Didi Kempot: Godfather of Broken Heart

didi-kempot-godfather-of-broken-heart

Terakota.id–Mengapa pertemuan rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo dilakukan di Stasiun MRT Lebak Bulus dan diakhiri jumpa pers serta makan siang bersama di Stasiun Senayan?Kenapa pertemuan kedua tokoh bangsa itu tak dilakukan di Stasiun Balapan Solo?

Jawaban nggak seriusnya adalah mungkin kalau pertemuan itu dilakukan di Stasiun Balapan Solo takut suasananya jadi sedih. Stasiun Balapan adalah saksi pertemuan yang tinggal kenangan seperti yang digambarkan dalam lagu Didi Kempot yang berjudul “Stasiun Balapan”.

Ya, Didi Kempot memang fenomenal. Dalam beberapa minggu terakhir ini banyak netizen yang heboh membahas sang penyanyi asal Solo itu. Bahkan para netizen menjuluki Didi Kempot sebagai the Godfather of Broken Heart alias Bapak Patah Hati Nasional. Julukan ini tentu bukan tanpa alasan. Julukan unik ini muncul karena lagu-lagu Didi Kempot banyak yang bernuansa sedih.

Walaupun mengusung lagu bertema sedih, namun lagu-lagu adik pelawak Srimulat almarhum Mamik Prokoso ini banyak yang suka. Lagunya enak didengar, syairnya tak rumit dan berat. Aransemen musiknya juga sederhana. Balutan irama campursari, dangdut, dan keroncong menyatu dalam lagu-lagu Didi Kempot. Musiknya easy listening, bikin rileks.

Kesederhanaan dan Kejujuran

Menurut pengakuan Didi Kempot, seperti diberitakan beberapa media, dia telah menciptakan lagu tak kurang 800 judul dari sekitar 60 album. Jumlah ini tentu bukan angka yang sedikit. Dari hampir semua lagu ciptaan Didi Kempot menyiratkan kesederhanaan dan kejujuran, baik dalam syair lagu maupun penggarapan musiknya.

Lirik lagu Didi Kempot itu sederhana namun mengena. Beberapa lagu sedih Didi Kempot mampu menusuk hingga ke relung hati orang yang mendengarkannya. Lewat lagu yang dilantunkan musisi yang lahir pada 13 Desember 1966 ini seperti bisa menghipnotis siapa saja yang sedang menikmatinya. Lagu-lagu Didi Kempot tak hanya bisa diterima di tanah air saja, namun hingga sampai Suriname, Belanda, Eropa, dan Amerika.

Mayoritas lagu Didi Kempot memang bernuansa sedih. Namun kesedihan yang digambarkan dalam lagu-lagu Didi Kempot disampaikan dengan sederhana dan jujur. Sehingga orang yang mendengar lagu sedih tersebut tetap bisa menikmati dan terhibur karena syair terasa sangat dekat dan seperti yang dialami banyak orang. Hal inilah yang akhirnya membuat banyak penggemar yang menobatkan Didi sebagai Bapak Patah Hati Nasional.

Coba kita simak syair lagu Didi Kempot yang berjudul “Stasiun Balapan” yang dirilis tahun 1999 berikut: “Ning Stasiun Balapan/ Kuto Solo sing dadi kenangan / Kowe karo aku / Naliko ngeterke lungamu/ (Di Stasiun Balapan / Kota Solo yang jadi kenangan / Kamu dengan aku / Ketika mengantarkan pergimu),

Ning Stasiun Balapan / Rasane koyo wong kelangan / Kowe ninggal aku / Ra kroso netes eluh ning pipiku/ (Di Stasiun Balapan / Rasanya seperti orang kehilangan / Kamu ninggalkan aku / Tidak terasa menetes air mata di pipiku).”

didi-kempot-godfather-of-broken-heart
Sampul official video Didi Kempot. (Foto : Youtube).

Karena syair dibuat sangat jujur merefleksikan keadaan yang terjadi pada masyarakat, maka pesan dalam lagu menjadi lebih mudah ditangkap dan diterima. Penikmat lagu-lagu Didi Kempot seperti bercermin pada realitas yang diusung Didi lewat lagu-lagu sedihnya. Disinilah kedekatan antara pencipta lagu, lagu itu sendiri, dan penikmat lagu bisa menyatu. Ini salah satu kekuatan Didi Kempot.

Meskipun lagu-lagunya mengisahkan kesedihan, namun kesedihan yang disampaikan Didi Kempot bukan cengeng. Kesedihan yang digambarkan dalam lagu-lagu Didi tak serupa dengan lagu-lagu cengeng tahun 90-an seperti yang dinyanyikan Nia Daniati, Betharia Sonata, atau Dian Pisesa. Didi Kempot tetap menyelipkan nasihat dan harapan (hope) di tengah situasi sedih yang terjadi.

Musik Pelipur Lara

Boleh saja syair-syair lagu Didi Kempot itu sedih. Namun orang yang mendengarkan dendang sedih Didi Kempot bisa tetap terhibur. Kalau toh ada orang yang merasa senasib seperti dalam syair lagu Didi Kempot, mereka juga tetap bisa terhibur. Lagu-lagu Didi Kempot bisa jadi pelipur lara tak hanya bagi orang yang dalam keadaan gembira saja, namun bagi mereka yang sedihpun bisa menikmati kesedihan itu dengan gembira.

Didi Kempot memang terlahir dari keluarga seniman. Ayahnya, Ranto Edi Gudel adalah pelawak kenamaan kala itu. Kemampuan melawak sang ayah diteruskan oleh kakak Didik Kempot yakni almarhum Mamik Prakoso. Beberapa saudaranya yang lain juga terjun di bidang seni. Karir Didi Kempot dirintis cukup panjang. Jadi pengamen jalanan pernah dilakoninya di Jakarta. Konon nama “Kempot” dibelakang nama Didi itu berasal dari akronim “Kelompok Penyanyi Trotoar”.

Musik adalah media yang universal. Lewat musik beragam perbedaan bisa disatukan. Perbedaan kewarganegaraan, agama, warna kulit, bahasa, strata sosial, dan sejumlah perbedaan lain bisa lebur lewat musik. Musik terbukti tak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata. Lewat musik juga ampuh untuk tujuan edukasi, kritik, syiar agama, dan beragam maksud lain.

Lagu-lagu Didi Kempot tak hanya dia nyanyikan sendiri. Banyak penyanyi lain yang menyanyikan (cover) lagu-lagu Didi. Beberapa penyanyi kenamaan seperti Via Vallen juga meng-cover beberapa lagu Didi Kempot. Sejumlah Youtuber juga menyanyikan ulang lagu-lagu Didi Kempot dan membuat video yang diunggahnya di Youtube dan banyak dibanjiri subscribers dan viewers. Didi Kempot tak hanya penghibur penggemarnya, namun juga memberi rejeki bagi sejumlah artis lain.

Didi Kempot memang mengusung langgam Jawa dalam lagu-lagunya. Namun tak berarti anak-anak muda, generasi milenial tak suka. Didi Kempot telah berhasil menjadikan lagu-lagunya digemari tak hanya kaum tua, namun juga anak-anak muda. Didik Kempot juga tampil tak hanya di panggung-panggung dangdut dan campursari, namun beberapa panggung musik jazz nasional dan mancanegara juga pengundangnya. Didi Kempot telah berhasil melintasi genre dan generasi.

Banyak  pelajaran berharga yang bisa dipetik dari lagu-lagu Didi Kempot. Melalui sejumlah lagu yang didendangkannya, Didi Kempot telah menjadi pelipur lara bagi mereka yang sedih agar jadi gembira. Membaca lagu-lagu Didi Kempot sejatinya melihat realitas yang sesungguhnya terjadi pada masyarakat Indonesia. Soal sedih dan gembira itu sudah kodratnya muncul beriringan. Untuk itu disaat sedih bagaimana kita bisa tetap menemukan kegembiraan di dalamnya.

Julukan the Godfather of Broken Heart yang disematkan para netizen bisa dimaknai sebagai pengakuan bahwa karya-karya Didi Kempot bisa diterima banyak orang. Melalui lagu Didi Kempot telah berkontribusi pada dunia. Para penggemar Didi Kempot, para sadboys dan sadgirls yang tergabung dalam “Ambyar” senantiasa terhibur dengan kehadiran lagu-lagu Didi Kempot.

didi-kempot-godfather-of-broken-heart
Didi Kempot (Grafis : Indra Prabu).

Segala kesedihan, kepenatan hidup, perseteruan, konflik politik, kerumitan ekonomi, pendidikan, dan semacamnya tetap bisa dibawa santai dengan mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu Didi Kempot. Cobalah kalau nggak percaya!

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini