Komunitas Dongeng Kepompong Indonesia dan KSR PMI Unit Turen, Kabupaten Malang mendongen di tempat pengungsian, di Sekolah Dasar Negeri 4 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pada Selasa, 21 Desember 2021. (Foto: Komunitas Mendongeng).
Iklan terakota

Terakota.id Imam Wahyudi, 10 tahun, tertawa tebahak-bahak saat mendengarkan kisah fabel yang disajikan Komunitas Dongeng Kepompong Indonesia (KDKI) dan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Turen, Kabupaten Malang. Dongeng digelar di tempat pengungsian, di dalam gedung Sekolah Dasar Negeri 4 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pada Selasa, 21 Desember 2021.

Bersama-sama anak-anak penyintas letusan Gunung Semeru, mereka mengaku terhibur. Anak-anak dan orang tua merespons positif dogeng di lokasi pengungsia. Mereka mengaku senang dan jarang medapat cerita yang juga ada unsur edukasinya. “Senang. Belum pernah mendengarkan cerita dan dongeng seperti ini,” kata Imam.

Gelak tawa anak-anak menguar dari balik posko pengungsian saat cerita lucu dan menghibur. Keceriaan kembali terlihat dari wajah sekitar 60-an anak-anak yang menempati posko sejak letusan Gunung Semeru Sabtu, 4 Desember 2021.

Senyum mengembang di bibir mereka saat menyaksikan dongeng. Selama setengah jam, mereka menyimak dan berinteraksi dengan boneka tangan yang lucu. “Menghibur anak-anak, sekaligus bagian dari trauma healing,” kata salah seorang pendongeng dari KDKI, Yudi Agus Priyanto Langga.

Anak-anak penyintas letusan Gunung Semeru dihibur dengan dongen dan bernyanyi di tempat pengungsian Sekolah Dasar Negeri 4 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pada Selasa, 21 Desember 2021. (Foto: Komunitas Mendongeng).

Letusan Gunung Semeru, katanya, melekat dalam ingatan anak-anak. Sehingga menjadi pengalaman traumatik. Dogeng, kata Yudi, menjadi salah satu metode dalam proses penyembuhan setelah trauma.

Dogeng kisah fabel dengan karakter si monyet yang jahil dan kura-kura yang baik hati. Dikisahkan para satwa tengah berada di dalam kelas, tiba-tiba terjadi gempa. Kura-kura mengajak teman-teman satwa lainnya untuk berlindung di bawah meja.

“Jangan panik, ayo berlindung di bawah meja,” kata si kura-kura. Sementara si monyet kabur bergelantungan dan terjatuh. Monyet terluka. Setelah gempa reda, teman-temannya membatu merawat monyet yang terluka.

Sedangkan atas bencana letusan Gunung Semeru, mereka diajak mengenal slogan siap, siaga bencana. Yakni masyarakat yang berada di daerah rawa erupsi gunung berapi harus siap ketika sebelum terjadi bencana. Siaga saat pengunguman tanda aktivitas gunung api meningkat. Semua dokumen penting disiapkan dalam tas khusus.

“Sehingga ketika bencana menyiapkan diri dan selamat,” ujar Yudi. Komunitas melakukan pendampingan kepada anak-anak penyintas bencana  bersama orang tua. Melalui dongeng mereka menyelipkan pesan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana gunung berapi, kebersihan diri dan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Anak-anak juga diajak bermain dan bernyanyi, serta melupakan letusan Gunung Semeru yang menyebabkan traumatik.  Komuntas juga berbagi keceriaan dengan membagikan paket kudapan dan paket alat tulis. Agar mereka tetap belajar dan bermain selama pengungsian.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini