Diusir dari Bumi Allah, Terusir dari Rumah Allah

diusir-dari-bumi-allah-terusir-dari-rumah-allah
Masjid yang dihuni pengungsi korban penggusuran rumah deret Tamansari Bandung.(Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom)

Oleh: A.S. Rosyid*

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar.” (QS. Al-Hajj 39:40).

Terakota.id–Tanggal 16 Januari, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kota Bandung mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa Masjid al-Islam RW 11 Kelurahan Tamansari Bandung “telah disalahgunakan” sebagai tempat mengungsi korban penggusuran Proyek Rumah Deret, dengan perintah untuk mengembalikan masjid “kepada fungsi lazimnya”. Fatwa dikeluarkan karena “permohonan umat Islam” dan “demi kemaslahatan dan kondusifnya umat”.

Sebagai orang awam yang belajar hukum Islam cuma sampai jenjang magister, pertanyaan demi pertanyaan beranak-pinak di kepala saya. Yang ontologis: apa itu masjid? Apa itu fatwa? Yang epistemologis: bagaimana fatwa diproduksi? Bagaimana fatwa bekerja? Yang aksiologis: fungsi lazim masjid itu seperti apa?

Masjid, oleh Rasulullah dibangun dengan keringat persaudaraan dan digunakan sebagai pusat kegiatan untuk melindungi atau mewujudkan kepentingan publik, di samping untuk tujuan spiritual. Artinya, masjid tidak digunakan untuk beribadah saja. Dalam sejarahnya, Rasulullah menggunakan masjid untuk kemaslahatan para homeless, atawa “ahlus suffah”. Di sana mereka ditampung, diberi makan dan diberi pendidikan.

Fatwa, dalam hukum Islam, tidak punya kekuatan mengikat. Fatwa adalah rekomendasi seorang ahli hukum Islam. Posisinya hanyalah pendapat. Bagi mufti (pemberi fatwa), fatwa adalah hasil kerja keras sebagai seorang mujtahid dalam memutus perkara. Bagi mustafti (peminta fatwa), fatwa bisa ditinggalkan ketika ada fatwa lain yang lebih kuat. Karena itu agak mengherankan bila di negeri ini fatwa punya pengawal.

Lagipula fatwa tidak bisa diminta untuk orang lain. Fatwa diminta oleh seseorang atau dua pihak yang bertikai, yang artinya, fatwa diminta secara bersama-sama. Surat MUI Kota Bandung sedikit aneh: siapa umat Islam yang meminta fatwa agar masjid Al-Islam disterilkan dari pengungsi? Ini pertanyaan politis. MUI bukan lembaga negara, ia tidak berfungsi menerima aduan dan memberi instruksi untuk masalah publik.

Bagaimana seharusnya masjid berfungsi? Untuk menjawab pertanyaan itu, biasanya kita merujuk hadis. Tapi karena kebijakan-kebijakan Rasulullah merupakan cerminan al-Qur’an, maka fungsi masjid salah satunya adalah sebagai sarana mewujudkan ide-ide al-Qur’an. Kutipan ayat di atas menjadi penting untuk direfleksikan: apakah tidak lazim sebuah masjid menampung pengungsi korban penggusuran?

 

Perumahan Tamansari, Bandung digusur. Rumah warga rata dengan tanah. Papan Gang AJI (Jurnalis) di antara bangunan rumah yang ambruk. (Foto : Geril).

Apakah tidak lazim bila sebuah masjid dijadikan sebagai pusat konsolidasi perjuangan untuk memulihkan hak-hak masyarakat korban penggusuran, bila di dalam masjid Nabi Saw. membolehkan para sahabat berlatih perang dan menyusun strategi perang? Bila ada yang berkata bahwa dua peristiwa di atas konteks berbeda, maka kemungkinan besar ia tidak mengerti apa itu maqasid al-syari’ah.

Maqasid al-syari’ah adalah tujuan-tujuan ilahiah di balik syariat Islam. Nash al-Qur’an bukan sekadar bunyi, tapi di baliknya ada maksud-maksud, ada tujuan-tujuan, ada nilai-nilai, ada komitmen yang mesti dicapai. Rasulullah mencontohkan penggunaan masjid dalam praktek yang terbatas. Umat Islam bisa mengembangkannya, memperluas cakupan prakteknya, dengan mempertimbangkan maqasid yang digali dari al-Qur’an dan hadis.

Lagipula, masjid disebut-sebut sebagai rumah Allah. Apakah Allah pernah mengajari manusia untuk mengusir dan menelantarkan kaum teraniaya? Masjid kerap ditutup pada malam hari, takut kotak amalnya dicuri. Masa iya Allah menutup pintu rumah-Nya dari orang terbuang? Bukankah keterlaluan bila mengira Allah takut harta di rumah-Nya dicuri orang? Yang egois dan takut itu manusia.

Islam selalu mengingatkan bahaya laten kebodohan. Karena kebodohan seorang muslim bisa menjadi sedikit susah membedakan mana kehendak Allah dan mana kehendak manusia; seorang muslim bisa menjadi sulit membedakan mana pendapat ilmu dan mana pendapat nafsu. Asal ada tempelan dalil saja, suatu pendapat bisa dengan lekas dianggap Islami.

kota-dan-buldoser
Perumahan Tamansari, Bandung digusur. Rumah warga rata dengan tanah. Papan Gang AJI (Jurnalis) di antara bangunan rumah yang ambruk. (Foto : Prima).

Ngomong-ngomong soal nafsu, saya sebenarnya punya pertanyaan lain.

Apakah MUI lembaga yang maksum, yang suci, yang orang-orangnya sama sekali tidak punya kepentingan duniawi yang kotor? Saya agak ragu. Kalau menyimak perseteruan hukum antara MUI, BPJPH dan Halal Control, agaknya kita bisa menyimpulkan bahwa MUI adalah “pemain besar” dalam bisnis sertivikasi halal. MUI berpijak di salah satu lahan basah.

Tapi, saya tidak bilang MUI adalah lembaga pesanan yang menerima suap. Saya juga tidak bilang MUI Bandung mengeluarkan fatwa karena menerima uang dari pihak yang berkepentingan melemahkan perjuangan rakyat Tamansari. Wallahi, saya tidak bilang begitu. Itu wallahu a’lam. Sebelum marah, coba ditilik lagi kalimat saya sebelumnya.

Tapi saya tetap tegas berpendapat: fatwa MUI Kota Bandung itu keterlaluan. Inilah akibat mengerikan dari tekstualisme: misi profetik-progresif Islam menjadi tertutup (mahjub) karena komitmen Islam diletakkan pada bentuk, bukan pada nilai, sehingga bentuk-bentuk baru yang sebenarnya bernilai Islami bisa menjadi terlihat tidak Islami.

Karena tekstualisme, penggusuran dianggap bukan kejahatan, korbannya tidak perlu diayomi. Masjid pun bisa diminta mengusir korban. Korban yang sudah terusir dari bumi Allah, terancam terusir lagi dari rumah Allah.

 

*Penulis, Direktur Eksekutif The Reading Group for The Social Transformation,  dan Pustakawan Perpustakaan Djendela.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini