Di Balik Dinding Sekolah Itu

Ilustrasi : Dini Marlina

Malu aku malu

pada semut merah,

yang berbaris di dinding

menatapku curiga,

seakan penuh tanya,

“Sedang apa di sini?”

“Menanti pacar,” jawabku.

 

Terakota.id–Kutipan di atas adalah penggalan syair lagu Kisah Kasih di Sekolah. Lagu yang diciptakan dan dinyanyikan pertama kali oleh Obbie Messakh pada era tahun 1980-an tersebut kelak juga dipopulerkan kembali oleh Chrisye pada tahun 2000-an. Lagu tersebut tidak sekadar mengekspresikan representasi perasaan remaja pada umumnya, namun lebih dari itu menggambarkan bentuk relasi antar manusia pada zamannya. Komunikasi antar personal lebih banyak diekspresikan dalam bentuk tatapmuka langsung dibandingkan dengan sarana teknologi komunikasi. Hidup tanpa media sosial. Tak ada jatuh cinta melalui medsos.

Masa-masa di SMA bagi sebagian besar orang memang menjadi masa yang tak pernah terlupakan. Grup-grup WhatsApp yang paling ramai dan paling heboh barangkali adalah grup-grup alumni SMA. Pada masa itu banyak kenangan indah yang masih terpatri di ingatan. Kisah Kasih di Sekolah menjadi monumen bagi mereka yang ingin mengenangnya. Hingga sekarang, lagu ini masih banyak mengundang banyak orang untuk menyanyikannya. Lagu ini akan menjadi lagu klasik, yang terus akan dinyanyian sepanjang masa.

Tatkala lagu tersebut diciptakan, masyarakat kita masih belum mengenal telefon seluler (ponsel). Sarana komunikasi masih merupakan barang mahal. Perangkat telekomunikasi semacam telefon rumah, misalnya, hanya bisa diakses oleh masyarakat perkotaan, setidaknya mulai tingkat kota kecamatan. Mereka yang tidak dijangkau jaringan telefon rumah, untuk melakukan komunikasi bisa mendatangi kantor-kantor telefon dan stan-stan telefon koin. Telefon koin dipasang di sudut-sudut jalan dan di fasilitas umum di kota-kota.  Untuk mencurahkan perasaan pun juga disampaikan melalui telefon. Obbie Mesakh kala itu juga menciptakan lagu dengan judul Telepon Rindu.

Bahkan ketika itu banyak desa masih belum dialiri listrik, termasuk desa-desa di pulau Jawa. Televisi juga masih menjadi barang mahal. Tidak semua keluarga memiliki pesawat televisi. Menonton televisi di tetangga adalah pemandangan yang sangat lumrah. Lagu-lagu lebih banyak dipopulerkan melalui rekaman pita kaset dan juga diputar oleh stasiun radio.

Radio menjadi sarana komunikasi utama, untuk memeroleh berita sekaligus menikmati hiburan. Suara Obbie Messakh sebagaimana syairnya saya kutip di awal tulisan ini lebih banyak menghiasi radio transistor, menemani hati-hati yang galau. Suara itu bergema di rumah-rumah penduduk, dan juga di kamar-kamar kos.

Dalam perkembangan selanjutnya, listrik pun masuk ke desa-desa. Seiring dengan itu tumbuh pula warung telekomunikasi (wartel). Maraknya wartel berkat perkembangan yang sangat pesat dalam dunia telekomunikasi via sarana telefon. Jaringan telefon sudah masuk sampai ke pedesaan. Wartel-wartel itu dikelola oleh masyarakat. Masyarakat luas bisa dengan lebih leluasa melakukan komuniasi via telefon dengan harga yang cukup terjangkau. Keluarga-keluarga di pedesaan pun juga telah menikmati jaringan telefon rumah.  Jarak kota dan desa makin dekat dengan adanya telefon masuk desa.

Saat itu masih sangat sulit untuk membayangkan teknologi komunikasi semaju saat ini. Sekarang orang bisa bertatapmuka kapan saja, di mana saja tanpa dibatasi jarak dan waktu. Ini berbeda dengan masa lalu, yang kata Obbie Mesakh, untuk bertemu sang kekasih saja harus mencuri waktu. Saat ini, sepanjang ada jaringan internet dipastikan komunikasi interpersonal dijamin lancar. Sepasang kekasih bisa bertatapmuka tanpa batas dalam sehari, tak harus mencuri-curi kesempatan untuk bertemu. Untuk bertemu keluarga besar pun yang saling berjauhan nyaris tiada kendala. Tanpa mengeluarkan biaya yang besar untuk membeli tiket pesawat atau kapal laut, keluarga besar bisa saling ngobrol dan melepas rindu melalui sarana telekomunikasi yang canggih. Masing-masing bisa saling menatap wajahnya.

Romantika di SMA seperti dikisahkan oleh Obbie Messakh nyaris dialami oleh semua orang, sekalipun mungkin berbeda bentuknya. Perubahan zaman memengaruhi pengalaman masing-masing. Cerita masa lalu barangkali merupakan sebuah kenangan yang kini bisa menjadi bahan canda dan tawa, namun pola-polanya masih cenderung sama.

Apa yang dikisahkan oleh Obbie Messakh dalam Kisah Kasih di Sekolah tentang sepasang remaja usia SMA yang berdusta pada guru untuk saling jumpa tersebut barangkali tidak marak dilakukan oleh mereka ketika teknologi informasi telah semaju sekarang. Bentuk dustanya pasti berbeda. Dulu mungkin pamit kepada gurunya untuk ke kamar kecil, padahal untuk berjumpa dengan sang kekasih. Saat ini wajah sang kekasih bisa diakses lewat ponsel. Banyak anak-anak di dalam kelas tidak lepas dari ponselnya. Ponsel tidak melulu sebagai sarana penunjang belajar di kelas, namun lebih banyak sebagai media komunikasi dengan dunia luar.

Dua minggu lagi kita akan memasuki tahun ajaran baru. Tahun ini adalah kali kedua tahun ajaran baru dengan pemandangan tak seperti biasanya. Sebelum pandemi korona melanda, tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan luapan kegembiraan untuk menyambutnya. Hari pertama sekolah selalu menjadi bagian yang paling menyenangkan. Seragam baru yang kemarin diambil dari penjahit dan belum sempat dicuci harus dipakainya pula hari ini. Bertemu dengan teman baru adalah pengalaman yang selalu dirindukan oleh peserta didik baru.

Ilustrasi : https://primaindisoft.com.

Setahun lalu, di awal pandemi ini melanda, anak-anak saya, sebagaimana anak-anak pada umumnya selalu merindukan untuk pergi ke sekolah. Saat-saat tertentu mereka saya ajak jalan-jalan hanya untuk sekadar melihat sekolahannya dari jarak jauh sambil lalu saja. Saat ini, setelah memasuki tahun kedua, anak-anak saya menikmati kemapanan baru, belajar di rumah. Bagi mereka, belajar di rumah lebih bermakna dibandingkan seharian berada di sekolah. Terus terang, anak-anak saya sekarang lebih sehat dibandingkan dengan dulu ketika mereka tiap hari harus mundar-mandir pergi dan pulang sekolah. Saat ini mereka lebih berbahagia dengan dunia barunya, belajar bersama keluarga, dengan tanpa mengurangi kuantitas dan kualitas yang semestinya mereka peroleh di sekolah.

Dulu, ketika mereka menjalani sekolah sehari penuh, saya merasakan tingkat kebahagiaan anak-anak saya sangat rendah. Pulang sekolah sampai di rumah menjelang jam lima sore, anak-anak saya dalam kondisi puncak kelelahannya. Waktu sekolahnya mulai menerapkan full-day school, dulu kepala sekolahnya berjanji tidak akan memberi pekerjaan rumah untuk anak-anak. Dalam praktiknya, ternyata ada beberapa guru yang masih memberi beban kepada anak-anak di luar jam sekolah. Bisa dibayangkan jam lima sore sampai rumah, kemudian mandi dan ishoma, setelah itu masih harus mengerjakan PR. Tidak hanya anak-anak yang mengalami stres berat, namun orangtua juga terpengaruh dengan emosi anak-anaknya.

Ketika pembelajaran dialihkan ke dalam dunia maya, banyak guru yang masih mencari formula yang paling tepat untuk menggantikan pembelajaran di sekolah. Segala kekurangan akibat kegagalan pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah dengan cara ini, mengundang kreatifitas orangtua untuk melakukan inovasi yang tepat untuk anak-anaknya agar tetap memeroleh haknya tetap belajar dengan maksimal. Anak-anak tak boleh kehilangan masa emasnya yang berlalu begitu saja tanpa makna apa pun.

Saat ini banyak orangtua yang merasa resah dan gelisah menunggu kapan pandemi ini akan berakhir, dan anak-anak bisa masuk sekolah kembali. Banyak orangtua yang merasakan bahwa selama pembelajaran daring, anak-anak tidak mendapatkan apa-apa. Banyak orangtua yang ingin agar anak-anak segera belajar luring di sekolah. Selama ini sebagian dari orangtua yang sibuk beraktivitas di luar rumah, sekolah adalah tempat penitipan anak-anaknya. Full-day school adalah pilihan mereka. Mereka berangkat sekolah bersama orangtuanya, dan pulangnya bersamaan dengan kepulangan orangtuanya dari tempat kerja.

Pandemi telah memberi pelajaran kepada para orangtua bahwa pendidikan bukan semata-mata tanggung jawab sekolah. Sekolah tidak dapat dijadikan sebagai tumpuan bagi tumbuh-kembang dan masa depan anak. Orangtua juga harus mengambil peran bagi perkembangan anak-anaknya juga. Jika orangtua tidak berperan sebagai pengajar, maka setidaknya mereka adalah sebagai fasilitator dan motivator bagi mereka untuk belajar. Tugas orangtua adalah menyediakan bacaan dari pelbagai sumber yang relevan dengan materi pembelajaran dan mendampingi mereka belajar. Belajar di rumah dilakukan kapan saja, sehingga tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak mengambil bagian penting melakukan peran aktif dalam melibatkan diri pada aktivitas belajar anaknya.

Tahun ajaran baru sebentar lagi tiba dan pandemi korona belum lagi sirna. Jangan berharap tatapmuka di sekolah sebagai alasan untuk lepas tanggung jawab terhadap pendidikan anak. Biarlah sejenak sekolah-sekolah menjadi sepi, namun meriahkan hati anak-anak dengan kedekatan dan kasih sayang. Sembari menunggu pandemi berakhir, kita belajar menjadi guru di rumah sendiri, bersama anak-anak, di balik dinding-dinding rumah kita sendiri.

Di dinding-dinding sekolah itu kini memang tiada canda tawa anak-anak, namun semut merah itu terus berjajar di dinding dengan tatapan yang masih selalu penuh curiga, “Kenapa kau tak lagi di sini?”

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini