Dhawuh Kiai Haji Salahuddin Wahid

Oleh : Ahmad Faozan*

Terakota.id-“Saya berharap kepada Anda semua, ‘para pelajar’ semoga lebih banyak lagi yang suka menulis, karena menulis itu penting di dalam kehidupan masyarakat Anda,” Dhawuh Gus Sholah.

Mencari bibit-bibit baru penulis di kalangan para santri yang masih domisili di pesantren memang tidak mudah. Kalau yang kepingin banget, banyak. Sudah kita ajari dan dilibatkan seringkali lepas tengah jalan. Baik karena dia sendiri pindah haluan ingin menekuni yang lainnya, niat belajarnya tidak kuat, boyong, dan aneka macam alasan realistis.

Bagi sebagian orang mengatakan ini masalah klasik yang sering jadi rekomendasi. Meskipun itu semua sulit bukan berarti mustahil. Yang penting mau dulu soal kemampuan bisa diasah.

Dalam kesempatan lain, Gus Sholah juga dhawuh, “Saya sangat senang membaca, tapi ternyata anak saya, tidak semuanya senang membaca. Dan karena para wali santri menitipkan anak-anak mereka di pondok ini maka tugas ini dilimpahkan kepada kita,” Dan “Kita harus mendorong para santri dan para pengurus agar terus menggali potensi menulis dari dalam diri mereka.”

Salah satu kebiasaan positif yang tampak dari KH. Salahuddin Wahid adalah rajin membaca dan menulis. Bahkan, sebelum meninggalkan kita semua tulisannya dimuat koran Kompas. Kegemarannya membaca dan menulis sudah terlihat sebelum beliau menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Bagaimana saat menjadi pengasuh dalam urusan ini? Sangat menjadi perhatiannya.

Dalam konteks Pesantren Tebuireng berkaitan dengan literasi para kiainya sendiri yang menjadi teladan nyata. Misalnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan NU mendapat tambahan gelar, Bapak Umat Islam Indonesia. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang ilmunya luas, akhlaknya terpuji, terampil dalam menulis, dll. Selain menulis artikel di media massa juga menulis buku.

Sebagai ulama yang berpengaruh, beliau seringkali memanfaatkan ruang media sosial untuk mengulas suatu persoalan yang dianggapnya menarik perhatiannya. Semasa Hadratussyaikh menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng belum terdengar beliau mendirikan lembaga penerbitan buku. Bisa jadi, hanya saya yang tidak mendengar soal ini.

Saat KH. Abdul Wahid Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng juga dikenal sebagai seorang ulama yang juga terampil dalam menulis. Banyak tulisannya yang beliau kirimkan di sejumlah media massa. Dengan tulisan itulah beliau dapat mengenalkan ide dan gagasan mengenai banyak hal yang beliau anggap menarik.

Namun juga tidak kita dengar KH. Abd. Wahid Hasyim menulis buku khusus. Dalam masa ini juga tampaknya Pesantren Tebuireng belum memiliki lembaga penerbitan buku. Bisa jadi, untuk hal yang kedua ini, saya sendiri yang tidak mendengarnya.

Pada masa KH. M. Yusuf Hasyim menjadi pengasuh sebelum Gus Sholah, juga dapat dilihat jejaknya beliau dikenal menulis sejumlah artikel di media massa. Meskipun tidak banyak tapi ada. Beliau juga memiliki kepedulian tinggi di bidang literasi. Di mana Majalah Tebuireng lahir di eranya.

Sebuah majalah super keren di kalangan masyarakat pesantren kala itu, dengan oplah tertinggi mencapai 10.000 ribu eks. Pelanggannya tersebar luas diluar pesantren. Namun sayangnya ditengah perjalanannya vakum.

Salah satu alasannya, boyongnya para pengelolanya. Sedangkan lembaga penerbitan buku apakah beliau pernah mendirikan? Yang jelas, ditemukan beberapa buku-buku yang dicetak atas nama Tebuireng press.

Pada masa ini juga muncul penulis besar dari Bani Hasyim Asy’ari, yaitu Ishomuddin Hadzik selain juga menulis di media massa juga berhasil menemukan dan menyunting kitab-kitab karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Kemudian juga muncul sosok KH. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur yang dikenal luas sebagai penulis. Beliau menulis dibanyak media massa.

Gus Sholah sendiri dhawuh, soal kegemarannya membaca dibentuk di lingkungan keluarganya. Sedangkan dalam hal belajar menulis dalam banyak kesempatan beliau dhawuh, “saya memulai belajar menulis setelah menutup perusahan kontraktornya pasca krisis moneter pada tahun 1998.” “Sejak saat itu saya memulai belajar serius dan tekun dari nol. Karena saya tidak terbiasa, tidak berbakat menulis seperti kakak saya, Gus Dur yang sedari kecil sudah mahir menulis.” Pada dasarnya “Menulis bisa belajar sendiri, namun tentunya lebih baik ada yang membimbing”, dhawuh Gus Sholah.

Berkah, tulisan pak kiai dikenal luas. Meskipun tanpa menulis sudah banyak yang tahu. Tapi ide dan pemikiran panjenengan menjadi tersebar luas. Ide dan pemikiran panjenenhan masih akan hidup terus. Warisan berharga dari mulai menghidupkan kembali Majalah Tebuireng, mendirikan Tebuireng online, dan mendirikan Pustaka Tebuireng.

Pada tanggal 30 Desember 2019, dalam sebuah rapat bersama dengan Gus Sholah, beliau dhawuh, ” Kita butuh berapa santri lagi untuk dikader ‘yang rajin baca dan suka menulis” untuk memperkuat Pustaka Tebuireng?” “Kalau melihat kebutuhan yang akan datang sepertinya kita butuh 5-6 orang lagi. Bahkan, lebih. Syukur, ada satu orang yang sudah terampil, nanti ketemu saya untuk mengerjakan sebuah buku khusus.” Tutur Yai Sholah.

Alhamdulillah, selepas pertemuan itu kita sudah menjalankan perintah panjenengan, dalam hal ini ada beberapa orang untuk dibina. Hanya saja, sebelum saya perkenalkan semua ke panjenengan takdir berkata lain.

Dhawuh terakhirmu pun juga masih teringat di memori tim Pustaka Tebuireng, “ada saya maupun tidak ada saya berjuang didunia literasi harus terus jalan.” Al Fatihah.

*Pustaka Tebuireng

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini