Diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa Terus Berulang

Umat Konghucu beribadah, sambil membakar dupa di depan altar Klenteng Eng An Kiong, Sabtu 11 Februari 2017. (Terakota.id/Muntaha Mansyur)

Terakota.id—Mei 1998 kembali menjadi episode kelam bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka menjadi korban kekerasan, penjarahan bahkan kekerasan seksual. Peristiwa itu membekas dalam ingatan dan menjadi trauma. Peristiwa itu tak bisa dilepaskan dari peranan Presiden Soeharto dalam mengatur dan memberikan peranan terhadap etnis Tionghoa.

Ada paradoks, konglomerat Tionghoa dimanfaatkan untuk menopang kekuasaannya. Namun, di sisi lain Soeharto melakukan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Sikap Soeharto ini menyebabkan kerusuhan Mei 1998 sekaligus memaksanya turun dari kursi Presiden. Sepanjang Orde Baru terjadi kekerasan terhadap etnis Tionghoa.

Gerakan antiTionghoa muncul di Makassar 10 November 1965, selang setahun terjadi pembantaian dan penjarahan dengan tuduhan komunis. Benny G Setiono dalam Etnis Tionghoa adalah Bagian Integral Bangsa Indonesia menyebutkan pada 1967 militer berperan memprovokasi suku Dayak di Kalimantan Barat melakukan aksi kekerasan terhadap etnis Tionghoa.

“Akibatnya puluhan ribu etnis Tionghoa mengungsi ke Singkawang dan Pontianak. Kemudian menyebar ke Jakarta dank kota besar lain di Jawa,” tulis Benny G Setiono. Berbagai kebijakan yang mendiskriminasi etnis Tionghoa lahir dari tangan Presiden Soeharto. Dia mendirikan Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) di bawah  Badan Intelijen Negara (BAKIN).

BKMC khusus untuk mengawasi gerak dan aktivitas etnis Tionghoa. Mereka dipaksa berganti nama menjadi nama pribumi, melarang berbahasa Cina, melarang perayaan Imlek dan melarang agama yang dianut Tionghoa . Termasuk melarang kesenian seperti wayang potehi dan barongsai tampil di depan publik.

Keputusan itu ditetapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan dan ada istiadat Cina. Padahal etnis Tionghoa pada masa itu merupakan penduduk Indonesia. Mereka lahir, besar dan hidup di Indonesia. Bahkan mereka meninggal dan dikebumikan di tanah air Indonesia. Mereka tak berbeda dengan etnis lain.

Amy Chua dalam buku World on Fire, How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global Instability mengatakan diskriminasi terhadap etnis minoritas mungkin terus terulang. Terutama kelompok minoritas menguasai pasar dan kaya (minority market dominant). Maka kebencian rasial amat mudah disulut. Tak dapat dipungkiri, di Indonesia etnis Tionghoa terlihat menonjol, menguasai bisnis dan ekonomi.

Terjadi diskriminasi rasial, pengusaha Tionghoa diberi kepercayaan lebih besar untuk menjalankan bisnis strategis. Mereka mendapat keistimewaan dalam kredit ke perbankan. Terutama bank milik Negara.

“Termasuk hak distribusi yang dibagikan oleh Bulog, serta berbagai macam kontrak luas untuk pasokan barang kebutuhan korporasi dan proyek-proyek Negara,” jelas Ricard Robinson dalam Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia (2012 : 216).

Dua pengusahaTionghoa yang melejit namanya waktu itu. Keduanya Tjia Kian Liong (William Soerjadjaja) dari grup Astra dan Liem Sio Liong (Sudono Salim) dari grup Liem. Selain mereka ada juga nama-nama Hendra Rahardja, Go Swie Kie, Yos Soetomo, dan lain sebagainya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini