Dosen Sosial Merenung

Terakota.id–Tiba-tiba di sejumlah WhatApps Group (WAG) dosen di beberapa kampus ramai. Mereka berkomentar terkait program terbaru yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang diberi tajuk “Dosen Merenung”. Mungkin dari namanya, yang membuat orang kaget. Akhirnya ramai membicarakan bahkan tak jarang ada yang membuat parodi, plesetan, dan meme lucunya.

Munculnya diksi “Merenung” sebagai nama sebuah program, sekaligus kata “Merenung” itu mengajak semua dosen merenungi tentang keilmuan yang digelutinya. Dari sisi Ilmu Sosial misalnya, bagaimana saat ini tantangan Ilmu Sosial menghadapi era industri 4.0 sebenarnya sangat berat. Tak sekedar perlu direnungkan, namun perlu upaya inovatif dan konkrit.

Program “Dosen Merenung” Dikti ini salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas akademik dosen. Dosen ditantang keluar dari kampusnya, merenung di tempat lain guna melakukan penelitian, menulis publikasi jurnal, buku, artikel ilmiah, dan sejenisnya. Intinya, program ini tak bisa dimaknai dosen disuruh merenung atau melamun, sambil meratapi nasibnya.

Merenungi Big Data

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah melahirkan industri 4.0. Pada masa ini muncul big data sebagai kekuatan yang sangat powerful. Era ini melahirkan sistem otomasi, yang mengandalkan penggunaan mesin, sistem kontrol, dan teknologi informasi. Dalam situasi ini, posisi ilmu sosial tetap bisa mengambil peran sebagai pembuat kebijakan dalam sistem otomasi. Dan ketika otomasi itu menemui titik kejenuhan, maka yang akan muncul adalah prinsip-prinsip kreatifitas, imajinasi, dan inovasi yang menjadi ciri utama Ilmu Sosial.

Era big data bakal melahirkan sistem yang dinamakan ekonomi berbagi (economic sharing). Pada era ini kapital bukan lagi bisa dipandang sebagai aset. Kapital itu kini menjadi nilai. Pada era economic sharing ini dimungkinkan muncul ada penyedia jasa transportasi tanpa harus punya motor dan mobil (Gojek), ada retail dengan omzet tertinggi dunia tanpa harus punya stok barang (Alibaba.com), ada media terpopuler di dunia yakni Facebook yang tak perlu membuat konten sendiri medianya, dan sejumlah platform bisnis online lainnya.

Sebut sebagai contoh apa yang telah dilakukan Nadiem Makarim, CEO Gojek. Nadiem telah menggunakan ilmu sosial untuk memotret masalah transportasi yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya berkat kemampuannya memahami dan menguasai teknologi informasi berbasis data maka keresahan masyarakat terkait transportasi tersebut di jawab dengan membuat platform transportasi online yakni Gojek. Inilah wujud dari perubahan (disrupsi) aplikasi Ilmu Sosial yang sebelumnya tak pernah terpikir.

Para Ilmuwan Sosial perlu segera menyadari situasi disrupsi yang dipicu oleh lahirnya big data. Melalui tren penggunaan big data juga melahirkan profesi baru yang disebut data scientist. Data scientist adalah salah satu profesi yang berada dalam bidang interdisipliner yang berfokus pada teknologi informasi. Profesi ini bekerja untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan sebuah keputusan.

dosen-sosial-merenung
Big data (Ilustrasi : Qureta).

Para Ilmuwan Sosial dituntut tak seperti katak dalam tempurung. Ilmuwan Sosial harus kaya wawasan yang luas dan mampu melihat setiap persoalan dengan persektif yang berbeda. Ilmuwan Sosial juga harus lentur, fleksibel dan responsif. Ilmuwan Sosial dituntut mumpuni dalam berargumen dan tak kaku melihat persoalan hanya dengan perspektif hitam putih saja. Kemampuan melihat dan menafsir situasi yang dimudahkan oleh tersedianya big data menjadi paduan yang jitu guna menghasilkan solusi baru terhadap persoalan masyarakat.

Para Ilmuwan Sosial dituntut mampu mencetak generasi yang punya hybrid skill yang mampu berkompetisi merebut peluang kerja di ranah hybrid job. Hybrid job merupakan area kerja yang menuntut lebih banyak soft skill, seperti kemampuan menulis, kreativitas, meneliti, problem solving, dan kerja kolaborasi. Kemampuan social skills juga penting seperti kerjasama, berbagi, berpartisipasi, suka membantu orang lain, sabar, menerima perbedaan, berkomunikasi dengan positip, sopan, bertingkah laku baik, dan sejumlah perilaku terpuji lainnya.

Merenungi Disrupsi

Perubahan (disruption) yang terjadi saat ini harus direspon oleh Ilmuwan Sosial. Segala perubahan yang dulu sepertinya tak mungkin terjadi kini telah jadi kenyataan. Lahirnya beragam starup, hingga jadi unicorn dan decacorn telah mencegangkan banyak orang. Model berbisnis yang berhasil mengawinkan beragam kemampuan dengan teknologi informasi itu telah mengubah lanskap cara orang mencipta dan memanfaatkan peluang bisnis. Model bisnis dengan rantai birokrasi yang rumit kini telah terpangkas menjadi singkat dan ringkas.

Sukses Gojek misalnya, tak hanya terhenti sebagai penyedia jasa transportasi online semata. Namun dari Gojek selanjutnya muncul Go-Food, Go-Car, Go-Send, Go-Clean, Go-Glam, Go-Pulsa, Go-Deal, Go-Bill, Go-Fix, Go-Box, Go-Massage, dan aneka layanan jasa yang lain. Gara-gara Go-Food misalnya, berapa banyak warung-warung makan yang memperoleh keuntungan dengan model bisnis ini. Lahirnya Gojek telah memainkan multi player effect yang luar biasa dengan tumbuhnya bisnis-bisnis baru.

Salah satu kunci agar berhasil dalam merespon era disrupsi saat ini adalah dengan berkolaborasi. Beragam unsur melebur menyatu menjadi sebuah kekuatan baru yang dahsyat. Dalam kaitan ini, Ilmu-ilmu sosial juga dituntut tak menutup diri hanya pada bidang ilmunya semata. Ilmu-ilmu sosial harus berkolaborasi dan bersinergi dengan ilmu-ilmu lain guna menjawab tantangan zaman di belantara ilmu yang semakin kompleks. Diskusi dan sinergi antar ilmu saat ini telah menjadi sebuah keniscayaan.

Menjawab tantangan perubahan ini, menuntut peran lembaga pendidikan agar menyesuaikan kurikulum pendidikannya. Sekolah dan kampus tak bisa lagi menggunakan perspektif kurikulum jadul yang out of date. Sumber-sumber pembelajaran harus terus digali dan disajikan dalam beragam bentuk. Cara mengajar juga harus dimutakhirkan agar tak menjadikan sang pengajar hanya sebagai sumber tunggal dalam belajar. Para pengajar tak lagi bisa memaksakan peserta didik agar mengikuti sepenuhnya apa yang pengajar lakukan dan berikan.

Ilmu-ilmu sosial dan para Ilmuwan Sosial dituntut terus berkembang merespon era disrupsi. Zaman memang telah berubah, dan terus melaju pesat. Kalau situasi ini tak disadari dan direspon dengan cepat, maka para Ilmuwan Sosial hanya akan menjadi menara gading semata. Para Ilmuwan Sosial tak mampu berpijak ke bumi dan tak bisa jadi penuntun jalan dalam menapaki rimba kehidupan yang cepat berubah saat ini. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini