Doea Pemikiran Ketjil tentang Keindonesiaan

Ilustrasi : Candra Dwiyanto

1. Menengok ke Belakang dan Menatap ke Depan

Terakota.id–Menurut sensus BPS tahun 2010 sebagaimana dikutip dari www.indonesia.go.id, di Indonesia terdapat 1.340 suku bangsa atau kelompok etnis. Dari lebih seribuan kelompok etnis tersebut, mayoritas terbesar menyusun persentase kecil dari masyarakat Indonesia. Suku Jawa sebagai kelompok etnis terbesar menyusun 41% dari populasi Indonesia. Terlepas dari fakta kemajemukan tersebut, Indonesia berdiri sebagai bangsa dan negara. Bagaimana bisa begitu?

Semenjak konsepsinya, bangsa Indonesia dibayangkan sebagai masyarakat yang majemuk. Bangsa Indonesia, disadari terdiri dari beragam kelompok penyusun. Keragaman tersebut ada dalam pengertian etnis, ras, kelas sosial, agama, tingkat pendidikan, geografis, dan seterusnya.

Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat dua cara utama yang digunakan untuk menyatukan masyarakat yang sedemikian majemuk itu menjadi satu bangsa dan nasion. Cara yang pertama adalah menengok ke belakang.

Menengok ke belakang berarti melihat kembali dan menimba pada sejarah yang diyakini, secara kanonis, sebagai sejarah bersama. Dalam ‘sejarah bersama yang kanonis’ tersebut, mereka yang majemuk dan beragam itu diceritakan pernah secara kolektif merasakan pengalaman yang sama atau sebanding. Hasilnya adalah timbul solidaritas dan rasa senasib-sepenanggungan.

Tentu saja, pengalaman yang dirasakan sebagai sama atau sebanding tersebut bisa bersifat faktual atau benar-benar terjadi tetapi juga bisa hasil fabrikasi atau rekaan belaka. Namun, lebih seringnya, itu adalah gabungan dari keduanya. Tidak terlalu penting sebenarnya yang mana yang dominan. Yang lebih penting adalah akibat dari sana yang berupa munculnya solidaritas atau kesadaran sebagai kelompok yang lebih besar.

Demikianlah, tidak mengherankan bahwa, ketika masih pelajar, kita mempelajari sejarah bangsa Indonesia (dalam upaya ‘menengok ke belakang’) sampai jauh ke masa lampau, yaitu ke masa kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Nusantara, dengan dwi-puncaknya pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Hal ini bukan pertama-tama untuk menjustifikasi Indonesia secara historis dan aktual, karena Indonesia belum lahir atau bahkan terpikirkan pada masa itu, tetapi lebih agar kesadaran nasionalisme mendapat akar dalam rasa senasib sebagai bagian dari sejarah yang lebih besar dan lebih berakar.

Ketika kolonialisme menancapkan pengaruhnya di Nusantara, itu pun diapropriasi dan dijadikan landasan lain untuk membangun perasaan senasib dan sepenanggungan. Dan, keterpurukan bersama adalah pengikat yang manjur. Orang yang secara bersama-sama mengalami penderitaan dan kemalangan biasanya akan menumbuhkan rasa solider dan kolektivitas. Maka yang majemuk, dengan menengok ke belakang, merasa memiliki ikatan atau jalinan nasib yang kuat.

Setelah menengok ke belakang, dapat dikatakan bahwa separuh jalan sudah terlalui. Tetapi, tentu saja hal tersebut belumlah memadai. Usaha menengok ke belakang saja tidak cukup kuat untuk menjaga soliditas dalam jangka waktu yang lama. Mengenang dan mengingat, bahkan bila substansi yang dikenang dan diingat hanyalah romantika, memang powerful tetapi dapat sewaktu-waktu terkikis. Akan ada masanya para ilmuwan yang kritis menggoyang ingatan bersama dan mencoba menawarkan cara tengok yang baru, yang merongrong cara tengok yang kanonis.

Saat inilah, diperlukan cara yang kedua, yaitu yang namanya proyeksi ke depan, atau bisa disebut ‘cita-cita’. Dalam kasus bangsa Indonesia, Preambule atau Pembukaan UUD 1945 diyakini memformalkan cita-cita bersama bangsa Indonesia dalam rumusannya di alinea keempat. Terdapat empat cita-cita atau proyeksi ke depan dari bangsa Indonesia, yaitu: a) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, b) untuk memajukan kesejahteraan umum, c) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan d) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ikatan yang didasarkan pada rasa senasib-sepenanggungan dan cita-cita bersama tersebut sejauh ini bisa menjaga persatuan bangsa Indonesia, sampai pada usianya yang ke-76 pada 2021. Meskipun bisa jadi ada lebih banyak cara di luar kedua cara tersebut, strategi ‘menengok ke belakang’ dan ‘menatap ke depan’ selalu menjadi cara ampuh untuk menjaga keterikatan dan soliditas sebagai satu komunitas terbayang.

2. Bubur Ayam atau Salad?

Wilbur Zelinsky (2001) dalam The Enigma of Ethicity menyebut tentang dua strategi besar bagaimana masyarakat dan negara menangani kemajemukan, khususnya dalam hal etnis. Dua strategi yang Zelinsky paparkan sebenarnya adalah hasil amatannya pada masyarakat Amerika Serikat, meskipun rasanya hasil amatan itu juga applicable untuk konteks Indonesia.

Ketika suatu bangsa tersusun atas masyarakat yang majemuk, strategi yang pertama yang dapat dijalankan adalah melting pot (hlm. 125). Konsep ini sendiri sudah berusia tua dan pertama kali diperkenalkan oleh Israel Zangwill lebih dari seabad lalu (1911). Dalam melting pot, kelompok-kelompok etnis penyusun suatu masyarakat besar mesti sedikit banyak merelakan diri untuk melebur (melting) dalam panci (pot) sehingga terhidanglah sebuah makanan yang kurang-lebih padu dan satu rasa.

Ini mirip dengan ketika kita memesan bubur ayam dan lalu kita mengaduknya. Hasilnya adalah yang kita nikmati merupakan kesatuan rasa bubur ayam. Kita tidak lagi terlalu ambil pusing dengan bahan-bahan penyusunnya. Suwiran ayam masuk mulut bersama dengan rajangan bawang pre dan cakwe.

Di tataran politis, konsep melting pot melahirkan asimilasi, di mana kelompok-kelompok kecil menjadi terasimilasi dan menghablur dalam satu kelompok besar yang ‘baru’. Identitas asal ditinggalkan, kecuali yang sifatnya simbolik dan ‘tidak berbahaya’. Contoh dari politik asimilasi adalah yang terjadi selama masa Orde Baru dan masih berlangsung sampai sekarang terhadap kelompok etnis, khususnya etnis Tionghoa, di Indonesia.

Yudhistira Agato, jurnalis The Jakarta Post menulis dalam artikel berjudul “The changing face of Chinese-Indonesia identity” bagaimana dirinya dan beberapa orang muda berdarah Tionghoa di Indonesia yang meninggalkan nama China mereka, tidak lagi menjalankan ritual dan kebiasaan nenek moyang, tetapi tetap merayakan beberapa aspek dari budaya leluhur (sekadar untuk menunjukkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari negeri China). Kechinaan di Indonesia dipandang sebatas imlek, hio, angpao, makanan dan ritual saat pernikahan. Selebihnya mereka tidak berbeda dari kebanyakan orang Indonesia.

Strategi yang kedua yang dijabarkan oleh Zelinsky adalah salad bowl. Seperti namanya, ini menyiratkan bahwa komponen penyusun menghasilkan suatu jenis ‘kesatuan’ dengan tetap menjaga cita rasa masing-masing. Salad yang dihasilkan, karenanya, tetap berisi komponen-komponen atau bahan-bahan yang secara kurang-lebih tegas bisa dipisahkan; masing-masing menyumbang dengan cita rasanya yang khas sehingga yang ternikmati adalah salad.

Orang China di Indonesia, dalam konsep ini, tetaplah orang berdarah China, mungkin tetap bisa berbicara bahasa Mandarin atau Hokien, tetap memelihara tradisi nenek-moyang mereka, tetap memegang agama dan sistem kepercayaan nenek moyang mereka. Demikian pun orang Dayak, orang Batak, orang Jawa, orang Bugis, orang Madura, dan seterusnya. Mereka tidak lantas hilang ketika mengindonesia. Bisa jadi inilah yang setara dengan konsep multikulturalisme.

Pada waktu yang sama, dan khususnya saat ini, Indonesia sebagai bangsa dan negara, seperti bangsa dan negara mana pun di dunia, tengah berada di pusaran globalisasi dan digitalisasi, yang (sedikit-)banyak mengaburkan batas-batas identitas. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai jati diri, sedang digoyang dan dipertanyakan. Bahkan sampai ke pertanyaan: adakah yang namanya jati diri? Adakah yang namanya identitas asli? Cukupkah, agar bertahan sebagai bangsa, kita ‘menengok ke belakang’ dan ‘menatap ke depan’?

Jika yang ada di dalam pun masih berupa mozaik yang terus berubah, kekuatan dari luar membuat perubahan tersebut semakin cepat, semakin intens dan semakin tak tertebak. Jika manusia Indonesia tidak mudah didefinisikan dan di dalamnya masih dibingungkan oleh bagaimana semestinya kelompok-kelompok penyusun melihat dirinya sendiri dan kelompok lain, dengan tekanan dari globalisasi dan digitalisasi, yang terjadi adalah benturan yang mahakeras dalam pengidentifikasian keindonesiaan.

Manusia dan masyarakat Indonesia adalah hibrida hasil persilangan dan pergolakan banyak identitas. Tetapi, tentu saja, pola-pola dan keunikan identitas keindonesian perlu diusahakan dan dibentuk dan dipahami.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini