semua peserta diajak berpikir bersama, untuk menggali apa yang dilakukan dalam aktivitas proses kreatif berkesenian mereka. Untuk berpartisipasi dalam isu besar yang diangkat. Tahun ini OneBeat mengangkat isu kondisi dunia yang berduka akibat pandemi, perawatan, dan penyembuhan melalui musik. Serta bagaimana dunia bisa terus menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan berbagai kenyataan yang berubah dengan cepat.

“Musik dan suara dianggap sebagai salah satu jalan untuk mendorong terbangunnya mode saling terkoneksi dan menjalin hubungan dengan orang lain. Sebagai tindakan penyembuhan kolektif dan pribadi,” ujarnya.

Puncak Acara One Beat Virtual Residency dilangsungkan Kamis-Sabtu, 2-4 September 2021. Dalam Puncak Acara dilaksanakanlah serangkaian acara bertitle “OneBeat Virtual Concert.” Bertema “Scores for Uncertain Time.OneBeat Marathon Virtual Concert menampilkan semua peserta, mereka berkolaborasi dalam pertunjukan musik.

Sedangkan Rani Jambak tampil berkolaborasi bersama Victor Angeleas, pemain mandolin dari kota Brasilia, Brazil. Karyanya berjudul “Distortion Journey”. Victor merupakan lulusan musik dari University of Brasilia, multi-instrumentalis, komposer, dan produser yang banyak memenangkan penghargaan. Kini, ia menjabat sebagai profesor di Music School of Brasilia, salah satu lembaga pendidikan musik publik terbesar di Amerika Latin.

Distortion Journey merupakan hasil diskusi panjang Rani Jambak dan Victor Angeleas selama hampir dua bulan. Menggambarkan bagaimana sebuah perjalanan kehidupan yang terdistorsi oleh kondisi pandemi. Mereka membincang bagaimana “membuat ritual” penyembuhan diri, agar lebih bahagia, dan lebih banyak cinta. Mereka menemukan lawan kata “cinta” ternyata bukan “benci”, melainkan “ketakutan”. Ketakutan membuat manusia tidak bisa merasakan keindahan.

Konsep karya musik mereka adalah menyimpulkan semua hasil diskusi panjang dalam bentuk musik yang menjadi proses “healing”. Proses healing membangkitkan memori yang baik dan buruk, merangkaikan pengalaman-pengalaman personal dari apa yang dihirup, dicium, didengar, dilihat, dirasakan. Dibawa melalui soundscape negara masing-masing, dan dikolaborasikan dalam sebuah karya komposisi bersama.

Dalam ritual itu ada proses perjalanan memori dan bagaimana kita hidup dalam keadaan sekarang, tidak berekspektasi untuk masa depan, namun tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu.

Sedangkan dalam kelas experiments in songwriting and production, menampilkan penyanyi Kolombia Ana Milena Lozada, pemain perkusi Utah dan pemain synth modular Gavin Ryan, produser Indonesia Rani Jambak, pemain perkusi dan produser Brasil Alexandre Baros, dan bassis Kolombia Miguel Velasquez Matija dengan produser yang berbasis di Brooklyn, Christopher Botta.

Eksperimen gabungan dari video musik dan dokumenter, dipimpin oleh pemain perkusi yang berbasis di Recife Alexandre Baros dan produser Indonesia Rani Jambak. Menampilkan karya pertama dari produser global ini yang telah dikembangkan bersama selama enam pekan terakhir dalam proses OneBeat Virtual.

Sementara  Rangga Purnama Aji tampil dengan tema Resonation to Infinity and Beyond. Menampilkan artis suara dan live coder Indonesia Rangga Purnama Aji, pemain cello NYC Dara Hankins, produser Rusia Ilia Symphocat, produser Bolivia Marco Flores Zapana dan pemain cello Rusia Alina Anufrienko dengan UMLILO yang berbasis di Johannesburg.

Musik Menyatukan Perbedaan

OneBeat merupakan project budaya global yang  menyatukan berbagai latar belakang, genre, bangsa, dalam sebuah gerakan diplomasi budaya. Tujuannya untuk mendorong dalam pengembangan hubungan damai lintas bangsa. Para alumni One Beat telah tesebar luas di seluruh dunia.  Mereka didorong untuk selalu terkoneksi dan terus berkarya bersama membuat berbagai program yang disebut sebagai Program OneBeat Abroad.

Program ini membawa pengalaman transformasional OneBeat ke negara-negara di seluruh dunia. Melalui program residensi dan tur tahunan yang berlangsung di negara atau wilayah berbeda di dunia setiap tahun. Seperti di Istanbul, Rusia, Balkan, dan Kolombia.

Experiments in songwriting and-production Rani Jambak Friends. (Foto: Rani Jambak).

Ada pula kerja kolaborasi para alumni OneBeat untuk membangun community development di masyarakat. Berupa kegiatan festival musik dan workshop untuk musisi perempuan. Berbagai program usulan alumni diseleksi dan berpeluang untuk bisa mendapatkan dukungan dana sampai ribuan dolar Ameika.

Tercatat sejumlah musisi Indonesia berhasil mengikuti program OneBeat. Aantara lain Sri Joko Raharjo pemain perkusi/kendang lulusan ISI Surakarta (OneBeat 2012); Peni Candra Rini, komposer dan penyanyi, ISI Surakarta (OneBeat 2014); Barry Likumahuwa, bassist jazz dari Tangerang, (OneBeat 2014); Jay Afrisando, komposer, musisi multi instrument dari Bantul (OneBeat 2015); Tedi En, pemain perkusi, musisi multi instrument dari Jatiwangi (OneBeat 2016); Rayhan Sudrajat, komposer, vokalis, pemain sapek dari Bandung (OneBeat 2017); Nursalim Yadi Anugerah, komposer, musisi multi instrument dari Pontianak (OneBeat 2019); Rani Jambak, komposer, produser musik, vokalis, seniman suara, dari Medan (OneBeat 2021 sesi 1); Rangga Purnama Aji, komposer, produser musik, live coding music, dari Jogja (OneBeat 2021 sesi 1); dan Gardika Pradipta, komposer, pianis, dari Sragen (OneBeat 2021 sesi 2, akan start dimulai bulan September 2021)

Program merupakan prakarsa pertukaran budaya melalui residensi musik dan menjadi bagian dari diplomasi budaya. Didanai Biro Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Kegiatan ini mempertemukan beragam talenta musisi muda berbakat dari berbagai penjuru dunia dalam sebuah program kolaborasi residensi.

Sebelum pandemi, sejak 10 tahun yang lalu OneBeat dicetuskan, dilaksanakan  di New York, Amerika Serikat. Peserta dari seluruh dunia diundang ke New York selama satu bulan, untuk berproses bersama, bertukar ide dan gagasan,  dan berkolaborasi untuk menghasilkan karya dalam koridor besar tematik tertentu.

Rani Jambak

Rani Jambak merupakan komposer, produser dan vokalis yang berbasis di Medan. Setelah menyelesaikan Magister Industri Kreatif di Macquarie University, Australia, ia memulai karir solo.  Mempelopori project-project seperti “Medan Soundspectives”, sebuah festival budaya yang merayakan keragaman akustik suara kota Medan, Indonesia, yang didanai Goethe Institut.

Rani kemudian menekuni pembuatan komposisi kreatif berbasis soundscape,  yaitu mengambil  rekaman suara alam dan aktivitas kehidupan sosial budaya masyarakat. Menghubungkannya dengan perjalanan spiritual kehidupannya dan akar budaya leluhurnya dalam karya komposisi.

Rani merupakan seorang pencinta lingkungan yang berdedikasi, dari memulai kampanye media sosial #formynature. Ia menciptakan musik tentang berbagai masalah lingkungan. Bermitra dengan pemerintah daerah dan LSM internasional seperti Orangutan Haven dan PPLH Bahorok, sebuah pusat pertanian ramah lingkungan.

Rangga Purnama Aji

Rangga Purnama Aji merupakan seorang komposer, produser, dan seniman video Indonesia. Dia juga Direktur Program October MeetingContemporary Music & Musicians, sebuah ruang pertemuan nirlaba untuk mengulas pemikiran, penelitian artistik dan ilmiah, dan kegiatan kritis terhadap pengembangan seni suara.

Rangga Purnama Aji
Rangga Purnama Aji merupakan seorang komposer, produser, dan seniman video Indonesia. Dia juga Direktur Program October Meeting – Contemporary Music & Musicians. (Foto: dokumen pribadi).

Karya Rangga berkisar dari musik akustik berbasis musik scoring hingga improvisasi gratis, live coding, musik elektro-akustik/elektronik, seni suara, komposisi lanskap suara, seni video, dan seni digital. Praktik seninya mencoba mengkaji banyak kemungkinan dan visi berdasarkan latar belakang Jawa dan Sunda, referensi empiris, pemikiran tentang kehidupan, hubungan manusia, dan mistisisme, untuk menciptakan kesan dan makna alternatif.

Kini Rangga menekuni pengembangan live coding music. Yaitu performance musik berbasis pemrograman coding,  ia mendorong terbentuknya komunitas musik berbasis coding di Indonesia. Berjejaring dengan komunitas music coding secara internasional.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini