Domba Elektrik, Singularitas, dan Orang Kaya

Terakota.idHidup di zaman algoritma kecerdasan buatan (KB) masa kini, tak terelakkan lagi manakala yang kita perbincangkan isu-isu yang menyekitarinya. Orang sudah lama membayangkan, dan hingga kini terus kita bahas, perkembangan dunia robot. Bukan robot industrial kiranya, tetapi robot humanoid yang mirip manusia.

Kisah tentang KB dan dunia robot, secara fiksi pernah saya tulis di kolom ini. Terutama ketika mengulas karya-karya Isaac Asimov. Kini saya akan ajak Anda berjumpa domba elektrik dan ragam imajinasi Philip K Dick dengan mengaitkannya dengan isu singularitas teknologi. Tapi, apakah itu singularitas?

 

***

Sudah menjadi isu di abad kita kemungkinan “keabadian manusia”. Setidaknya yang melontarkan kalangan ialah ilmuwan teknologi yang meyakini bahwa singularitas teknologi akan terjadi. Majalah Time (21 Februari 2011) misalnya mengulas isu ini dalam laporan utamanya yang provokatif, “2045 The Year Man Becomes Immortal.”

Laporan itu menginformasikan keniscayaan singularitas, ketika manusia dan mesin bergabung. Diketengahkan pandangan pelopornya, Ray Kurzweil yang pernah menjabat Director of Engineering di Google. Dalam acara TED Talk pada 2007, dia menegaskan pada 2045, manusia bisa hidup abadi dengan bantuan komputer super pintar (super intelligent computer).

Bahwa KB akan menjadi tren mulai 2030. Hal ini ditandai oleh kemampuan manusia dalam menemukan cara yang membuat otak mereka tersinkronisasi dengan komputer. Atau manusia dapat mentransfer pikirannya ke komputer untuk disimpan. Dari situlah, manusia bisa “hidup selamanya” (immortal), meski dalam bentuk perangkat lunak. Singularitas diyakininya akan terjadi secara utuh pada 2045.

James D. Miller dalam Singularity Rising Surviving And Thriving in a Smarter, Richer, and More Dangerous World (2012). menguraikan hal-ikhwal singularitas ini. Intinya, selama beberapa dekade mendatang, para ilmuwan dapat mengambil keuntungan dari peningkatan eksponensial terus-menerus dalam perangkat keras komputasi baik untuk menciptakan kecerdasan mesin untuk tujuan umum, atau mengintegrasikan KB ke dalam otak manusia.

domba-elektrik-singularitas-dan-orang-kaya
Robot humanoid yang dijajakan secara daring di Indiamart..com

Masih dicatat Miller, peningkatan pesat dalam kecerdasan biologis dan mesin akan menciptakan singularitas, ambang waktu di mana KB yang setidaknya sama pintarnya dengan manusia, atau kecerdasan manusia yang ditambah, secara radikal akan membentuk kembali peradaban. Kepercayaan akan singularitas datang perlahan-lahan telah mendapatkan daya tarik di antara para elite teknologi, orang-orang terkaya Lembah Silikon.

Namun, sejarawan Tamim Ansary dalam The Invention of Yesterday : A 50,000-Year History of Human Culture, Conflict, and Connection (2019) punya komentar menarik tentang sekte singularitas yang dengan riang mengasumsikan ketika KB super hadir, seluruh tujuannya melayani kebutuhan manusia. Mereka menggambarkan diri sebagai anak-anak abadi: tertawa, bermain, makan, terkulai. Namun, jika singularitas terjadi hari ini, hanya orang kaya yang akan hidup selamanya.

Catat Ansary, orang miskin akan berjuang dalam jumlahnya yang semakin menipis, bertahan sementara waktu, karena orang kaya abadi memilih pelayan robot yang tak dapat lagi dibedakan dari manusia secara emosional, sensual, seksual. Ansary tampaknya tak sekadar mengingatkan isu kesenjagan digital, tetapi juga absurditas singularitas.

***

Kalau dalam isu singularitas arahnya ialah manusia bisa abadi, isu yang dilontarkan novelis Philip K Dick ialah kemiripan manusia dengan robot humanoid yang sama-sama, bahkan sering lebih cerdas ketimbang manusia.

Menjalani sebagian besar hidupnya di California, Dick dilahirkan 1928 di Chicago. Dalam karirnya Dick menulis 36 novel dan lima koleksi cerita pendek antara 1952-1982. Dia meninggal pada 1992 di Santa Ana, California. Banyak karyanya, tetapi saya akan ulas satu saja: fiksinya yang berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep?

Novel fiksi ilmiah itu pertama kali terbit pada 1968. Lokasi cerita di San Francisco pasca-apokaliptik, ketika kehidupan bumi dibayangkan telah sangat rusak oleh perang global nuklir. Sebagian besar spesies hewan terancam punah atau sudah punah karena keracunan radiasi ekstrem. Sehingga, memiliki hewan lantas menjadi tanda status (simbol status tinggi) dan rasa empati. Novel ini telah difilmkan pada 1982, Blade Runner dan pada 2017, Blade Runner 2049.

Sebagaimana diringkas dan dikomentari Graham Sleight, novel itu diawali dengan adegan pembuka, sang protagonis Rick Deckard yang tengah dibangunkan oleh musik dari ‘organ emosi’. Lewat perbincangan dengan istrinya, Iran, jelas tergambar bahwa organ emosi tersebut bisa membuat orang bahagia, sedih, atau marah, tergantung setelannya. Deckard memelihara domba elektrik di atap apartemennya, tapi harus berpura-pura di hadapan tetangga bahwa hewan itu asli.

Deckard ialah polisi yang bertugas melacak dan memensiunkan replikan atau robot yang menyerupai manusia (robot humanoid atau android). Adegan awal menggambarkan perbedaan manusia dan android: Deckard pergi ke Seattle dan di sana menggunakan “tes Voigt-Kampff” untuk menentukan apakah seorang wanita bernama Rachael Rosen adalah android atau bukan. Para android konon tidak punya rasa empati, lain dengan manusia.

Tes itu berfungsi untuk mendeteksi apakah subjek menunjukkan reksi normal manusiawi ketika dihadapkan pada beragam situasi sosial. Namun, karena saking canggihnya Rachael, dia hampir mengakali tes, dan Deckard berangsur-angsur jatuh cinta kepadanya. Jadi, pertanyaan sentral dalam novel ini, menurut Sleight ialah, apa artinya menjadi manusia, memiliki identitas, serta keberadaan kita dalam menjalin hubungan dengan manusia lain?

domba-elektrik-singularitas-dan-orang-kaya
Robot humanoid yang dijajakan secara daring di Indiamart..com

Betapapun demikian, novel ini humoris dan penuh absurditas yang menohok: siapa lagi yang sanggup mengarang simbol status berbentuk domba elektrik, yang pura-pura merumput di atas gedung apartemen?

Kita bisa mencatat imajinasi Dick itu melalui pertanyaan yang naif tetapi, praktiknya sudah terasa di zaman kita: ketika yang asli dan yang palsu susah dibedakan. Saat itu, itu berbentuk hoaks yang berhamburan di sosial media, yang karena saking rapinya para orang baik semakin dihadapkan pada pekerjaan baru: turut menyebarkannya. Pada suatu massa ketika robot humanoid sudah sangat mirip manusia, bukan tidak mungkin fiksi Dick ituah yang kita rasakan. Maka, yang asli dan palsu, apa bedanya?

***

Baik isu manusia abadi maupun kepersisannya dengan robot humanoid, sama-sama menyisipkan konteks kontestasi di dalamnya. Teknologi seringkali sekadar angan-angan lebih orang-orang kaya. Mereka bermimpi bisa abadi dan berupaya keras “mewujudkannya” — orang miskin tak punya mimpi sejauh itu. Kritik Tamim Ansary bahwa singularitas hanya untuk orang superkaya, atau khayalan Dick tentang domba elektrik sebagai simbol status, setidaknya memberi pesan lamat-lamat tentang hal itu.

Manusia, teknologi, kontestasi, melibatkan para elite, kalau bukan oligark ekonomi politik tersendiri. Orang kebanyakan, bisa saja sekadar berdiri sebagai objek eksperimen semata-mata. Barangkali analisis ini terlalu kiri, tetapi bukankah elite tekonologi ialah para kapitalis yang memperoleh keuntungan dari disrupsi besar-besaran perkembangan teknologi digital?**

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini