Dilema antara Merawat Tradisi dan Keharusan Transformasi

*Profesor Djoko Saryono

Bagaimana merawat tradisi? sekaligus membangun tradisi. Saya ingin berbagi pikiran tentang dilema, buah simalakama antara merawat tradisi dan keharusan transformasi tradisi. Saya kira ini penting untuk membangun dan merawat identitas lokal sebuah kota, termasuk Kota Malang.

Kalau kita berkaca pengalaman sejarah baik secara geokultural kita akan melihat bahwa kota yang beradab, kota yang berkembang bahkan kota maju adalah kota yang memiliki warisan tradisi yang kuat. Tetapi juga memelihara tradisi secara kuat.

Bahkan terus mendialogkan tradisi dengan perkembangan baru tanpa melakukan perubahan substansial yang merusak tradisi. Nah, di sini kita berhadapan bahwa tradisi juga bertransformasi tetapi perubahan kecil perubahan gradual tanpa merusak hakikat yang kita sebut tradisi. Dengan begitu kita melihat tradisi sesuatu yang aktual, bukan masa lampau. Kata warisan tradisi mengesankan masa lampau, padahal tradisi itu masa kini dan masa depan.

Marilah kita memandang bahwa tradisi bukan merupakan produk masa lampau tetapi karena proses perawatan, proses pengembangan, proses dialektika dengan keadaan sekarang. Tradisi juga sesuatu yang hadir saat ini dan kita harapkan juga pada masa depan.

Tanpa tradisi kita akan diguncang dan diombang-ambingkan tidak punya gravitasi. Perubahan transformasi yang terlalu tinggi jelas merusak tradisi, kita tidak punya wajah, kita tidak punya identitas, kita tidak punya jati diri. Seorang sejarawan Arnold Joseph Toynbee mengatakan bahwa tradisi kebudayaan yang tidak tanggap dan tidak sanggup merespon masa kini dan masa depan itu sesungguhnya tradisi yang tua renta.

Dalam waktu yang sangat cepat itu disebut pikiran, kebudayaan, persepsi yang mengalami penua-rentaan dini. Indonesia sedang disergap, dibekap oleh suatu kebiasaan yang cepat mengubah sesuatu, merusak sesuatu, menghancurkan sesuatu diganti dengan yang baru. Ini bukan transformasi, tetapi ini sebuah kekalang-kabutan, keterburuan, sebuah kebingungan. Sebuah ketiadaan gravitasi atau kiblat kebudayaan suatu tradisi.

Itu yang disebut Toynbee sebagai penua-rentaan dini kebudayaan, peradaban, kita sekarang sedang berhadapan dengan itu di segala sektor kehidupan. Yang paling mutakhir kita tahu betapa dunia hukum kita, dunia regulasi, perundang-undangan menunjukkan ketua-rentaan dini itu karena berbagai kepentingan.

Undang-undang MD3 diubah karena untuk mengakomodasi kepentingan. Saya kira perubahan cepat undang-undang tanpa melihat substansinya itu wajah nyata ketidakmampuan melakukan respons yang memadai atas perubahan yang memadai. Kita selalu melihat milik kita yang lama tidak bagus. Milik kita yang lama tidak cocok lagi, padahal yang lama itu temponya sangat pendek. Ada yang satu tahun dianggap tak memadai, ada yang lima tahun dianggap sudah tidak memadai.

Ini bukan transformasi, tapi ini kegagapan ini ketidakmampuan mengolah transformasi tradisi. Penting merenungkan kembali kondisi kita. Kita sekarang sedang dihadapkan pada suatu kenyataan kegagapan merespon dengan baik. Kita tak bisa melakukan transformasi dengan baik sehingga identitas jati diri kita, kota, keadaan sosial selalu tidak jelas. Kita selalu bingung dengan masalah itu.

Kita harus Memulai mengelola transformasi. Sehingga tradisi tak pernah hilang. Mari kita melihat peradaban besar selalu tak menghilangkan substansi, tak mengubah serat tradisi meski perubahan transformasi berlangsung bertahun-tahun. Eropa bangkit dengan Renaisans tetap dengan mewariskan, berpangkal pada tradisi yunani.

Beberapa belahan dunia lain juga sama. Kita melihat bangunan arsitektural, bentuk ornamen dan lukisan tak pernah meninggalkan tradisi. Meskipun ada perubahan. Ada bangunan lain, meski fungsi berbeda tetapi arsitektural dan ornamental juga tak berubah. Mungkin pada suatu saat ratusan tahun lalu bangunan gereja tetapi sekarang menjadi mal. Tetapi tetap substansi arsitekural tak hilang begitu saja.

Mari kita melihat di sini hampir tak memiliki jejak yang menandai keberadaan Indonesia. Padahal belum berlangsung lama, tidak ada tempat proklamasi Indonesia Jalan Pegangsaan Timur 56. Tinggal cerita, tempat lain juga sedang menunggu. Di sini sedang menyaksikan diri kita yang sedang menghancurkan tradisi. Bangsa yang menghancurkan tradisi adalah bangsa yang sedang kehilangan jati diri dan identitas. Bangsa yang sedang kehilangan kiblatnya untuk melangkah ke masa kini dan masa depan.

Nah, kapan akan terus berlangsung? Jika kita ingin berpijak berubah bertransformasi dengan identitas jati diri yang jelas. Maka jati diri harus menjadi elemen penting dalam transformasi. Bentuk, fungsi dan aspek lain bisa saja bertransformasi tetapi hakikatnya misal transformasi itu diumpamakan air sifat itu tak berubah. Tetapi di tempat kita, kalau transformasi itu diumpamakan air, air itu yang justru hilang. Alias tradisi kita hilang.

Sebenarnya kita bangsa yang sedang kehilangan tradisi dan kita sekarang sedang mengais tradisi. Sebagian di antara kita seperti yang hadir saat ini dan terakota.id adalah komunitas atau media yang sedang mengais menyelamatkan tradisi. Berarti sedang menyelamatkan masa kini dan masa depan kita.

Saya kira ini penting terakota dan komunitas adalah segelintir yang peduli masa kini dan masa depan kita memerlukan tradisi. Kita semua adalah penyelamat diakui atau tidak dengan orang lain. Sebenarnya kerja kita menyelamatkan tradisi. Tradisi harus tetap kita pelihara, tradisi harus terus didiskusikan dan diperiksa kembali.

Aristoteles pernah mengatakan hidup yang tak pernah diperiksa kembali adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Kita adalah bagian yang berani memeriksa hidup kita memeriksa tradisi kita untuk kemudian kita jalani dengan tradisi itu. Sementara saudara kita yang lain tidak berani memeriksa hidupnya tapi dihancurkan saja tradisi itu.

Kita tak perlu membenci kita perlu prihatin dan mengajak mereka bersama-sama. Jaringan itu lebih elok, lebih arif daripada kita menghujat. Hari-hari ini kita penuh dengan hujatan. Usaha untuk merawat, melestarikan itu memerlukan teman dan jaringan yang lain. Terakota bisa menjadi sebuah sentrum, episentrum yang memercikkan gelombang untuk merawat tradisi untuk menebarkan inspirasi bagunan tradisi itu harus dikembangkan, tradisi itu harus dikonservasi, tradisi itu harus direjuvenasi.

Maksud tradisi perlu direjuvenasi itu penting kita perlu peremajaan supaya wajah tradisi kita mulus, mengkilap kembali tak kusam dan penuh flek. Saya kira tantangan besar kalau tradisi kita pada masa kini dan masa depan bersih dari kekusaman maka tradisi memiliki masa depan yang sangat cerah. Kita tak akan hidup dalam sebuah beradaban kebudayaan yang tanpa gravitasi. Tradisilah gravitasi kita.

Sesungguhnya kita memiliki tradisi kebudayaan yang luar biasa. Kalau kita berpikir kebudayaan sebuah sistem yang holistik, kita harus meremajakan, harus memelihara, arus mentransformasi tradisi sosial dan material kita. Bisa saja arsitektur, mungkin bentang alam seperti subak sebagai bagian dari tradisi.

Jika sebuah tradisi bisa selamat dengan baik untuk dikonservasi, ditransformasi dan direjuvenasi.Maka sesungguhnya tradisi selalu hadir bersama hidup kita dalam perjalanan hidup kita. Kita tak perlu repot, dalam sebuah proyek untuk sebuah identitas tertentu. Kita tahu identitas dan jati diri sebuah kota biaya mahal.

Proyeknya ada, duitnya ada besar, dan biasanya itu membekukan aspek teryntu dari tradisi yang kaya. Pasti serat-serat tradisi terhenti. Inilah kota yang sesungguhnya tak merawat identitasnya, kota yang tak merawat tradisi. Kota yang tak meremajakan identitas dan tradisi selalu kebingungan.

Seperti dipegang diletakkan dalam bubu kemudian diabsahkan dalam legalitas tertentu. Inilah misalnya lahir kota-kota di Indonesia selalu kontradiktoris selalu bertentangan satu dengan yang lainnya. Sesungguhnya kita tak merawat dengan baik tradisi kita.

Karena kita melalaikan tradisi, karena kita menghancurkan tradisi, karena kita membenamkan tradisi itu. Adaikan tidak, tradisi itu akan ada ditransformasikan sedemikian rupa, berubah bentuk mungkin saja tapi substansinya tidak. Nah, jika kita ingin menciptakan kemajuan di tengah globalisasi harus menengok tradisi kita. Tradisi kita harus didialogkan dengan globalisasi, globalisasi yang selama ini dikesankan sebagai penyeragaman material tradisi dari kebudayaan lain harus diperiksa kembali.

Jika kita merawat, mengembangkan, meremajakan tradisi kita akan berkontribusi kepada globalisasi pada nasionalitas kita. Terakota saya kira bisa menyumbangkan itu, menebarkan inspirasi. Globalisasi memiliki wajah baru. Globalisasi bisa berupa himpunan tradisi lokal yang diterima secara global. Himpunan tradisi lokal dari berbagai bangsa yang dibutuhkan bersama untuk memperbaiki metabolisme peradaban kita. Memperbaiki metalobisme kota-kota kita.

Sudah saatnya kita menengok kembali tradisi, memungut, menyimpan dan mempertahankannya. Membawa tradisi dihilangkan flek dan kekusamannya. Sehingga tradisi menjadi kinclong tak terkesan kusam dan terkesan masa lalu. Ini tantangan terakota dan tantangan kita semua yang masih peduli dengan tradisi ini.

Selamat pada terakota.id Selamat meremajakan, merawat. Tak hanya merawat, tapi meremajakan, mempercantik tetapi juga mengembangkan. Kita sedang dalam gairah dan gegap gempita meremajakan tradisi dan mentransformasi tradisi. Dalam dunia fashion semua berpangkal pada tradisi. Itu menumbuhkan lokalitas, identitas lokal tanpa perlu pengabsahan.

Fashion sudah membangun identitas lokal karena semua sudah diremajakan ditransformasikan. Dulu kita tak mengenal batik Papua. tapi kita sekarang melihat batik Papua dengan motif asmat, motif dani dan sebagainya.

Nah kalau ini bisa dikerjakan, sesanti kita ‘Bhineka tunggal ika’ akan terwujud dengan baik. Kalau multikulturalisme, pluralisme dan transkulturalisme tumbuh dengan baik maka kita akan melihat taman tradisi yang luar biasa indah. Dengan demikian kita akan mampu membangun menciptakan saling hubungan yang saling menghormati, memahami, saling toleransi. Sesungguhnya kita telah memberikan kontribusi yang bagus di dalam gundah-gulana dunia ini.

Indonesia hari-hari ini sedang galau, gundah, panik bahkan kebingunan dengan persoalan radikalime dan fundamentalisme. Radikalisme dan fundamentalisme dimana-mana bertumpu pada keseragaman. Sehingga tidak terlatih keanekaragaman, tak terlatih taman kebudayaan yang beraneka warna. Itu karena tradisi telah dihilangkan.

Mari kita hidup-hidupkan tradisi, kita kembang-kembangkan tradisi, kita konservasi tradisi. Kita percantik tradisi dengan berbagai upaya. Pertemuan ini sebuah niat untuk merayakan tradisi demi toleransi, demi kehidupan yang beranekawarna dan kita berbahagia di dalamnya.
*Guru Besar Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang
Disampaikan saat peluncuran portal www.terakota.id pada 13 Desember 2016

Tinggalkan Pesan