Sendi, Desa yang Hilang itu Telah Kembali

desa-sendi-desa-yang-hilang-itu-telah-kembali
Masyarakat Sendi menggelar upacara Kemerdekaan Indonesia. (Terakota/Fajar Ariffandhi)

Terakota.id–Kabut pagi meninggalkan kawasan hutan yang diapit Gunung Welirang dan Anjasmara. Kedua puncak gunung tampak menjulang, seekor burung Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis) terbang membelah langit bertengger di pepohonan rimbun di tengah hutan rimba. Puluhan orang berbaris rapi di sebuah tanah lapang Desa Sendi, Pacet, Mojokerto.

“Rahayu rahayu rahayu sagung dumadhi!,” Ki Demang menyapa dan dijawab serempak oleh ratusan orang, “rahayu.” Mereka tengah menggelar upacara Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2018. Desa Adat Sendi berada di batas terluar Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo. Bendera merah putih berkibar di atas sebuah tiang bambu setinggi 20 meter.

Ki Demang, dan laki-laki warga Desa Adat Sendi mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan udeng penutup kepala. Sedangkan kaum perempuan menggunakan pakaian adat berwarna kuning dan kain jarik batik melilit tubuh. Warga Sendi dan berbagai elemen masyarakat khidmat mengikuti prosesi upacara kemerdekaan. Ki Demang sebagai inspektur upacara dengan suara parau berpidato.

“Saya menyatakan sikap, bahwa hari ini, warga saya khususnya bapak ibu warga Sendi harus menyatakan sikap. Merperkuat kegotongroyongan kita, memperkuat sosial kita, memperkuat keadilan ke seluruh warga Desa Sendi. Mari menjalin persatuan dan kesatuan kita.”

Ki Demang menyampaikan, meski Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, tapi kemerdekaan itu sejatinya belum dirasakan semua pihak. Keadilan di negeri ini, menurut Ki Demang, belum memuncak pada keadilan yang sesungguhnya.

desa-sendi-desa-yang-hilang-itu-telah-kembali
Sejumlah musisi memeriahkan hajatan Rimba Terakhir yang diselenggarakan warga Sendi dan Walhi Jawa Timur. (Terakota/Fajar Arrifandhi).

Sampai kemerdekaan Indonesia ke 73 tahun sejatinya perjuangan belum usai, keadilan yang belum juga dapat dirasakan bersama. Ki Demang menambahkan, “di Negara kita keadilan belum jelas. Ada perusahaan megah di dalam negeri kita, di dalam desa kita, di dalam kota kita, tapi ternyata masyarakat semakin tertindas.”

Ia mengajak semua pihak turut memperjuangkan pengakuan Desa Adat Sendi ada sejak 1918 ini terus digaungkan. Ki Demang kembali mengingatkan masyarakat Sendi harus berjuang di segala sektor.  Warga Sendi harus bangkit dalam hal ilmu pengetahuan, bangkit membangun ekonomi, bangkit membangun infrastruktur.

Tidak ada alasan bagi negara untuk tidak mengizinkan Sendi sebagai Desa Adat karena bagaimanapun warga Sendi adalah warga negara Indonesia meliputi sejarah yang ada di dalamnya. “Merdeka! Merdeka! Merdeka!,” pekik Ki Demang mengakhiri pidato.

Pidato itu terngiang di telinga semua peserta upacara. Sebuah pesan dari sesepuh Desa Adat Sendi yang terus memperjuangan pengakuan Desa Adat Sendi. Lebih dari itu, perjuangan pelestarian kearifan lokal dan kelestarian alam yang menyatu dalam diri setiap warga Sendi.

Rimba Terakhir

Udara segar pegunungan, dan cuaca cerah. Usai upacara digelar pentas seni meramaikan rangkaian acara Rimba Terakhir. Rimba Terakhir bertajuk Sendi Bercerita merupakan serangkaian acara untuk mengabarkan sebuah Desa Adat bernama Sendi. Sebuah desa yang penduduknya menjunjung tinggi nilai kearifan lokal, hidup di rimba dan mengelolanya dengan cara adat istiadat yang diturunkan dari leluhur.

Berbagai pihak terlibat, didukung Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur sebagai penyelenggara utama. Teater Celoteh, Moena, Poharin,  Semeru Art Gallery, Pelangi Sastra Malang, Mblarak Sempal, Pacet, Omah Srawung.

Sebuah panggung apik berdiri, terbuat dari bambu. Musisi silih berganti memadukan musik dengan alam. Suar Marabahaya, Epsona, Pagi Tadi, Sisir Tanah, dan Iksan Skuter menjadi sederet musisi yang mencoba menyusupi bebunyian hutan dengan lagu-lagu mereka.

Sore, Rimba Terakhir semakin ramai. Orang berdatangan duduk bersila beralaskan rumput. Pagi Tadi band folk asal Malang, baru saja menyanyikan lagu yang identik dengan kepedulian lingkungan. Sementara anak-anak desa Sendi belajar menggambar dan mewarnai di atas pelepah batang bambu.

Usai para musisi menyuarakan isu lingkungan melalui musik,  Rimba Terakhir dilanjutkan sarasehan. Ratusan orang duduk bersimpuh, memasang telinga, dengan seksama mendengarkan cerita tentang Sendi. Ki Demang, Ferdinand dan Ridho Saiful dari WALHI Jawa Timur, Danto Sisir Tanah, Iksan Skuter, menjadi narasumber.

Ki Demang yang juga akrab disapa Mbah Toni menceritakan sejarah Desa Sendi. Masyarakat menetap sejak 1918, namun pada 1925, pemerintah kolonial Belanda mengusir masyarakat Sendi. Memaksa mereka turun dengan dalih lahan mereka telah dipertukarkan dengan uang gulden.

desa-sendi-desa-yang-hilang-itu-telah-kembali
Anak Desa Semdi belajar melukis dan mewarna di pelepah batang bambu. (Terakota/Fajar Arrifandhi).

Setelah merdeka, para sesepuh Sendi berjuang mengembalikan Desa Adat Sendi. Pada 2000, melalui Forum Perjuangan Rakyat (FPR), berhasil mendapat 265 hektare tanah dibagikan untuk 236 jiwa penduduk Sendi.

Mereka menolak penanaman 12 ribu bibit pohon mahoni dan sengon laut oleh Perum Perhutani. Masyarakat Sendi mencabut bibit tanaman meski harus berhadapan dengan pihak aparatur.

“Orang sendi merasa, kalau hutan tetep tebang tanam, siapa yang rugi? Yang dikhawatirkan Mojokerto-Surabaya. Khawatir sumber daya alam kita hilang, dan erosi (menyebabkan) banjir di Mojokerto dan Surabaya,” kata Ki Demang.

Hidup Selaras dengan Alam

Masyarakat Sendi memiliki pedoman hidup “manunggaling roso alam yang mengurat nadi dalam kehidupan Masyarakat Adat Sendi. Mengambil kayu di hutan, tidak boleh sembarangan. Warga yang akan menebang pohon untuk keperluan membangun rumah, harus izin terlebih kepada pamong praja. Kemudian digelar musyawarah jika mendapat izin, digelar ritual selametan untuk menghormati alam.

Ridho Saiful mengakui keistimewaan masyarakat Sendi yang mencintai alam. Dibuktikan dengan pemetaan lahan yang sempat dilakukan masyarakat Sendi. Mereka membagi lahan permukiman, dan lahan garap. Jika ditotal lahan yang digunakan seluruh warga Sendi yang diurut mulai empat generasi ke atas hanya menggunakan lahan 20 sampai 30 persen dari total lahan.

Sedangkan 70 persen tetap berupa hutan rimba. “Undang-undang tata ruang kita mensyaratkan, kawasan boleh disebut bagus kalau tersisa 30 persen. Justru 70 persen dieksploitasi. Di Sendi, terjadi sebaliknya,” kata Saiful.

Saiful mengajak melihat bukti kasat mata di sisi selatan Gunung Welirang. Turun dari Cangar menuju Kota Batu, perbukitan sudah hancur lebur. Hutan rimba rusak, berubah menjadi lahan pribadi, dikuasai individu yang minim pemahaman lingkungan.

Sebaliknya di sisi utara, dari Tahura R Soerjo, Sendi sampai Pacet, alam dan hutan masih bagus terjaga. Lantaran masih ada manusia yang mau menjaga alam, dan itu adalah masyarakat hukum Adat Sendi. “Masyarakat yang punya kearifan, tata nilai, yang punya pengakuan dan penghargaan terhadap jejak asal usul dan leluhurnya.”

Dengan semangat rimba terakhir, menjadi harapan bersama agar Negara segara mungkin mengakui Desa Adat Sendi, dengan segala kearifan yang ada di dalamnya. Sarasehan ditutup dengan puisi yang ditulis seniman Henri Nurcahyo.

Di sinilah Sendi, hilang yang telah kembali

Di sinilah Sendi tempat kami mengabdi

Di sinilah Sendi tempat kami berbakti

Di sinilah Sendi tempat kami berjanji

Mengembalikan Sendi untuk anak cucu kami

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini