Djoko Puruito “Glemboh” Riyadi, 500 Kali Mendaki Semeru

Djoko Puruito Riyadi memberi pengarahan para pendaki sebelum naik Gunung Semeru. (Foto : koleksi pribadi).

Terakota.id—Mendaki Gunung Semeru dibutuhkan kesiapan yang memadai. Meliputi ketahanan fisik, logistik dan perencanaan yang matang. Agar bisa mencapai puncak Mahameru di ketinggan 3676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, bagi ranger BBTNBTS bernama Djoko Puruito Riyadi mendaki Gunung Semeru seperti aktivitas rutin.

Selama menjadi ranger, ia sepekan mendaki ke Semeru tiga kali. Ia bertugas mengawasi dan mengingatkan pendaki agar mengikuti jalur yang ditentukan. Serta memeriksa bekal atau logistik yang cukup selama pendakian. “Sudah 500 kali mendaki Semeru,” kata Djoko yang akrab disapa Glemboh dalam diskusi daring bertajuk “Cerita dari Gunung”, Senin 28 September 2020.

Seumur hidupnya didedikasikan untuk alam. Ia akrab mendaki gunung sejak mahasiswa, pertama kali menaiki puncak Mahameru pada 1980. Aktivitas pendakian di Gunung Semeru semakin sering, sejak menjadi ranger di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Rutin setiap pekan, tiga kali mendaki gunung. Ia melakoni aktivtas tersebut dengan senang hati.

Kini, juga tercatat telah mendaki sejumlah gunung di Nusantara. Lelaki berusia 52 tahun ini, kini menjabat Kepala Resor Gunung Penanjakan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS). Glemboh juga sering berinteraksi dengan para pecinta alam sebelum menaiki Gunung Semeru.

Djoko Puruito Riyadi mengingatkan pendaki agar melalui jalur yang ditentukan agar tak tersesat. (Foto : koleksi pribadi).

Ia memberi bekal, pengetahuan dan menjelaskan seluk beluk Gunung Semeru terutama kepada para pendaki pemula. Lantaran tak jarang, banyak pendaki pemula yang tak memiliki bekal cukup naik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Lelaki penyuka fotografi ini juga sering turut penelitian aneka jenis keragaman hayati dan ekosistemnya di Gunung Semeru.

Bahkan, hasil penelitiannya tersebut dituangkan dalam sebuah buku. Pendakian Gunung Semeru biasa membludak saaat akhir tahun. Terutama malam pergantian tahun. Setelah itu, Januari-Maret, pengelola TN Bromo Tengger Semeru menutup jalur pendakian agar kawasan Taman Nasional beristirahat.

Tujuannya untuk memulihkan ekosistem. Pendakian di masa adaptasi perubahan baru ini diterapkan standar operasional dan prosedur yang ketat dengan menggunakan protokol kesehatan. Pendaki dibatasi usia, minimal 10 tahun dan maksinal 60 tahun. “Pendaki asing rata-rata berusia mendekati 60 tahun,” katanya.

Setiap tahun, rata-rata jumlah pendaki sekitar 50 ribu sampai 80 ribu orang. Pada 2019, 1.238 diantaranya merupakan wisatawan mancanegara. Pada 2018 jumlah pendaki mancanegara sebanyak 2336 sedangkan 2017 wisatawan asing mencapai 1927.

Sebelum mendaki, para pendaki diminta untuk mendaftar atau booking secara online. Termasuk proses pembayaran dilakukan secara daring. Sehingga lebih aman, dan praktis.

Setahun Semeru Ditutup untuk Pendakian

Setahun Gunung Semeru ditutup untuk pendakian. Mulai sejak September 2019 karena kebakaran hutan. Rencananya akan dibukan tiga bulan lalu, namun batal karena pandemi Covid-19. Setelah evaluasi, Balai Besar TNBTS menetapkan pendakian Gunung Semeru dibukan 1 Oktober 2020.

Kepala BBTNBTN, Jhon Kennedie mengatakan kebakaran hutan, merupakan suksesi alam yang biasa. Banyak serasah atau dedauan terbakar. Selama ditutup, petugas TNBTS membenahi jalur pendakian dan menata kawasan.

Sesuai daya dukung kawasan pendakian yang biasa dilakukan selama tiga hari ini maksimal 2.000 orang. Sehingga maksimal kuota pendakian setiap hari 600 pendaki. Namun, saat pandemi dibatasi maksimal 20 persen dari daya dukung atau 120 orang per hari. Sedangkan pendakian maksimal hanya dua hari satu malam.

Djoko Puruito Riyadi juga hobi fotografi dan pengamatan satwa liar (Foto : koleksi pribadi).

Para pendaki diminta menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Antara lain mengenkan masker, menjaga jarak saat pendakian dan membawan hand sanitizer. Sementara tenda diizinkan dibatasi hanya separuh dari kapasitas.

“Jangan sampai terjadi penularan. Jika ada klaster baru, terpaksa pendakian ditutup ditutup lagi,” katanya.

Khusus untuk pendaki pemula tak diperkenankan memaksakan diri sampai ke Kalimati. Pendaki pemula cukup sampai Ranu Kumbolo. Sedangkan pendaki profesional dibatasi maksimal sampai Kalimati. Sssuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang melarang pendakian sampai puncak Semeru.

“Jangan paksakan diri, hingga membahayakan jiwa,” katanya.

BBTNBTS membetuk tim evaluator bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang. Pendakian perdana semeru dilalui dengan prosesi doa yang mengikuti kearifan budaya masyarakat adat Tengger di Ranupani, Lumajang. Dukun masyarakat adat Tengger akan memimpin doa, memanjat harapan agar aman dan selamat saat mendaki Gunung Semeru.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini