Desiderius Erasmus tentang Pernikahan

Terakota.id-Dalam beberapa tulisan saya di media ini sebelumnya, saya sempat menyebut nama Desiderius Erasmus (1466-1536). Kebesaran namanya hanya saya singgung manakala saya menyebut pusat kebudayaan Belanda. Nama Erasmus memang tak bisa dilepaskan dari negeri kincir angin itu. Ketika saya duduk santai di perpustakaan pribadi saya sambil bernostalgia dengan karya-karya klasik, tiba-tiba saya tertarik kembali untuk membaca karya-karya Erasmus.

Berkelana menyusuri karya-karya lama rasanya ada kenikmatan tersendiri yang tak tergantikan, baik itu karya-karya dari dunia Timur maupun dari dunia Barat. Bagi kita yang saat ini hidup di abad ke-21 membaca karya-karya abad ke-16 seakan menemukan harta karun, permata terpendam yang tak ternilai harganya. Karya-karya besar selalu mengandung pemikiran yang melampaui zamannya, dan sebagian besar masih relevan sekalipun melewati pelbagai periode waktu.

Saya menemukan karya Erasmus yang diterjemahkan oleh H.B. Jassin. Percakapan Erasmus, begitu sang penerjemah memberi judul terjemahannya yang berisi kompilasi karya-karya Erasmus. Terjemahan ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Djambatan (1985). Dalam kumpulan tulisan itu ada 12 karya Erasmus. Yang kemudian sangat menarik perhatian saya adalah tulisan Erasmus tentang pernikahan.

Tulisan-tulisan Erasmus pada umumnya memang tergolong unik. Erasmus dikenal sebagai seorang tokoh humanis abad ke-16. Gagasan-gagasannya dituangkan dalam bentuk percakapan, dan biasanya antara dua orang tokoh. Membaca tulisan Erasmus kita seakan dibawa ke dunia dongeng, banyak keanehan, kelucuan, namun kadang-kadang juga disuguhi khotbah dan nasihat yang panjang lebar. Semua itu disajikan dalam percakapan yang hidup. Topik-topiknya selalu berangkat dari masalah-masalah yang sederhana, namun membawa misi besar dan terkandung kritikan yang sangat pedas.

Dalam Karon, Tukang Tambang ke Dunia Roh, Erasmus bercerita tentang percakapan Karon dan Alastor. Mereka memperbincangkan tentang ulama yang suka menghasut para raja untuk selalu mengobarkan perang. Mereka mengatakan bahwa perang adalah demi keadilan, suci, dan perbuatan yang salih. “Di tengah orang Perancis mereka berseru kepada rakyat bahwa Tuhan ada di pihak orang Perancis dan orang yang mengambil Tuhan sebagai pelindung tidak akan dikalahkan. Orang Inggris dan Spanyol pula mengatakan bahwa perang ini bukan dilakukan oleh kaisar, tapi oleh Tuhan sendiri. Asal mereka berani, pastilah mereka menang.”

Ilustrasi : Foto FXBuku

Para pemuka agama itu mengambil keuntungan atas terjadinya perang. Jatuhnya banyak korban akibat perang mengakibatkan tukang tambang kuwalahan membawa roh-roh orang mati itu menyeberangi sungai Styx menuju tempat mereka yang abadi. Dalam kisah ini Erasmus menganggap bahwa Lutheranisme merupakan salah satu sumber bencana. “Bahwa telah timbul pula bencana lain yang telah merusak manusia sehingga tidak ada lagi persahabatan sesungguhnya. Bahwa orang bersaudara saling curiga, bahwa pertengkaran berkecamuk antara suami istri. Mudah-mudahan ada hikmah bagi kemanusiaan, apabila orang beralih dari perang lidah dan perang pena kepada perang senjata.”

Erasmus memang memiliki peran yang dianggap sangat mewarnai gerakan reformasi di dunia Kristen, bila tidak boleh disebut sebagai perintis. Namun dalam banyak hal ia berseberangan prinsip dengan Martin Luther. Dalam pengantar terjemahan H.B. Jassin atas karya-karya Erasmus, J. Trapman menyatakan bahwa agaknya ada benarnya orang mengatakan bahwa Erasmus bertelor dan Luther mengeraminya. Pernyataan ini untuk menggambarkan ketika Luther dan pengikutnya dengan tidak mengindahkan tradisi yang sudah berabad-abad lamanya langsung mengambil Injil sebagai dasar dan kadang-kadang mempergunakan catatan Erasmus.

Dalam pandangan umum, gerakan reformasi dicetuskan oleh seorang biarawan Jerman, Martin Luther (1483-1546). Menurut Marvin Perry, dalam Western Civilization, A Brief History, Gereja Katolik Roma telah memperluas pengaruhnya ke dalam setiap aspek kemasyarakatan dan kebudayaan Eropa. Hasilnya, kata Perry, kekayaan yang sangat besar dan kekuasaannya tampak lebih menonjol daripada komitmennya untuk mencari kesucian di dunia ini dan keselamatan untuk masa yang akan datang.

Namun demikian, kata Trapman, Erasmus sangat menyayangkan bahwa kaum Lutheran dan pengikut-pengikut lain dari reformasi sebagian mempergunakan argumen-argumennya. Programa pembaharuannya adalah pemurnian, pembersihan apa yang ada, kembali kepada Kristendom yang sederhana pada permulaannya, tapi tanpa revolusi yang akan mengakibatkan perpecahan dalam Kristendom.

Erasmus juga memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan Luther tentang keselamatan. Keselamatan menurut Erasmus ditentukan oleh perbuatan baik, namun menurut pandangan Luther, keselamatan hanya berasal dari kasih karunia Tuhan. Sekali pun ia selalu mengritik institusi Gereja Katolik, namun Erasmus sampai akhir hayatnya masih tetap sebagai pemeluknya yang setia.

Erasmus juga mengingatkan tentang kejujuran yang harus ditempatkan pada posisi yang paling penting dalam relasi sosial. Dalam Pedadang Kuda nyaris tidak ada khotbah apa pun yang disampaikan oleh Erasmus. Dalam percakapan antara Aulus dan Phaedrus diceritakan tentang seorang pedagang kuda yang sangat curang. Cerita diawali dari Phaedrus yang merasa gelisah setelah pengakuan dosa. Ada satu hal yang tidak diakuinya, yakni ia menipu pedagang kuda yang sebelumnya telah menipunya. Phaedrus menyadarkan penipu dengan cara membalas menipunya pula. Erasmus ingin mengatakan bahwa perbuatan jahat akan dibalas dengan kejahatan, entah dalam waktu cepat atau lambat, dan melalui siapa balasan itu diterimanya.

Sebagai seorang mantan biarawan, mungkin ada yang bertanya bagaimana mungkin Desiderius Erasmus berbicara tentang perkawinan. Lebih-lebih yang ia katakan mewakili suara perempuan. Keraguan pembaca adalah pertama ia seorang laki-laki, dan kedua selama hidupnya tak pernah menikah. Referensi Erasmus jelas bukan pengalaman kehidupan pribadinya. Pertanyaan pembaca dijawab Trapman, Erasmus banyak membaca tentang kehidupan pernikahan dari para pengarang antik dan Kristen, serta pengamatannya terhadap kehidupan sekelilingnya.

Kisah kehidupan pernikahan yang dituturkan Erasmus barangkali lebih pada simbol pelayanan gereja, yakni hubungan antara Kristus dan gereja (umat Tuhan). Dalam kitab suci, hubungan antara Kristus dan gereja disimbolkan sebagai hubungan antara suami dan istrinya. Kristus adalah Sang Mempelai, begitu pula umat Tuhan disimbolkan sebagai gadis-gadis calon mempelai Kristus.

Dalam Perkawinan yang Tidak Bahagia Xantippe berkata “Ya, aku pun mendengar cerita itu. Tapi Petrus itu pun mengajarkan bahwa suami harus mencintai istrinya, seperti Kristus mencintai Gereja, mempelainya. Ia harus ingat kewajibannya, aku pun akan ingat kewajibanku.” Erasmus mengingatkan kembali untuk selalu siap dalam menyongsong kedatangan Sang Mempelai.

Potret Erasmus (Foto : Holbein).

Dalam tafsiran Alkitab Sabda (alkitab.sabda.org) perumpamaan mengenai sepuluh gadis yang ada dalam Matius 25 menekankan bahwa semua orang percaya harus senantiasa memerhatikan keadaan rohani mereka sendiri mengingat Kristus bisa datang pada saat yang tidak diketahui dan tidak diduga. Erasmus menekankan betapa pentingnya menjaga kekudusan dan memelihara perbuatan baik dalam menyongsong Sang Mempelai itu. Banyak penulis menggambarkan relasi itu dalam imajinasinya masing-masing. Dalam sastra Indonesia, misalnya, kita mendapati karya Rendra dalam sajaknya Nyanyian Angsa. Rendra menggambarkan perjumpaan Tuhan dan umatnya itu dalam sebuah adegan seksual antara tokoh Mempelai dan Maria Zaitun.

Perkawinan yang Tidak Bahagia berisi percakapan antara Xantippe dan Eulali tentang kisah perjalanan pernikahan mereka masing-masing. Eulali mewakili keluarga yang tak bahagia, sebaliknya Xantippe merepresentasikan keberhasilan seorang perempuan dalam menjalani kehidupan pernikahannya. Erasmus lebih banyak mengajak perempuan untuk instropeksi diri daripada menyalahkan suaminya atas ketidakbahagiaan pernikahan mereka.

Bila dibaca secara harfiah, maka banyak orang menilai bahwa Erasmus mengekalkan budaya patriarki. Teks-teks Alkitab memang ditulis oleh kaum laki-laki, dan penafsirannya pun cenderung menggunakan kacamata laki-laki pula. Padahal banyak ayat yang tampaknya sangat seksis dan misoginis sebenarnya merupakan teks yang membutuhkan penafsiran secara simbolis. Begitu pula tulisan-tulisan Erasmus. Dalam kisah ini Erasmus ingin mengatakan bahwa keselamatan diri sendiri sebenarnya adalah berkat upaya kita yang sungguh-sungguh untuk selalu melakukan darma bakti. Keselamatan bukanlah hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit.

Perhiasan perempuan yang telah kawin, kata Erasmus sebagaimana dituturkan lewat tokoh Xantipe, letaknya bukan pada pakaiannya atau hiasan lain dari tubuhnya, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Petrus, tapi pada tabiatnya yang tanpa noda dan salih dan pada sifat-sifat rohaninya yang baik. Xantippe berkata, “Itulah yang selalu kudengar dan diajarkan gereja. Perempuan jalang menghias dirinya untuk banyak orang. Kita cukup cantik kalau kita dapat menyenangkan seorang saja, suami yang baik.”

Terhadap perempuan yang merasa kehidupan pernikahannya tidak bahagia, Erasmus melukiskan bahwa salah satu sebab adalah karena kecerewetannya. Akibatnya, suaminya muak mendengarkannya dan menandinginya dengan suara lain, sebagaimana dikatakan oleh tokoh Eulali, “Seringkali ia mengambil gitar yang gawainya tinggal tiga dan untuk mencoba mengatasi suaraku dengan memetik gitar itu keras-keras.”

Akhirnya, terlepas Anda sebagai seorang istri atau seorang suami,  Erasmus mengajak kita untuk bersahabat dengan siapa pun, dengan memahami keragaman dan keunikan karakter masing-masing. “Orang yang mendekati gajah, tidak memakai jas putih, yang mendekati banteng, tidak memakai jas merah, karena dari pengalaman kita mengetahui bahwa warna-warna itu membikin marah binatang-binatang itu.”

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini