Dipertemukan FB, Dipererat WA, Lalu Dipisah Pilpres

Kita dipertemukan oleh Facebook, dipererat WA dan dipisahkan oleh Pilpres. Sudah saatnya, para pendukung Capres perlu menurunkan tensi dan menyerahkan semua persoalan pasca Pemilu kepada Tim Sukses (Timses) resmi untuk mempersiapkan bahan-bahan jika terjadi perselisihan. Saatnya menghindari provokasi berita Medsos dan menyelesaikan perselisihan bukan di jalanan. Jika tidak bisa, matikan Medsosmu.

Oleh : Nurudin*

Terakota.id–Tidak biasanya pada hari itu Tugimin gundah. Hal tersebut lantaran teman-temannya berselisih soal hasil Quick Count (QC) hasil Pemilihan Presiden (Pilpres), bahkan sampai pada adu mulut. Ada yang setuju bahwa QC itu juga dilakukan tidak sembarangan dan melalui metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan. Ada juga yang menganalogikan; jika ingin merasakan rasa minuman dalam kemasan botol, tidak usah diminum semuanya, cukup satu sendok atau satu gelas.

Tentu saja, alasan kelompok satunya berbeda lagi. Kelompok ini ngotot bahwa hasil QC itu hanya sementara, hanya untuk mendeteksi awal saja. Hasil validnya adalah penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU). QC dianggapnya politis dan usaha menggiring opini masyarakat. Analogi bahwa untuk merasakan minuman juga tidak cocok. Kalau minuman itu ibaratnya datanya homogen, tentu satu tetes bisa dijadikan ukuran. Sementara itu, masyarakat itu heterogen. Jadi analogi kubu lain itu dianggap tidak cocok.

Tugimin tambah bingung saat ia membuka smarthphone miliknya. Penuh perdebatan hasil Pilpres yang tak kunjung usai. Masing-masing kubu merasa benar sendiri. Tentu dengan kepentingan sendiri-sendiri pula. Smartphone yang dibelikan anaknya saat pulang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong justru menambah dia gundah. Teman-teman sepermainan dan sebangku ngopi berdebat dan cenderung pada sudut pandang kebenarannya masing-masing. Di desanya kubu-kubuan pendukung Capres semakin meruncing.

Tugimin rasanya ingin membanting smarthphone-nya. Tapi ia tentu tidak tega, kasihan sama anaknya yang sudah membelikan untuknya. Darah tinggi yang biasanya muncul mendadak memuncak dan membuat kepalanya pusing. Sebagai orang berpendidikan tidak tinggi ia juga pernah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris. Smart artinya pintar, Phone berarti alat berkomunikasi (telepon). Smartphone berarti telepon pintar. Tetapi mengapa justru membuatnya semakin bodoh? Lalu, Tugimin menyimpulkan bahwa dirinya saja yang bodoh, bukan orang lain apalagi sekadar menyalahkan smartphone-nya.

Sebagai orang desa yang berpendidikan rendah, Tugimin bukan terbilang orang modern. Ia hanya orang desa yang tahunya mencari nafkah, hidup tenang di desa yang serba komunal dan penuh kebersamaan. Makanya saat terjadi percekcokan antar temannya pasca Pilpres ia menjadi gundah.

Ia juga bisa terbilang muslim taat jika dilihat dari segi syari’at. Namun, ia hanya mampu mengerjakan agamanya berdasar ajaran ustadz kampung saja. Tidak muluk-muluk. Yang penting baginya, tidak menyakiti orang lain saja sudah cukup. Itu implementasi ajaran agama yang mendasar. Dari pada seperti banyak orang yang banyak membaca buku agama, sering pergi haji, atau kadang memberikan ceramah agama namun dia banyak menyakiti bahkan merugikan orang lain?

Tugimin terkesan sederhana dan lugu dalam beragama. Namun ia justru mengalami kenikmatan untuk itu. Beragama baginya tidak usah aneh-aneh.  Ajaran agama itu sumbernya satu, seperti air. Namun dalam bentuknya ada air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air kolam, air kamar mandi dan lain-lain. Intinya semuanya itu tetap air, bentuknya saja yang berbeda. Maka, dia akrab dengan tetangganya yang berbeda keyakinan. Yang penting tetap bisa diajak merokok dan ngopi, maka dialah teman sejatinya.

Jendela Rumah

Saat hiruk pikuk politik sejak tahun 2014, Tugimin jadi ingat jendela di kamar rumahnya. Ia mempunyai 4 jendela di rumahnya. Jendela itu dipakainya untuk melihat pemandangan di luar rumah. Dari empat jendela itu ia menyimpulkan bahwa antar jendela berbeda-beda hasilnya saat dipakai untuk mengetahui peristiwa di luar rumah. Ada jendela yang menghasilkan fakta berupa pemandangan sawah (karena rumahnya dekat sawah), ada yang rumah tetangga dan halaman muka rumahnya dengan lapangan sempit yang dipakai bermain gundu anaknya saat masih kecil.

Tugimin menyimpulkan bahwa untuk mengetahui apa yang terjadi di lingkungannya, ia tidak cukup untuk melihat dari satu jendeka. Ia butuh puluhan bahkan ratusan jendela untuk menentukan  bagaimana letak kebenaran atau fakta sesungguhnya yang terjadi di luar rumah itu. Tentu orang tidak bisa menyimpulkan hanya dari satu jendela untuk digeneralisasi sebagai sebuah kebenaran. Apalagi kebenaran yang dilihatnya dari satu jendela tersebut kemudian diyakini dan dipaksanakan ke orang lain. Teori ini dihasilkan Tugimin dari kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa orang ilmiah disebut dengan common sense theory.

Tapi mengapa banyak orang justru memaksakan kebenaran dari lubang jendelannya sendiri pada orang lain?  Mengapa banyak orang cenderung konflik  hanya gara-gara berbeda sudut pandang? Tentu kegalauan Tugimin itu bisa jadi dialami banyak orang. Betapa konflik dan perbedaan pendapat bangsa ini belum usai. Semua karena berurusan dengan kekuasaan. Kekuasaan politik telah memisahkan pertemanan dan komunalitas masyarakat. Pilpres yang hanya sekadar alat untuk mencapai tujuan telah dipakai sembarangan dengan menghabiskan enerji dengan sia-sia.  

Rakyat hanya diatur sedemikian rupa sesuai selera para pemimpin mereka. Rakyat yang sering hanya dibutuhkan suaranya sekali dalam lima tahun itu harus baku hantam gara-gara perbedaan sudut pandang jendela kekuasaan. Para elit politik pun seolah tidak berusaha untuk meredakan suasana, tetapi justru menyulut pertentangan satu sama lain.

Miskin Teladan

Para pemikir kalangan akademik juga tidak banyak yang berusaha meredakan suasana. Justru ikut-ikutan terbakar, hanya gara-gara perbedaan kubu dukungan. Sementara, ia mempunyai mahasiswa yang beragam. Para mahasiswa itu tentu melihat dan mengamati   sepak terjang kalangan akademik tersebut. Kalangan akademisi sebenarnya saat ini perlu berposisi sebagai “pemadam kebakaran” pasca Pilpres yang sudah mulai menjalar kemana-mana.

Masalahnya, kalangan akademisi juga ikut bertempik sorak karena mendukung salah satu kubu. Grup di media sosial justru menjadi alat penyulut untuk memperkuat pendapat dirinya dan semakin membenci kubu lain, bukan malah meredakan suasana. Saling supply  informasi untuk hanya memperkuat pendapatnya dan mengolok-olok pihak lain pun kian merajalela.

Di Media Sosial (Medsos) mereka juga lebih gila lagi. Tak ada usaha saling meredakan.  Yang ada justru memancing kegeraman pihak lain. Suasana pun menjadi lebih ruwet tanpa ujung pangkal. Saat inilah kita tidak perlu berkiblat pada apa yang dikatakan politisi. Namun demikian, karena semua sudah dibungkus dengan kepentingan, maka akhlak diposisikan pada level yang rendah. Saya mempunyai grup WhatsApp (WA)  dimana ribuan pesan belum saya buka sejak pemungutan suara.

Saatnya,  para pendukung Capres menurunkan tensi dan menyerahkan semua urusan pasca Pemilu kepada Tim Sukses (Timses) resmi  untuk mempersiapkan bahan-bahan jika terjadi perselisihan. Saatnya menghindari provokasi berita Medsos dan menyelesaikan perselisihan bukan di jalanan.

Tiba-tiba Tugimin ingat smarthphone-nya lagi. Ingin rasanya ia membanting benda yang katanya pintar itu. Telepon itu memang pintar, tetapi ia hanya alat yang tidak bisa dinasihati bahwa akhlak itu lebih penting dari sekadar pintar. Manusia tentu bukan alat.  Tiba-tiba tensi darah Tugimin kembali naik. Kenapa teman-temannya yang pernah dipertemukan oleh Facebook (FB), kemudian dipererat WA, lalu dipisahkan oleh Pilpres?

*Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Penulis bisa disapa lewat Twitter : nurudinwriter dan Instagramnurudinwriter

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini