Dongeng Ken Dedes

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Literalisasi Dongeng Ken Dedes dalam Naskah Pararaton

Terakota.id–Acap dinyatakan bahwa sumber berita tentang “Ken Dedes” hanyalah kitab gancaran (prosa) Pararaton, yang ditulis tak sejaman (diakronik) dengan Masa Singhasari yang menjadi latar historis dari Ken Dedes. Kisah mengenai Ken Dedes terdapat pada paruh pertama naskah Pararaton. Ketika Paraton ditulis, paling cepat pada akhir 1400-an (akhir abad XV). kisah mengenai Ken Dedes masih berupa cerita lisan (tutur).

Indikator mengenai keberadaannya sebagai “tutur” itu terungkap pada perkataan “katuran” dalam baris pertama teks Pararaton “Iti katururanira Ken Angrok (ini tutur tentang Ken Angrok)”. Wujud tutur serupa dengan dongeng, yakni suatu kisah yang disampaikan secara lisan (oral). Berarti, kala itu (akhir 1400-an) terjadi transformasi dari kisah oral (tutur, lisan) tentang Angrok dan tokoh-tokoh peran lain yang berelasi dengannya, antara lain Ken Dedes, menjadi kasih tertulis (literal). Transformasi yang demikian bisa diistilahi dengan “literalisasi dongeng”.

Kisah Ken Dedes dalam Pararaton berada dalam konteks masa ketika kawasan timur Gunung Kawi berada dalam pendudukan Kerajaan Pangjalu (Kadiri) dibawah pemerintahan Akuwu Tunggulametung hingga masa pemerintahan raja I Tumapel (Singhasari,) yaitu Ken Angrok. Durasi waktunya antara akhir abad XII hingga medio abad XIII Masehi. Apabila Pararaton dituliskan pada akhir abad XV, berarti ada jeda waktu sekitar 2,5 abad antara masa hidup Dedes dengan waktu penulisan Pararaton. Dengan rerata satu generasi sekitar 30 tahun, maka kurun waktu 250 tahun setara dengan 8 (delapan) generasi.

Selama delapan generasi itu kisah mengenai Ken Dedes hadir sebagai cerita lisan (tutur), yang dikisahkan secara lisan dari mulut ke mulut, dari suatu generasi ke generasi berikutnya, atau berupa dongeng sejarah yang turun-temurun. Romantika hidup Ken Dedes, baik pada penikahannya dengan suami ke-1 (Tunggulameting) maupun dengan suami ke-2 (Ken Angrok), adakah semacam “roman sejarah” yang berbentuk tutur.

Keberadaannya sebagai tutur mengalami diversifikasi wujud setelah berlangsungnya literalisasi dalam bentuk naskah Pararaton pada akhir abad XV. Kendati telah terdapat naskah Pararaton, yang dilantaranya memuat kisah tentang Dedes, namun pada warga masyarakat yang belum memiliki tradisi tulis (praliteral), sangat mungkin kisah Ken Dedes terus hidup secara oral hingga berabad-abad lamanya kemudian.

Dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, yang antara lain berupa prasasti, tokoh Ken Dedes tidak terberitakan, meski ia adalah seorang wanita penting, yakni istri dari sang Akuwu Tunggulameting, permaisuri raja Angrok (abhisekanama : Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi), dan ibusuri dari raja Anusapati. Memang, tidak semua istri raja ataupun ibu raja terberitakan dalam sumber data prasasti.

Kendatipun belum dijumpai dalam sumber data epugrafis (prasasti), namun bukan berarti Ken Dedes adalah ahistoris sebagaimana pernah disoal oleh C.C. Berg. Bukan tidak mungkin Ken Dedes adalah tokoh hustoris, meski sejauh ini baru terkisahkan dalam sumber data oral yang diliteralisasi ke dalam susastra tekstual Pararaton. Tak sedikit sejaahwan di masa Kolonial Hindia-Belanda (awal abad XX) hingga kini yang mengidentifikasikan arca Buddhis Prajnaparamita asal Candi Putri di Desa Pagentan Kecamatan Singosari sebagai “arca potret (de potrait beelden)” atau arca perwujudan bagi Ken Dedes Jika banar arca itu adalah arca perwujudannya, berarti Ken Dedes pernah nyata ada dalam kesejarahan Tumapel.

Yang “Kancrit” tentang Kisah Dedes dalam Pararaton

Kisah Dedes tersurat dalam Pararaton, sebagai literalisasi atas kisah oralnya. Sejauh ini, kisah tentangnya hanya dieksplorasi dari susastra tekstual ini. Namun sesungguhnya, terdapat pula kisah Dedes yang masih berwujud oral, meskipun sebatas diketahui oleh sedikit orang di Desa Polowijen dan sekitarnya.

Kisah lokal ini membicarakan tentang (a) perjalanan hidup Ken Dedes sebelum “dikawin lari” oleh Akuwu Tunggulametung, ketika “masa lajang Ken Dedes”; (b) etape akhir kehidupan Ken Dedes setelah suaminya ke-2 (Ken Angrok) mangkat lantaran terbunuh dengan keris buatan Pu Gandring di tangan anak tirinya (Amusapati), manakala “masa tua Ken Dedes”. Kedua ruas perjalanan hidupnya itu, yaitu ruas awal dan ruas akhir jehidupannya, tak dikisahkan di dalam Pararaton. Dengan perkataan lain, Pararaton hanya memuat kisah tentang “ruas tengah” perjalanan hidupnya. Apabila ketiga ruas itu dijajarkan secara kronologis, maka tergambarlah dengan relatif utuh perjalan hidup (balada) Ken Dedes.

  1. Dongeng Masa Lajang Ken Dedes
Baca juga :  Pesan Damai dari Kota Malang

Dongeng lokal tentang “masa lajang Ken Dedes” ini berkisah tentang dirinya sejak dilahirkan hingga sebelum Dedes jalani perkawinannya yang pertama dengan Tunggulametung. Kisah ini oleh warga Polowijen dan sekitarnya dipahami sebagai kisah tentang “Joko Lolo”, yakni pernihakan gagal (wurung) antara Joko Lolo dan Ken Dedes. Dongeng ini menjadi legenda “muasal (mula bujang) terjadinya watu kenong”, yakni sebuah artefak yang bentuknya menyerupai waditra kenong dari batu andesit, yang beberapa lama berapa lama berada di halaman depan rumah warga pada tepi jalan desa di wilayah Kelurahan Poliwijen.

Kini artefak yang lokasi asalnya di sekitar makam desa ditempatkan di areal cungkup Sendang Dedes. Sebagai artefak, sesungguhnya watu kenong adalah salah satu umpak (pelandas tiang) dari rumah tinggal kuno berkonstruksi bambu Namun, dalam dongeng ini dikisahkan sebagai salah sebuah komponen musika dari absambel gamelan yang dikutuk oleh Jokololo yang sakti, sehingga berubah dari waditra logam menjadi benda menyerupai bentuk kening dari batu andesit.

Masyarakat Polowijen berdoa dan nembang macapat di situs Sendang Ken Dedes atau Sumur Windu. (Terakota/Givari Jokowali)

Dalam kisah ini, Ken Dedes dikisahkan sebagai wanita yang lahir di Desa Polowijen (kitab Pararaton menyebut dengan “Panawijen, dan prasasti Kanjuruhan B dari era pemerintahan Pu Sindok menamainya “Panwijtan”). Kedua orang tua Dedes, bc yaitu Pu Purwa dan istrinya, tinggal berdekatan dengan sumber air (sendang atau sumur windu), yang oleh warga setempat dinamai dengan “Sendang Dedes”.

Dikishkan bahwa sendang ini buatan Jojo Lolo yang berwajah buruk asal Dinoyo, sebagai prasyarat untuk bisa menikahi dengan Ken Dedes asal Polowijen yang berparas ayu. Dongeng ini dengan demikian terkait pula dengan asal-usul terjadinya Sendang Dedes, yakni sumber air besar padamana dulu warga Polowijen memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan mengangsu di sumber air ini (Paraton mengistilahi dengan “banyu pangagsone”).

Joko Lolo beserta pengiringnya (pangiring manten) telah tiba di Polowijen lengkap dengan uboramoe pernikahannya, termasuk seperangkat alat musik pengiring. Namun, mendadak keluarga Ken Dedes mengajukan syarat yang tidak mudah dipenuhi, bahwasanya pernikahan baru dapat dilangsungkan apabila Joko Lolo dapat membuatkan sendang atau sumur windu dalam tempo cuma semalam, mengingat bahwa air tanah di Desa Polowijen terbilang dalam dan dibutuhkan cukup air untuk pengairan sawah padi gogo (pagagan). Berbekal kesaktian dan keinginan kuat Jokoolo untuk dapat menikahi “si cantik” Dedes, maka prasyarat yang “nyaris tak mungkin” itu disanggupinya.

Luar biasalah, masih di dini pagi sebelum matahari terbit, sebuah sendang yang cukup besar dan dalam telah tergali dan mulai keluarkan air (nyumber). Mengetahui pekerjaan gali sendang itu hampir rampung, bergegas keluarga Ken Dedes membuat “siasat penggagalan”‘. Segeralah lesung dibunyikan bertalu-tau (jemengglung), seolah kerja menumbuk padi (nutu) mulai berlangsung di pagi hari. Ketika itu adalah waktu transisi antara fajar pagi (sudah mulai terang, namun matahari belum terbit) dan esok (ketika matahari awal terbit), yang dalam bahasa Jawa diistilahi dengan “parak esuk”.

Keluarga Dedes menyatakan bahwa saat itu hari sudah masuk pagi (parak esok), sementara pekerjaan gali sendang belum sepenuhnya rampung. Yang berarti Joko Lolo gagal memenuhi prasyarat nikah. Adapun menurut Joko Lolo, hari hari belum memasuki pagi, kegiatan nutu dilakukan terlampau awal, dan pekerjaan gali sendang nyaris rampung. Namun, pihak keluarga Dedes bersikeras menghakimi bahwa Joko Lolo telah gagal membuat sedang dalam tempo semalam, dan konsekuensinya rencana nikah gagal (wurung) untuk dilangsungkan.

Petirtaan Watugede atau Taman Baboji yang diyakini lokasi awal pertemuan Ken Arok dan Ken Dedes (Zainul Arifin/Terakota)

Keputusan sepihak ini membuat marah Joko Lolo, karena merasa disiasati untuk digagalkan dan ia merasa malu besar (using kapirangan) karena iring-ringan pengantin dari Dinoyo-Poliwijen telah tiba di lokasi nikah, bahkan telah sejak sehari sebelumnya. Dengan kekuatan saktiannya yang dibumbui kamarahannya, salah satu alat musik pengiring yang berupa kenong ditendangnya dan dikutuk menjadi batu, sehingga terbentuklah “watu kenong”.

Baca juga :  Memikirkan Bangsa, KH. Hasyim Asy'ari Wafat di Bulan Ramadan

Semenjak pernikahan yang gagal itu, hubungan baik antara warga Polowijen dan Dinoyo ternoda. Sampai-sanpai keluar pantangan (ilo-ilo) agar warga Dinoyo tidak menjalin nikah dengan warga Polowijen. Pantangan nikah antar desa demikian dijumpai pula di daerah-daerah lain, yang disebut dengan istilah “satru Danyang (Danyang kedua desa berseteru)”. Selain itu, kisah ini mengingatkan kita kepada lenganda-legenda di daerah lain yang bertema “siasat menggagalkan pemenuhan prasyarat”, seperti pada kisah Roro Jonggrang- Bandung Bondowoso, legenda Tangkuban Perahu, legenda Kawah Sikidang, dsb.

Siasat licik itu berkenaan dengan pertanda tiba waktu pagi, yakni telah adanya aktifitas di pagi hari seperti menumbuk padi yang biasanya menjadi “pekerjaan pembuka pagi”. Memang, batas antara waktu fajar dan pagi adalah batas hablur. Meski ufuk timur mulai terang, belum tentu matahari telah terbit. Peralihan petang-terang atau malam-siang ini menjadi inspirasi yang sama psda sejumlah dongeng yang se-genre itu..

  1. Dongeng Masa Tua Ken Dedes

Kisah lain yang dikenal oleh warga Polowijen dan sekitarnya berkenaan dengan Ken Dedes adalah masa tua Dedes. Kisah ini bertemakan “Ken Dedes Tirah”, yakni kembalinya ke Dedes ke kampung halamannya di Polowijen ketika masa tuanya. Walau Dedes adalah istri raja Angrok dan sebelumnya menjadi istri pejabat Tunggulametung sebagai akuwu di Tumapel, namun kehidupan Ken Dedes tidak sepenuhnya bergelimang bahagia.

Dedes memulai pernikahannya dengan “kawin lari, atau bahkan kawin paksa” dengan Tunggulametung, yang terlihat kontras dengan kisah “Kawin Wurung” diatas. Jika dalam kisah terdahulu keluarga Dedes bisa bersiasat dan memberi keputusan sepihak untuk menggalakkan (siasat tolak) nikah yang sesungguhnya amat dikehendaki oleh Joko Lolo, dalam perkawinan dengan Tunggulametung tergambar ada kondisi “tak kuasa menolak” keinginan penguasa setingkat “akuwu” untuk menikahi Dedes. Peristiwa ini seolah merupakan “kutuk Joko Lolo” terhadap Dedes, yang kelak dinikahi paksa oleh orang lain.

Kesuraman hidup pada perjalanan rumah tangga Ken Dedes disusuli dengan terbunuhnya suami pertamanya, yaitu akuwu Tunggulanatung, yang telah dicoba cintanya dan memberinya buah kasih yang tengah dikandungnya, yakni janin Anysapati. Kala cinta kasihnya telah mulai bertumbuh, tak dinyana-nyana suaminya tewas terbunuh dengan tusukkan keris buatan Pu Gandring pada tangan Kbo Hijo yang “diotaki” oleh Ken Angrok.

Ironisnya, tak lama sesudah itu Ken Dedes diambil istri oleh Ken Angrok, yang nota bene adalah aktor di balik tewasnya sang suami. Tragis menyusul lagi jelang hari tuanya. Suami keduanya, yaitu Ken Angrok, yang telah belasan tahun hidup berkeluarga dengannya dan mengjarunuanya anak, akhirnya pun tewas ditusuk keris — lagi-lagi keris buatan Pu Gandeung, dan yang lebih memilukan, pelaku pembunuhan itu adalah anaknya sendiri dengan suaminya yang pertama.

Tragedi demi tragedi itu adalah “kabut hitam” dalam mahligai rumah tangga Dedes, sampai akhirnya sebagai seorang wanita ia merasakannya sebagai duka yang mendalam. Tragedi yang terakhir itu, menurut dongeng lokal di Polowijen dan sekitarnya memberi dorongan kuat bagi Ken Dedes untuk meninggalakkan segala kemewahan di istana Tumapel dengan balik pulang ke kampung halamannya (tetirah) di Polowijen ketika memasuki usia tua.

Polowijen yang telah sekian lama ditinggalkannya dipilih sebagai “tempat yang lebih menentramkan” untuk melewati hari tuanya sembari menanggalkan satu demi satu beban dukanya. Sendang berair jernih, yang bisa menyegarkan ubun-ubun yang kepanasan akibat duka-nestapa, yang konon dibuat dengan sungguh-sungguh dan tulus oleh Joko Lolo semata untuk penuhi prasyarat agar bisa menikahinya itu, kini justru menjadi teman setianya dalam melewati hari tua.

Meski tak pernah lagi jumpa dengan Joko Lolo, kali ini Dedes teringat akan siasat licik keluarganya terhadap dirinya psda beberapa dasawarsa lalu. Ken Dedes lantas berucap lirih “maafkanlah kami Joko Lolo”. Pada tepian sendang inilah Dedes merajut makna hidup sembari melewati hari demi hari di usia sepuhnya hingga akhirnya ajal menjemputnya.

Baca juga :  Menghadirkan Mini Gallery dan Art Space Pelukis Malang di Hungaria

Eksplorasi, Sosialisasi dan Pemaknaan Dongeng Dongeng Nusantara

Apa yang terpapar di atas adalah hasil sekilas atas upaya gali (eksplorasi) terhadap khasanah dongeng Nusantara. Dongeng Ken Dedes adalah “dongeng besar Nusantara”, karena dari Ken Dedes lahirlah raja-raja di kerajaan Singasari dan Majapahit, yakni dua kerajaan agung di Nusantara. Syukurlah sastrawan penulis (rakawi) pysraka Pararaton telah merintis upaya untuk mengabadikan dongeng Dedes itu lewat ikhtiar literalisasinya. Hal ini memberi gambaran bahwasanya eksplorasi terhadap dongeng, utamanya dongeng kesejarahan, telah dilakukan semenjak dulu. Dongeng yang semula oral (lisan), lantas dituliskan (literalisasi). Pararaton adalah sebuah contoh representatif untuk itu.

Nampaknya, penulis Pararaton belum mencantumkan secara relatif utuh perjalanan hidup Ken Dedes, utamanya untuk ruas perjalanan hidupnya dari lahir hingga masa lajang. Demikian pula bagaimana ruas akhir perjalanan hidupnya di hari tuanya, tak terkisahkan dalam Paparaton. Atau dengan perkataan lain, ada dua penggal ruas dongeng Ken Dedes yang “tertinggal rekam (kancrit)” dalam Pararaton Nah, syukurlah. dua ruas perjalanan hidup Dedes itu masih tersimpan dalam memori sebagian warga Polowijen dan sekitarnya setelah jeda waktu lebih dari tiga perempat milenium (abad XIii-XXI). Menyadari akan urgensi dongeng sejarah tentang Ken Dedes itu, maka tulisan ini dibuat. Senyampang pada saat ini, tanggal 29 November 2028, bertepatan dengan “Hari Dongeng Nasional”.

Pada momentum ini, penulis mengucapkan “Selamat Hari Dingeng” sembari berharap kesertaan khalayak untuk turut serta dalam beragam upaya, yaitu eksploeasi, konservasi,, sosialisas maupun fungsionalusasi, terhadap kejayaan, keragaman dan mskna dongeng Nusantara. Kalau bukan kita, siapa lagi. Terkait dengan jejak dongeng Dedes di Plilowijen, sayang sekali ini Sendang Dedes (Sumur Windu) yang konon berair melimpah itu kini telah mengering, tinggal menyisakan sumur (dengan brumbungan baru), yang berisi air di sekitar cungkup peziarahan yang dibangun pada awal tahun 1990-an.

Konon pada sekitar sendang buatan Joko Lolo itu keluarga Ken Dedes tinggal bermukim. Pada sendang ini pula warga Polowijen menggantungkan kebutuhannya akan air bersih. Sendang jugalah yang disapataa (dikutuk) oleh Pu Purwa semoga “asata banyu pangangsone (keringlah tempat orang mengambil air. Kemarahan Pu Purwa sampai-sampai melontarkan kutuk Itu ditimpakan lantaran warga Panawijen tak membatu anaknya (Ken Dedes) diculik oleh sang akuwu Tungguametung.

Para remaja berdoa dan menari di depan makam Mbah Kiai Reni. (Terakota/Givari Jokowali)

Paparan dongeng Ken Dedes yang tersimpan dalam memori warga Polowijen dan sekitarnya berharap dapat membuka kesadaran kita bahwasanya masih banyak jejak-jejak dongeng lama yang tercecer, nyaris dilupa dan sesungguhnya bermakna. Bagi Polowijen khususnya, dongeng ini dapat dijadikan sebagai sumber sejarah mikro atas kampungnya, paling tidak untuk historografi tradisional.

Namun, lantaran tokoh peran dalam dongen ini adalah Ken Dedes, yang merupakan tokoh besar dalam sejarah Jawa bahkan Nusantara Masa Hindu-Buddha, maka informasi darinya menyumbang detail biografis tentang tokoh historis. Dalam kaitan dengan sejarah lingkungan, ada penekanan akan pentingnya air bagi kehidupan, yang dalam dongeng ini digambarkan sebagai Sendang Dedes atau Sumur Windu.

Adapun nilai-nilai etik yang tergambarkan antara lain (a) perlu hindari siasat licik untuk menggalgakkan keberhasilan orang/pihak lain, (b) jangan semata menilai dari aspek rupa, namun aspek kesungguhan, ketulusan dan kapabilitas adalah parameter lain yang patut diperhitungkan, (c) bergelimang kemewahan dan perlohehan posisi terhormat tidak memberi jaminan penuh akan kebahagiaan, dan (d) kembali ke tempat asal atau “terserah” adalah salah satu “kanal psikologis” untuk peroleh nuansa tentram dan leram atas duka-nestapa yang tengah dihadapi seseorang. Semoga berfaedah. Nuwun.

Kantin Kosabra, 29 November 2018
Patembayan CITRALEKHA

Arkeolog, M. Dwi Cahyono menunjukkan pecahan batu padas bermotif di situs Kelandungan, Malang. (Foto : Viva.co.id)

*Arkeolog dan dosen Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini