Doraemon dan Imajinasi yang Membentuk Masyarakat 5.0

Tidak berhenti di situ. Kemunculan film Doraemon juga diiringi dengan kemunculan cerita-cerita lain yang senada tapi dikemas secara berbeda. Sebut saja P-Man, seorang anak yang memiliki peralatan canggih untuk menyelamatkan manusia. Kemudian ada Gundam, robot penolong umat manusia dan fiksi fantasi lainnya yang ditujukan sebagai triger imajinasi bagi anak.

doraemon-dan-masyarakat-5-0

Terakota.id Kabinet Pemerintahan Jepang mulai merancang skema masyarakat 5.0 (smart society). Peneliti Jepang, Mayumi Fukuyama dalam jurnal Japan Spotlight mengatakan bahwa tujuan dibentuknya masyarakat 5.0 adalah mengintegrasikan teknologi dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan bukan tidak mungkin pada kisaran tahun 2030 Jepang telah menyandingkan dunia maya dengan dunia nyata.

Kecerdasan buatan, kecepatan internet, serta frekuensi konektifitas semakin lama semakin mampu memangkas jarak dan waktu. Karenanya, penggabungan dunia nyata dengan dunia maya sangat mungkin terealisasi.

Proses yang dilakukan oleh Jepang memang terbilang selangkah lebih maju dari negara-negara lain yang masih bergelut dengan 4.0. Namun apabila ditelisik lebih lanjut, kemajuan ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Cita-cita ini sesungguhnya sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu.

Jika kita lebih jeli, coba perhatikan cerita imajinatif yang dicetuskan Jepang pada era 1970-an. Saat itu masyarakat masih dalam tahap 3.0 atau era industri dan produksi masal. Ada satu cerita menarik yang saat itu digandrungi oleh anak-anak Jepang, bahkan hingga Indonesia, yaitu Doraemon. Cerita ini kemudian dialihawahanakan ke dalam layar kaca. Dan menariknya, serial Doraemon masih digandrungi hingga hari ini.

Kisah dalam film Doraemon memang sederhana. Tapi imajinasinya yang luar biasa. Doraemon merupakan robot artificial intelligence yang sengaja dikirim dari abad 21 untuk membantu manusia. Tokoh utama dalam film itu selain Doraemon adalah Nobita, Giant, Suneo, Sizuka, Dekisugi, dan teman-temanya yang rata-rata masih kelas 5 SD.

doraemon-dan-masyarakat-5-0
Film Doraemon yang digemari anak-anak. (Sumber: www.rcti.tv).

Secara spesifik, memang tokoh Doraemon ini bertugas untuk membantu seorang anak bernama Nobita. Namun, apabila diamati lebih lanjut akan terlihat bahwa film ini merangsang imajinasi anak-anak untuk memiliki robot secanggih Doraemon. Doraemon diciptakan bukan di saat anak-anak familiar dengan robot seperti sekarang ini. Daya imajinasi inilah yang terus menerus dirawat serta dikembangkan hingga akhirnya pada awal abad 21, Jepang telah menjadi salah satu produsen robot artificial intelligence yang disegani dunia.

Tidak berhenti di situ. Kemunculan film Doraemon juga diiringi dengan kemunculan cerita-cerita lain yang senada tapi dikemas secara berbeda. Sebut saja P-Man, seorang anak yang memiliki peralatan canggih untuk menyelamatkan manusia. Kemudian ada Gundam, robot penolong umat manusia dan fiksi fantasi lainnya yang ditujukan sebagai triger imajinasi bagi anak.

Penguatan imajinasi tak hanya berhenti pada sektor teknologi saja tapi juga pada berbagai bidang seperti olah raga. Ada cerita legendaris tentang Kapten Tsubasa sekitar tahun 1981. Setelah Tsubasa diluncurkan, Jepang menjadi salah satu raja sepak bola Asia dan tidak pernah absen pada perhelatan piala dunia hingga tahun 2018 lalu. Tidak sedikit pemain timnas Jepang yang berlaga di liga-liga besar Eropa. Kesuksesan demi kesuksesan ini tidak akan terjadi apabila imajinasi pada diri anak-anak tidak terbentuk.

Melihat fakta-fakta tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa, porsi imajinasi sangat krusial bagi tumbuh kembang generasi muda suatu bangsa. Kesimpulan ini sama seperti pendapat Tony Wagner dalam bukunya berjudul Global Achievement Gap. Menurut Wagner, perbedaan antara negara maju dengan negara berkembang ada pada pola pikirnya.

Negara maju didominasi oleh masyarakat yang memiki daya imajinasi tinggi. Ini pentingnya mengapa imajinasi harus dimasukkan dalam strategi belajar. Materi pembelajaran yang membuka ruang bagi tumbuh kembang imajinasi seorang anak harusnya mendapat porsi yang krusial.

Saya melihat ada kesempatan bagi para pendidik untuk mengoptimalkan ruang ini melalui pembelajaran sastra. Sayangnya, sering kali sastra masih disepelekan porsinya dalam pembelajaran. Porsi sastra hanya ada dalam pembelajaran bahasa. Itupun masih harus berbagi tempat dengan tata bahasa.

Hal ini dipeparah dengan pelabelan bahwa ilmu yang ada kaitanya dengan angka lebih tinggi derajatnya dari ilmu sastra. Apabila kesalahan bernalar ini turun temurun diwariskan dan tidak segera disadarkan, maka imajinasi tidak akan terbentuk. Oleh sebab itu, perlu porsi yang besar untuk menumbuh kembangkan imajinasi anak.

Yaa itu tadi, salah satunya dengan mengoptimalkan porsi sastra. Agar lebih optimal, porsi ini tidak hanya disediakan di sekolah, tapi juga dalam keluarga dan masyarakat. Atau kita bisa menyebutanya trias pendidikan. Dengan begitu, imajinasi generasi muda bangsa bakal terbangun secara optimal.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini