Donald Trump adalah Kita

Ilustrasi : Steve Bell/The Guardian

Terakota.idSaat seorang pejabat berbicara dengan nada menyepelekan soal virus covid-19 ada dua kemungkinan; (1) pejabat itu akan berperilaku tidak hati-hati lalu akhirnya terpapar virus, dan (2) pejabat itu tetap hati-hati, dia akan selamat dari ancaman virus tetapi masyarakatnya yang  akan menjadi korban keganasan virus.

Tentu kedua asumsi itu ada alasannya. Juga ada latar belakangnya. Tak terkecuali ada banyak tali temali yang mengikutinya atau kepentingan ekonomi politik yang mendorong seorang pejabat mengatakan hal itu. Yang jelas, omongan pejabat tersebut akan dibully banyak masyarakat umum, apalagi netizen.

Kita ada contoh menarik dari pernyataan-pernyataan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal virus covid-19. Pernyataan apa? Pernyataan yang cenderung menyepelekan soal virus yang sudah banyak memakan korban tersebut.  Padahal dia seorang presiden.

Coba simak beberapa pernyataannya. “(ini tentang) Virus corona. Mereka (tenaga medis) bekerja keras. Kemungkinan besar di bulan April, secara teori, ketika iklim berubah menjadi hangat virus ini akan menghilang dengan sendirinya” (10 Februari 2020). “Kami berhasil mengendalikan (Covid-19). Kami melakukan pekerjaan dengan sangat baik” (26 Februari 2020). Sejauh ini, tidak ada pasien meninggal karena virus corona di Amerika Serikat” (28 Februari 2020).  “Amerika Serikat akan kembali terbuka untuk bisnis. Kita tidak bisa membiarkan cara pananganan penyakit menjadi lebih buruk dari penyakit itu sendiri” (23 Maret 2020). “Saya ingin Anda berbicara pada dokter untuk melihat apakah kita bisa menerapkan teknik pencahayaan dan pemanasan sebagai bentuk pengobatan. Mungkin jika kita memanaskan tubuh dengan sinar ultra violet atau sinar lain yang  lebih kuat. Lalu saya melihat cara kerja disinfektan itu bisa mematikan virus dalam satu menit. Satu menit. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu seperti itu lewat suntikan ke dalam tubuh untuk membersihkan (virus)”  (22 April 2020). “Ada banyak ulasan bagus tentang hydroxy (chloroquine), ada banyak ulasan bagus. Saya sudah meminumnya” (18 Mei 290). “Jika kita menghentikan pengujian (covid-19) saat ini hanya akan ada sedikit kasus” (15 Juni 2020).  “Saya tidak bohong. Yang saya katakan adalah kita harus tenang tidak boleh panik” (10 September 2020). “Saya tidak memakai masker seperti dia (Biden). Setiap Anda melihatnya, dia memakai masker, dia bisa berbicara dari jarak 200 kaki (60 meter) dari podium dan dia muncul dengan masker terbesar yang pernah saya lihat”  (30 September 2020).

Mendadak kita kaget. Soalnya, presiden dari Partai Republik itu diberitakan positif kena covid-19. Coba lihat akun twitter @realDonaldTrump pada 2 Oktober 2020. Dia menulis, “Tonigt, @FLOTUS and I tested positive for COVID-19. We will begin our quaantine and recovery process immediately. We will get through this TOGETHER” (Malam ini, Flotus dan saya positif Covid-19. Kami akan memulai karantina dan proses pemulihan secepatnya. Kami akan melaluinya bersama).

Setali Tiga Uang

Lalu coba ingat-ingat apa perkataan para pejabat kita? Hampir sama. Dua asumsi saya di awal tulisan ini terbukti. Ada pejabat yang sudah terkena virus ini karena menyepelekan. Sementara ada yang tidak terkena virus ini karena memang hati-hati tetapi perkataannya membuat masyarakat tidak mendapatkan informasi yang akurat. Akibatnya, apalagi jika tak “menelan korban”.

Beberapa diantaranya, “Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit, maka virus corona tak bisa masuk. Tapi omnibus law soal perizinan lapangan kerja jalan terus” (Airlangga Hartarto, 15/2/2020), “Insentif untuk wisatawan mancanegara ini (akibat pandemi covid-19) pemerintah memberikan alokasi tambahan sebesar Rp 298,5 miliar. Kemudian ada untuk anggaran promosi Rp 103 miliar dan juga kegiatan turisme sebesar Rp 25 miliar untuk media relations dan influencer sebanyak Rp 72 miliar (Airlangga Hartarto, 25/2/2020), “Yang ingin saya katakan bahwa sampai saat ini Indonesia itu satu-satunya negara besar di Asia yang tidak punya kasus corona. Virus corona itu tuh ndak ada di Indonesia” (M. Mahfud MD, 7/2/2020), “Kita semua waspada tinggi, melakukan hal-hal yang paling level kewaspadaannya paling tinggi, dan peralatan yang dipakai juga peralatan internasional” (Terawan Agus Putranto, 11/2/2020), “Dan saya merasa sangat berbahagia. Bahwa teorinya benar bahwa memang ini adalah self limiting disease yang akan sembuh sendiri” (Terawan Agus Putranto, 12/3/2020), ”Padahal kita punya flu yang biasa terjadi pada kita, batuk pilek itu angka kematiannya lebih tinggi dari yang ini corona tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa” (Terawan Agus Putranto, 2/3/2020), “Dari hasil modelling kita yang ada, cuaca Indonesia, ekuator ini yang panas dan juga itu untuk covid-19 ini enggak kuat” (Luhut B. Pandjaitan, 2/4/2020). Airlangga Hartarto saat berbicara masih menjabat sbagai Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, M. Mahfud MD (Menkopolhukam), Terawan Agus Putranto (Menteri Kesehatan), dan Luhut B. Pandjaitan (Menko Maritim dan Investasi).

Lalu ada pernyataan presiden Joko Widodo sendiri sebagai berikut, “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan” (Joko Widodo, 7/7/2020), “Untuk destinasi wisata ke mana, termasuk di dalamnya juga diskon untuk wisatawan domestik atau wisnus yang bisa nanti kita berikan juga minus 30 persen dan mungkin bisa saja travel bironya diberi diskon yang lebih misalnya 50 persen, sehingga betul-betul menggairahkan dunia wisata kita karena memangs ekrang baru ada masalah karena virus corona” (Joko Widodo, 17/2/2020). Pejabat AS dan Indonesia hampir setali tiga uang.

Buah Kesombongan

Pernyataan-pernyataan pejabat di atas  memang bertujuan agar masyarakat tidak panik. Tentu ini kebijakan positif dan bagus. Bahkan dengan semangat tinggi negara mau mengucurkan  dana untuk mendogkrak pariwisata karena ini sumber pendapatan negara yang bisa diandalkan. Sementara waktu itu kondisi pandemi covid-19 sedang mulai melanda. Namun pernyataan para pejabat tersebut justru membuat masyarakat tidak hati-hati.

Mengapa? Masyarakat Indonesia itu kebanyakan banyak yang ceroboh, terlalu memudahkan, kurang disiplin dan tak taat aturan. Ada aturan saja dilanggar apalagi tidak diatur. Maka, jangan heran jika peryataan pejabat itu bertolakbelakang dengan mereka yang berada di garda depan dalam penanganan virus ini, sebut saja dokter dan tenaga medis. Dua kelompok di garda depan ini tentu lebih banyak berurusan dengan kesehatan dan kondisi nyata di lapangan. Sementara pemerintah lebih banyak berususan dengan pertimbangan politik dan ekonomi.

Apa yang bisa kita saksikan sekarang? Apa dampak saat ini atas kebijakan-kebijakan  yang dikeluarkan pejabat pemerintah saat itu? Angka kematian akibat virus covid-19 dan yang terpapar semakin melonjak. Saya yakin itu belum seluruhnya dites secara merata. Saya tidak bisa membayangkan jika tes dilakukan merasa dan menyeluruh. Hasilnya tentu akan mencengangkan.

Pelajaran yang didapat antara lain; pertama, soal informasi covid-19 kita selayaknya percaya pada dokter dan tenaga medis. Mereka inilah yang berada di garis depan dan berjuang untuk mengatasi pandemi. Sementara pemerintah lebih melihat pada pertimbangan ekonomi dan politik.

Kedua, ada kalanya masyarakat perlu menyimpan sedikit ketidakpercayaan pada apa yang diomongkan oleh pejabat. Artinya, omongannya jangan dipercaya seratus persen. Bahkan dalam pelajaran komunikasi dikatakan salah satu inti pesan komunikasi ada pada yang tidak diucapkan (oleh pejabat).

Ketiga, alangkah lebih baik jika informasi yang disampaikan ke masyarakat mencerminkan kondisi riil. Jika memang pandemi covid-19 sebagai bencana nasional dikatakan saja biar masyarakat lebih hati-hati. Kasihan para tenapa medis yang setiap hari berurusan dengan virus ini. Juga mereka yang berkaitan dengan proses upacara kematiannya. Kecuali memang pemerintah sudah tidak berdaya dan membiarkan semua itu terjadi secara alami.

Terhadap omongan pejabat publik kita dihadapkan pada dua hal sebagaimana disebutkan  di bagian awal tulisan ini. Kejujuran pemerintah saat ini menjadi kunci. Apakah wabah ini perlu menjalar ke para pejabat terlebih dahulu agar mereka lebih waspada sebagaimana Donald Trump? Jangan-jangan secara tidak langsung pejabat kita telah mencontoh kesombongan presiden ke 45 AS tersebut.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini