Dermayu

Ilustrasi : capangan.desa.id

Oleh : Dody Widianto*

Terakota.id-Enam hari yang lalu tepat di mana cucu perempuannya menghilang. Acara ruwatan berokan (1) baru saja digelar, saat panen selesai dan ia mengulangi tahun angka kelahirannya. Ia baru saja bisa mengeja lafal “R” dan menghitung angka-angka. Dan ia merasa mimpi sebelumnya ada kaitan dengan ini semua. Di dalam mimpinya, di tepian embung Sidodadi, sambil menggendongnya, entah kenapa Dewi Sri (2) tiba-tiba datang di depannya lalu meminta pertanggungjawaban.

Masih sangat jelas ingatannya saat dulu, jika ia gagal panen, ia mengatakan tak akan pernah lagi mengulangi acara ruwatan yang turun-temurun itu. Semacam dendam pada buyut leluhur. Dan benar saja, ketika ratusan ribu wereng tiba-tiba datang tak diundang, menghanguskan areal padi dari ujung Anjatan hingga pinggiran Haurgeulis, ia hanya bisa mengingat-ngingat masa lalu.

Sebuah janji yang barangkali tak akan pernah bisa dilihat dan didengar siapa pun. Kecuali air dan angin yang mengantar mereka ke tepian embung.

Kini, hektaran sawah itu tak lagi menghijau. Sejatinya ia tahu jika pada Dewi Sri ia telah berjanji. Tak akan memberikan sepetak sawah pun pada para orang-orang rakus itu. Tapi, sejak kedatangan tamu bernama hama itu, entah kenapa ia jadi tak percaya lagi pada Dewi Sri.

“Sejak kau lahir, dunia cepat berubah. Bumi dan seisinya begitu cepat berubah warna. Dulu, sebelah rumah kita adalah hamparan hijau dan biru. Tempat angin bermukim sambil mengelus tengkuk bulir-bulir padi. Rumah bagi belalang, jangkrik, capung, dan kodok yang sering mendongengkan cerita padamu. Bahkan, salah satu dari capung itu pernah menggigit pusarmu.

Kau hobi ngompol dari dulu. Tapi, sejak perjanjian itu diputuskan, aku tak tahu lagi apa warna yang kulihat. Putih, kuning, biru, merah, ungu. Semua bercampur jadi satu bersama suara buldoser yang mengeruk lahan tanam kita. Dan sampai hari ini, kita hanya bisa diam saja. Tak ada yang lebih kuat dari melihat lembaran uang dibanding menyisakan cerita usang pada anak cucu mereka. Toh, beras sekarang bisa dibeli dari luar negeri. Apa yang harus kita takutkan?”

Dan kemarin, ketika buyutmu satu-satunya yang masih ngotot mempertahankan lahan miliknya, ratusan ribu wereng datang seperti tamu yang sengaja diundang. Binatang, layaknya manusia dan makhluk Tuhan lainnya, mereka butuh makan. Ketika mereka tak menemukan apa yang bisa dimakan, bukan tak mungkin suatu hari nanti mereka akan membalas dendam karena kelaparan. Buyutmu tak pernah menyalahkan alam, ia menyalahkan orang-orang yang dengan rakus menggilas area pertanian, demi hunian baru yang kata mereka lebih indah dengan deret lampu yang cantik dan danau besar di tengahnya.

Hari itu kau melihat beberapa orang berpakaian rapi, berkulit bersih, turun dari mobil hitam mengilat seakan tak pernah bisa tergores. Berjalan perlahan mendatangi rumah buyutmu. Kau masih terlalu kecil untuk melihat dan mengetahui apa yang terjadi. Dan sebuah lembaran map jika buyutmu harus menerima perjanjian atau lahannya dipaksa digusur dan tak akan pernah mendapat uang pengganti.

“Apa yang kalian lakukan hanya berdasar pada kerakusan. Dunia dan seisinya tak akan pernah mencukupi kebutuhan kalian. Suatu hari nanti kalian akan paham, uang tak bisa kalian makan.”

Ucapan buyutmu tak digubris. Ia dipaksa meletakkan jempolnya pada kotak tinta lalu menempelkannya di lembaran-lembaran kertas yang ia tak tahu apa bunyinya. Ia buta huruf. Dan dalam gendongan buyutmu, kau ingin berkata untuk tidak menuruti kemauan mereka, tapi nyawa buyutmu adalah segalanya.

Terbayang sudah jika nanti lahan tanam habis tak bersisa. Ia bisa saja menjadi buruh merawat perkebunan mangga milik tetangganya. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melakukan itu semua. Ia selalu menyuruh orang untuk melakukan tugas merawat lahan padi mereka. Membajak, menanam, menyiangi, hingga tiba masa panen dan ia akan membagi hasil sebagai ucapan terima kasih pada yang telah merawat sawahnya.

Dua anak laki-lakinya tinggal di ujung Kandanghaur pesisir laut utara. Ia bisa saja menawarkan diri sebagai buruh pemanen garam. Tapi jika teringat ia malah akan merepotkannya, ia urungkan niatnya. Mereka telah berkeluarga, beranak pinak, dan tentu urusan dapur mereka tak sepatutnya diganggu. Hanya satu cucu perempuannya yang begitu ia sayang. Memintanya untuk dirawat bersama istrinya sebagai pengobat kesepian.

“Menurutmu untuk apa uang itu?”

Istrinya juga bingung. Jujur saja mereka belum pernah melihat uang dalam ikatan yang begitu banyak lalu dimasukkan dalam map. Aroma uang kertas baru yang belum sekali pun pernah mereka endus. Melihatnya saja sudah ngeri. Apalagi berandai-andai uang itu untuk apa. Dibelikan rumah, dibelikan beras, dibelikan mainan yang lucu-lucu untuk cucu mereka. Atau untuk membuka usaha yang sampai kapan pun ia juga masih bingung untuk memikirkannya. Ia paham, kata anaknya, sekarang sedang ada wabah yang mengancam. Melumpuhkan sendi perekonomian.

Ia tak paham dan susah melafalkan nama wabah itu. Tapi yang pasti, sejak petaka itu menyerang, ini semacam keuntungan besar bagi masyarakat atau orang-orang dengan uang dan modal besar. Kesempatan untuk membeli rumah, tanah, warung, kendaraan, emas, dan sebagainya dengan harga murah ketika perekonomian mereka terpuruk dan butuh uang untuk makan.

“Apa ini peringatan Dewi Sri? Sudah lama aku tidak mengadakan berokan setelah wereng dua belas tahun lalu menyerang. Suatu hari nanti anak cucu kita tak akan tahu apa itu berokan. Aku hanya ingin selalu berterima kasih pada alam yang telah memberi segalanya. Juga berharap agar Dewi Sri membuat wabah ini segera pergi. Perlahan aku luluh. Benar aku telah berlaku salah.”

“Wabah ini lebih mengerikan dari wereng dan walang sangit. Alam juga bisa marah pada manusia. Sejatinya aku tak setuju kamu jual sawah-sawahmu itu. Tapi mau bagaimana lagi. Sebagai perempuan aku harus menurut apa kemauan suami jika itu dalam jalan kebenaran dan keselamatanmu.”

“Aku tidak berniat menjual. Bukankah pada Dewi Sri kita telah berjanji. Entahlah, aku tak kuasa pada orang-orang itu kemarin. Semacam ada kekuatan lain hingga aku menyetujuinya. Tapi, aku benar-benar takut jika Dewi Sri akan murka. Jika upacara berokan nanti digelar dan hama-hama itu tak pernah lagi menyerang, selamanya aku akan melakukannya. Juga mempertahankan semua sawah yang kupunya. Aku benar-benar takut jika Dewi Sri murka.”

Sore itu, sambil memangku Dermayu, cucunya, ia membunyikan terompet yang ia buat dari batang pohon padi. Dermayu tertawa. Tak ada yang lebih indah dari melihat senyum paling manis di pinggiran pematang sawah tepat di samping rumahnya. Tapi, lagi-lagi ia tak suka dengan suara buldoser di kejauhan sana yang mengganggunya. Ketika angin membawa berita bahwa daerah situ akan segera dibuka kawasan perumahan elit bernuansa Eropa.

Dadanya mendadak panas. Ia benar-benar tak ingin kehilangan sawah-sawahnya. Lagi-lagi, ia teringat janji pada Dewi Sri, tak akan memberikan sepetak sawah pun kepada siapa pun. Ia tahu, hanya dengan itu anak cucunya masih bisa terus hidup sampai sekarang.

Pelupuk matanya mendadak berair. Dari kejauhan, benda-benda dengan roda besar itu berusaha meratakan apa yang ada di depannya. Menggilas sisa-sisa pematang sawah, rumput, ilalang, bahkan mungkin menggilas kodok yang sedang bercinta.

Bukan tak mungkin, beberapa saat lagi, buldoser-buldoser itu juga akan segera merapat ke lahan miliknya. Entah kenapa ia seakan tak rela. Ia mengelap butir bening yang tiba-tiba keluar dari ujung mata. Ia ciumi ubun-ubun Dermayu. Tiba-tiba ia ingat pada sebuah janji. Sesuatu yang telah lama ia lupakan hanya karena dendam saat area sawahnya diserang hama. Tapi hari ini ia malah bertambah yakin apa yang akan dilakukannya besok.

Pagi itu acara berokan kembali digelar tepat di halaman rumahnya. Diiringi rapalan mantra, di antara senandung kidung tetalu (3), tetabuhan kendang, dan suara plak-plok serta riuh anak-anak di sekitar. Lalu dua gelas air dan dua baskom beras tersaji di dekatnya. Sejujurnya Dermayu ketakutan ketika melihat topeng yang berambut ijuk, berpakaian karung, menari-nari persis di depan rumahnya. Mirip buaya yang ingin memangsa anak-anak. Tak banyak yang bisa Dermayu lakukan kecuali menyelipkan wajah ke ketiak buyut walau tak menangis.

Hari itu ia merasa telah menepati janjinya. Tidak akan menjual sepetak sawah pun miliknya. Berusaha mengembalikan uang yang ia terima kemarin, apa pun risikonya. Ia paham, keputusan ini dibuat karena ia selalu bermimpi tentang seorang wanita cantik yang selalu mengganggu tidurnya. Seorang perempuan dalam mimpi yang akan terus membantunya untuk mempertahankan lahan tanam miliknya. Sayang, ia tak pernah tahu, kerepotan ekonomi telah mengancam kehidupan salah satu anaknya.

 ***

Dermayu menghilang. Entah bagaimana cerita bocah yang baru bisa berjalan itu lenyap dari kamarnya. Warga berusaha mencarinya. Namun, hingga petang menjelang tak satu pun dari mereka mendapatkannya. Perlahan ia ingat mimpi-mimpi yang terus menghantuinya. Seorang perempuan cantik yang selalu menggantung dalam kepala.

Ia terbangun ketika suara gemuruh dan teriakan orang-orang dari kejauhan mengabarkan petaka. Dermayu terlindas buldoser. Ia bahkan tak sanggup berlari hanya untuk melihat kondisi saat ini. Pandangannya kabur, matanya sembab, tubuhnya layu. Dan bersama suara gemuruh buldoser di kejauhan, ia ambil map dalam lemari, dengan tangan gemetar dan matanya berlelehan, ia remas-remas map tadi, melihat wajah Dermayu yang hancur bersamanya.

Pikirannya kalut. Tubuh rentanya seakan tak mampu menerima ini semua. Usaha mempertahankan lahan miliknya dan acara berokan yang ia persembahkan untuk Dewi Sri seakan sia-sia. Tulangnya serasa dilolosi satu per satu. Dalam pandangan yang meremang itu, ia hanya bisa bergumam pelan dalam penyesalan dan kebingungan.

“Jika kau memang dewi pelindung bumi, kenapa kau ambil cucuku? Begitu besarkah dosa-dosa kami pada alam?”

***

Seminggu yang lalu, salah satu anak laki-lakinya terlilit hutang dan kebingungan untuk melunasi. Ditambah ia yang hobi berjudi, bisa dipastikan istrinya pun saat ini pasti dalam kondisi tergadai. Wabah virus ini memang mengajarkan banyak hal, termasuk menguji batas kesabaran. Sayang, anak laki-lakinya bersekongkol, melakukan ritual, dan atas nama pemujaan, perempuan dalam mimpi yang menyamar sebagai Dewi Sri benar-benar datang meminta pertanggungjawaban …

 Jawa Kulon, 2020

Keterangan:

(1) berokan: merupakan kedok/topeng yang dibuat dari kayu dengan mata merah menyala, mulutnya bisa digerakkan (buka-tutup), dimainkan oleh orang di dalamnya mirip barongsai, tubuhnya dari karung dan ijuk, ekornya dari kayu, dimainkan saat acara ruwatan atau selamatan setelah panen padi di daerah Indramayu, Jawa Barat.

(2) Dewi Sri: ibu kehidupan atau Dewi Kesuburan yang erat kaitannya dengan mitos petani di tanah Jawa

(3) tetalu: lagu pengiring untuk acara berokan

 

Penulis lahir di Surabaya. Bekerja dan menetap di Bekasi, Jawa Barat. Sangat suka sayur kentang dan hobi fotografi. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional seperti Medan Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Tanjung Pinang Pos, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini